
Entah mengapa melihat senyuman Ken saat ini membuat detak jantung Leta berdegup kencang, bahkan wajahnya terlihat sedikit memerah.
"Astaga... Ada apa dengan jantungku? Kenapa jadi deg-degan seperti ini?" Batin Leta sembari berusaha untuk menormalkan detak jantungnya itu.
Ken yang sedari tadi menatap Leta pun kembali tersenyum, apalagi ketika ia melihat Leta yang memerah itu.
"Ada apa dengan wajahmu, sayang? Apakah kamu tiba-tiba demam?" Tanya seraya mengulurkan tangan kanannya dan menempelkannya di kening Leta.
Seketika Leta menepis tangan Ken dari keningnya, wajahnya yang terlihat gugup sontak saja membuat Ken gemas.
"Aku tidak apa-apa, dan aku tidak demam." Sahut Leta gugup.
"Benarkah? Tapi, kenapa wajahmu memerah?" Tanya Ken tanpa melepaskan senyuman yang tersungging dari sudut bibirnya itu.
"Mana mungkin wajahku memerah, kamu,,, kamu salah lihat." Sahut Leta sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sepertinya mataku belum rabun sayang." Ken menjeda ucapannya, ia menatap Leta semakin lekat membuat gadis itu semakin salah tingkah.
"Dan wajahmu benar-benar memerah. Apakah kamu sedang malu?" Tanya Ken setelah diam sejenak.
"Untuk apa aku malu, aku tidak mencuri apapun." Ucap Leta mulai kesal.
"Tapi, kamu sudah mencuri hatiku sayang. Dan kamu harus bertanggung jawab." Sahut Ken membuat Leta menatapnya tidak mengerti.
"Apa yang kamu bicarakan, Ken. Aku sama sekali tidak mencuri hatimu, jadi jangan asal menuduh!" Seru Leta yang tidak mengerti dengan arti yang di maksud oleh Ken barusan.
"Astaga... Kenapa dia bodoh sekali, kenapa dia tidak mengerti maksudku? Apakah dia sedang berpura-pura dan sengaja ingin memancingku? Atau memang dia bodoh beneran? Ah sudahlah sebaiknya aku makan saja." Batin Ken tanpa mau menjawab ucapan Leta barusan.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu mendadak bisu?" Tanya Leta dengan intonasi yang tinggi membuat Ken terkejut.
"Astaga, sayang. Kalau kamu mau berteriak, bisa tidak bilang sama aku dulu, biar aku tidak terkejut mendengar teriakanmu itu." Protes Ken sembari menatap Leta sedikit kesal karena sudah membuatnya terkejut dan hampir saja tersedak makanannya.
"Maaf, lagian kamu malah diam saja seperti orang bodoh." Sahut Leta tanpa dosa.
"Kamu yang bodoh, apa yang aku omongin saja kamu tidak mengerti. Dasar gadis bodoh!" Seru Ken membuat Leta langsung menatapnya dengan kesal.
"Kamu tuh yang bodoh! Dasar tidak mau kalah." Ucap Leta kesal. Setelah itu Leta pun mulai memakan makanannya, entah kenapa ketika ia kesal, perutnya terasa lapar, bahkan ia tidak perduli dengan tatapan Ken saat ini.
"Dasar gadis bodoh! Tadi saja bilang sudah makan dan gak mau makan, tapi sekarang malah lahap begitu. Tapi, kenapa dia terlihat sangat menggemaskan sekali." Batin Ken terus menatap Leta yang terlihat sangat lahap menyantap makanannya.
"Ah sudahlah, sebaiknya aku juga makan, daripada aku pingsan karena keleparan. Itu sangat tidak lucu sama sekali." Ken kembali membatin seraya menyendok makanannya, lalu mulai memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Kini keduanya mulai menyantap makanannya tanpa bersuara sedikitpun.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun sudah selesai dengan ritual makan siang yang berubah menjadi makan sore. Leta segera merapikan piring-piringi itu membuat Ken langsung bersuara.
"Kamu mau ngapain, sayang?" Tanya Ken mencegah tangan pujaan hatinya itu.
"Sudahlah, jangan bereskan lagi. Nanti aku akan memanggil Ofice girls untuk membereskannya, mengerti." Ucap Ken dengan nada suaranya yang lembut.
"Tidak apa-apa, Ken. Aku bisa membereskannya sendiri, jadi ofice girls mu nanti tinggal membawanya saja." Sahut Leta kekeh dengan pendiriannya yang ingin membereskan piring bekas makannya itu.
"Sayang, kalau aku bilang kamu tidak boleh membereskannya, kamu harus menurut, ok. Jangan kerasa kepala lagi." Ucap Ken sambil memberikan tatapan matanya yang tajam kepada Leta, agar gadis itu mau mendengar ucapannya.
Leta menghela nafasnya kasar, ia pun menatap Ken dengan kesal. "Yasudah terserah kamu saja." Sahut Leta membuat Ken tersenyum senang. Lalu setelah itu ia pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju meja kerjanya. Ken langsung mengambil gagang telpon yang berada di atas meja kerjanya, kemudia ia pun langsung menghubungi sekertarisnya, Ana.
"Selamat sore pak Ken, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ana dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Ya, panggilkan ofice girls dan suruh dia datang ke ruanganku sekarang juga." Perintah Ken datar.
"Baik pak Ken. Saya segera memanggilkan ofice girl untuk anda. Ada lagi pak?"
"Tidak ada, dan jangan pake lama." Ucap Ken masih dengan nada suaranya yang datar. Setelah itu Ken pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, kemudian ia kembali berjalan menghampiri Leta dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya.
"Sayang, kamu istirahat dulu di sini sebentar ya, nanti kamu ikut denganku, ok." Ucap Ken seraya menatap pujaan hatinya itu dalam.
"Kemana lagi kamu akan membawaku, Ken? Jangan bilang kamau akan membawaku ke kediamanmu lagi."
"Kamu sangat pintar menebak, sayang. Jadi, aku tidak perlu memberitahumu lagi." Sahut Ken kembali memperlihatkan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
"Ckkk... Aku tidak mau ikut denganmu, Ken. Bukankah kemarin aku sudah menginap di kediamanmu? kenapa sekarang kamu mau membawaku ke kediamanmu lagi?" Ucap Leta terlihat kesal.
"Karena aku ingin kamu menginap lagi di kediamanku, sayang. Dan aku tidak menerima penolakkanmu. Mengerti." Tukas Ken dengan tegas.
"Please, Ken. Kali ini saja kamu jangan memaksaku." Mohon Leta sambil menatap Ken dengan wajahnya penuh harap membuat Ken tidak bisa menolaknya.
Ken segera mendekati Leta, tangannya terulur mengusap lembut pucuk kepala Leta. "Baiklah kali ini aku tidak akan memaksamu. Tapi, tidak ada lain kali, ok." Ucap Ken mengalah.
"Terima kasih Ken." Tutur Leta sambil memperlihatkan senyuman tulusnya membuat detak jantung Ken semakin tidak aman.
"Kenapa tidak setiap kali kita bertemu kamu memberikan senyuman itu kepadaku, sayang." Ucap Ken membuat Leta langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ah kenapa juga ia merasa salah tingkah seperti itu, padahal Ken hanya mengatakan hal biasa saja. Sungguh aneh.
"Yasudah, kamu istirahat dulu di sini, nanti aku akan mengantarmu pulang, ok." Sambung Ken kembali mengusap pucuk kepala sang pujaan hatinya itu.
"Emm ok. Kalau begitu kamu cepatlah selesaikan pekerjaanmu." Sahut Leta kembali memperlihatkan senyuman di wajah cantiknya itu.
__ADS_1
Ken menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pun kembali berjalan menuju kursi kebesarannya. Ken mulai melakukan pekerjaannya, sementara Leta, ia berjalan menuju jendela dan berdiri di sana melihat pemandangan ibukota yang cukup padat itu.
Bersambung.