
Setelah beberapa menit, tiba-tiba saja pintu ruangan Ken pun di ketuk oleh seseorang.
Tok... Tok.. Tok...
"Masuk." Perintah Ken tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.
Seseorang yang mengetuk pintu pun segera masuk, orang itu tak lain adalah Ana, sekertaris Ken. Ana berjalan dengan senyuman yang mengembang dari sudut bibirnya, tatapan matanya tak lepas dari wajah tampan Ken yang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Permisi, pak aken. Sepertinya Ofice girls sedang pada sibuk semua. Jadi, saya yang datang ke ruangan anda. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Ana sengaja berbohong. Padahal ia sama sekali tidak memberitahu para ofice girls itu.
"Yasudah kalau begitu. Kamu bereskan piring-piring yang ada di atas meja itu." Perintah Ken seraya menunjuk bekas makan sorenya bersama Leta.
"Baiklah, kalau begitu saya akan segera membereskannya." Sahut Ana tanpa melepaskan senyuman di wajahnya. Setelah itu Ana pun langsung berjalan menuju meja untuk membereskan piring-piring bekas makan bosnya tersebut.
"Hmm kenapa piringnya ada dua pasang? Apakah Ken makan bersama orang lain?" Ana bertanya-tanya dalam hatinya, tatapan matanya kini mulai menelisik setiap sudut ruangan bosnya mencari tahu apakah di dalam ruangan masih ada orang lain atau tidak, dan seketika tatapan Ana tertuju pada Leta yang sedang berdiri di dekat jendela. Senyuman di wajah Ana seketika menghilang di gantikan oleh kekesalan dan juga amarah dalam dirinya.
"Sialan! Siapa gadis itu? Kenapa dia ada di ruangan pak Ken? Apakah gadis itu kekasih pak Ken? Ah tidak mungkin. Lihat saja penampilannya yang kampungan itu sepertinya dia tidak mungkin kekasihnya pak Ken. Lalu, siapa dia sebenarnya?" Ana bertanya-tanya dalam hatinya sembari menatap Leta dengan sinis.
Leta yang merasa ada yang memperhatikannya pun seketika berbalik, dan pandangannya matanya langsung bertemu dengan tatapan mata Ana. Leta langsung memberikan senyumannya yang manis itu kepada Ana. Namun, Ana sama sekali tidak membalasnya, Ana malah memperlihatkan wajahnya yang angkuh dan juga tatapan matanya yang seolah-olah sedang mengejek Leta.
"Sialan! Kenapa gadis itu lagi. Apakah dia benar-benar kekasihnya pak Ken." Batin Ana dengan tangan terkepal kuat.
Leta yang melihat tatapan mata Ana pun bingung, perasaan ia tidak pernah memiliki masalah dengan Ana, lalu mengapa Ana menatapnya seperti itu?
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak menyukaiku, apakah aku sudah menyinggungnya? Kenapa tatapan matanya seperti itu? Dan sepertinya dia bukan ofice girls di perusahaan ini, dari penampilannya yang seksi seperti itu, sepertinya dia sekertarisnya Ken. Cantik, tapi terlihat sangat sombong." Batin Leta tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Ana.
Setelah lama terdiam di tempatnya, akhirnya Leta pun berjalan menghampiri Ana. "Maaf sudah merepotkanmu." Ucap Leta ramah. Tak lupa dengan senyumannya yang selalu menghiasi wajah cantiknya itu.
"Tidak apa-apa, karena saya sekertarisnya pak Ken, jadi sudah sewajarnya saya yang membereskan bekas makan kalian. Jadi, kamu tidak perlu minta maaf seperti itu." Sahut Ana ketus. Leta hanya tersenyum menanggapi ucapan sekertaris calon suaminya tersebut, dan Leta sangat sadar jika sekertaris calon suaminya itu tidak menyukainya. Bahkan sangat terlihat jelas dari wajah yang di tunjukkan oleh Ana kepada Leta saat ini.
Leta tidak mau ambil pusing dengan sikap yang di tunjukkan Ana kepada dirinya saat ini, toh ia juga tidak perduli, mau Ana menyukainya atau tidak, itu sama sekali tidak merugikan Leta, bukan.
"Sebaiknya aku tidur dulu saja sebentar, sepertinya mataku butuh istirahat." Batin Leta seraya berjalan menuju sofa, lalu duduk.
Perlahan Leta pun melepaskan sneakersnya, lalu mengangkat kakinya untuk berselonjor di atas kursi sofa itu. Leta mulai memejamkan kedua bola matanya dengan perlahan, rasa ia benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya saat ini. Namun, baru saja Leta menutup kedua bola matanya, ia langsung di kejutkan oleh suara piring yang terjatuh di dekatnya dan seketika membuat Leta kembali membuka kedua bola matanya itu.
"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan piringnya." Ucap Ana sambil memperlihatkan aktingnya yang cukup bagus. Itu. Karena pada kenyataannya Ana memang sengaja menjatuhkan piring itu, karena ia tidak suka Leta tidur di ruangan bosnya tersebut.
"Aku tahu kamu itu pasti sengaja bukan, kamu pikir aku bodoh!" Batin Leta dengan tatapan matanya yang berubah menjadi tajam.
"Kamu pikir aku tidak tahu, kalau kamu itu hanya pura-pura tidur di sini, kamu sengaja ingin menggoda pak Ken bukan. Dasar perempuan murahan." Batin Ana sambil memperlihatkan senyuman liciknya.
Ken yang yang mendengar suara pecahan piring itu pun langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, kemudian ia berjalan menghampiri Leta dan juga Ana.
"Ada apa ini?" Tanya Ken sambil menatap Ana dengan tajam.
"Ah maafkan saya pak Ken, saya tidak sengaja menjatuhkan piringnya ke lantai." Ucap Ana kembali mulai berakting.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa berhati-hati lagi hah! Cepat bereskan, jangan sampai mengenai calon istirku, mengerti." Perintah Ken dengan nada suranya yang dingin dan juga tatapan matanya yang tajam membuat Ana tidak berani untuk menatap dirinya.
"Apa, calon istri? Apa gue tidak salah dengar? Tidak,,,, tidak mungkin dia calon istri pak Ken, gue pasti salah dengar. Bagaimana mungkin pak Ken tertarik sama perempuan murahan itu?" Batin Ana terlihat sangat terkejut ketika mendengar bosnya itu berkata bahwa Leta adalah calon istrinya.
"Apa saya tidak salah dengar, pak. Dia,,, dia calon istri anda?" Ana bertanya sambil menatap ke arah Leta sekilas.
"Ya! Dia adalah calon istriku. Jadi kamu harus menghormatinya sama seperti kamu menghormatiku, mengerti." Ucap Ken dengan tegas.
"Baik, pak. Saya mengerti." Sahut Ana sambil memperlihatkan senyuman palsunya untuk menutupi amarah di dalam hatinya.
"Cepatlah, bereskan pecahan itu." Perintah Ken sembari menunjuk pecahan piring yang berantakan di atas lantai.
"Baik pak Ken. Saya akan segera bereskan." Sahut Ana dengan cepat. Setelah itu Ana pun langsung bergegas untuk mengambil sapu dan juga tempat untuk membuang pecahan piring tersebut.
"Sayang, kamu diam di situ ya, jangan kemana-mana nanti kakimu menginjak pecahan piring itu, ok." Ucap Ken kepada Leta dengan nada suaranya yang kembali berubhah menjadi halus dan lembut.
"Kamu tenang saja, Ken. Aku tidak akan kemana-mana, lagian aku sangat mengantuk, aku ingin tidur sebentar." Sahut Leta membuat Ken tersenyum senang.
"Yasudah kamu tidur saja, nanti setelah pekerjaanku selesai, aku akan membangunkanmu." Ucap Ken tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang tampan itu.
Leta hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pun mulai memejamkan kedua bola matanya kembali, sementara Ken, ia kembali ke kursi kebesarannya.
Bersambung.
__ADS_1