Cinta Sejati Sang CEO

Cinta Sejati Sang CEO
Mencari kesempatan dalam kesempitan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Seth pun menggelengkan kepalanya.


"Ternyata anda jauh lebih kejam bos." Batin Seth di iringi dengan helaan nafasnya.


"Sudahlah jangan di bahas lagi, kasihan asistenmu, Ken." Ucap Leta sekilas melirik ke arah Seth.


"Ckkk... Aku saja tidak pernah kamu kasihani, kenapa asistenmu kamu kasihani. Sangat menyebalkan." Gerutu Ken terlihat kesal.


"Memangnya apa yang perlu aku kasihani kamu? Tidak ada kan?" Ucap Leta seraya menatap Ken yang masih menampilkan tampangnya yang kesal itu.


"Sudahlah tidak perlu di bahas lagi." Tutur Ken di iringi dengan helaan nafasnya.


"Dasar aneh, nyebelin!" Gerutu Leta namun masih bisa di dengar oleh Ken.


"Aku masih bisa mendengarnya, sayang." Ucap Ken sembari mencubit gemas hidung mancung Leta.


"Aaaaw... Ish ngapain pencet hidungku sih, sakit tahu." Omel Leta sembari memukul pelan dada bidang Ken.


"Berlebihan, aku pencetnya juga penuh kasih sayang. Tidak mungkin sakit, sayang." Ucap Ken kembali memencet hidung mancung Leta membuat gadis itu mendengus kesal.


"Ken!!! Jangan bikin aku tambah kesel ya!" Seru Leta seraya menatap Ken dengan sorot matanya yang tajam.


Ken terkekeh pelan, bukannya mendengarkan ucapan calon istrinya itu, ia justru semakin ingin menggodanya kembali.


"Kamu sangat menggemaskan kalau lagi kesel." Ucap Ken kembali mendaratkan tangannya di hidung mancung Leta.


"Dasar gila." Gerutu Leta sembari menepis tangan Ken dengan kasar.

__ADS_1


"Iya, aku memang gila, tapi gila karenamu, baby." Bisik Ken yang entah sejak kapan ia sudah merapatkan duduknya dengan Leta.


"Ish menjauhlah dariku. Aku tidak nyaman." Ucap Leta seraya mendorong tubuh Ken agar menjauh dari dirinya.


"Tapi aku merasa nyaman seperti ini, sayang." Bisik Ken tidak bergerak sedikitpun. Tatapan matanya yang dalam mampu membuat detak jantung Leta berdegup dengan sangat kencang.


"Astaga... Kenapa jantungku jadi berdegup kencang seperti ini? Tenang Leta, normalkan detak jantungmu jangan sampai dia mengetahuinya." Batin Leta tetap mempertahankan raut wajahnya seperti sebelumnya.


"Sayang, kenapa kamu malah diam saja? Apakah kamu mulai merasa nyaman duduk berdekatan denganku?" Tanya Ken membuyarkan lamunan Leta saat ini.


"Tidak sama sekali. Jadi, sebaiknya kamu menjauh dariku." Sahut Leta seraya memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil itu.


"Kamu pasti berbohong bukan?" Ucap Ken sembari menangkup wajah cantik Leta.


"Tidak, untuk apa aku berbohong, tidak ada gunanya bagiku." Sahut Leta namun tidak berani menatap kedua bola mata calon suaminya tersebut.


"Coba kamu katakan itu sambil menatap mataku, sayang." Pinta Ken seraya meraih dagu Leta agar gadis itu menatap kedua bola matanya.


Kini keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, tatapan mata Ken yang dalam membuat jantung Leta kembali berdegup kencang. Bahkan Leta tidak sadar jika jarak wajahnya dengan wajah calon suaminya saat ini sudah begitu dekat. Ken tersenyum tipis, ini adalah kesempatan baik untuk mengambil ciuman di bibir mungil calon istrinya tersebut.


Perlahan tapi pasti tanpa di sadari oleh Leta, bibir Ken kini sudah mendarat sempurna di bibir manis milik Leta. Leta hanya diam mematung dengan kedua bola mata membulat sempurna.


Melihat ekspresi wajah Leta, tentu saja membuat Ken tersenyum penuh kemenangan. Ken berniat untuk ******* bibir mungil itu dengan lembut, namun sayangnya niatnya tidak terwujud, karena kesadaran Leta sudah kembali penuh dan langsung mendorong tubuh Ken dengan sekuat tenaganya.


"Kamu!!! Dasar mesum mencari kesempitan dalam kesempatan." Teriak Leta sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


Ken yang awalnya kesal karena tiba-tiba saja Leta mendorong dan menggagalkan niatnya itupun seketika tertawa terbahak-bahak, begitupun juga dengan Seth ikut tertawa membuat Leta bingung.

__ADS_1


"Ada apa dengan dia? Bukankah setiap kali aku berteriak dia pasti akan selalu kesal? Tapi, kenapa sekarang dia terlihat begitu senang, bahkan sampai tertawa seperti itu. Apakah aku mengucapkan kata yang salah?" Batin Leta sembari menatap Ken bingung. Ia masih tidak menyadari jika ucapan yang ia lontarkan terbalik.


"Kamu sangat lucu sekali, sayang." Ucap Ken masih di iringi dengan tawanya. "Setya, apa kamu mendengarnya tadi?" Tanya Ken kepada asistennya itu.


"Tentu saja saya mendengarnya, bos." Sahut Seth menghentikan tawanya.


"Kamu dengar itu, sayang. Bahkan Seth pun mendengarnya." Ucap Ken tanpa memperdulikan raut wajah Leta yang kebingungan itu.


"Apakah sudah puas! Dasar aneh!" Seru Leta kesal.


"Apa kamu masih tidak menyadari dengan apa yang kamu ucapkan tadi?" Tanya Ken seraya menatap Leta dan berhenti tertawa.


"Memangnya ada apa dengan ucapanku tadi? Apakah ada yang aneh?" Leta berbalik nanya sambil membalas tatapan mata Ken.


"Astaga, sayang kamu sungguh tidak menyadarinya?" Ucap Ken sembari mengusap wajahnya. "Seth, coba katakan apa yang kamu dengar tadi." Perintah Ken sambil menatap Seth melalui kaca spion mobilnya.


"Ehmm ehmm.. (Kamu... Kamu mencari kesempitan dalam kesempatan) begitu bos." Ucap Seth menirukan ucapan Leta tadi.


"Kamu dengar itu sayang." Ucap Ken kepada Leta dengan nada suaranya yang lembut.


"Hah! Tidak mungkin, kalian berdua pasti salah dengar." Sahut Leta dengan wajah yang mulai memerah menahan rasa malunya.


"Telingaku masih normal, sayang. Dan kamu berkata seperti itu sambil berteriak. Tidak mungkin aku dan Seth salah dengar." Ucap Ken tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Leta.


"Ya,,,, Ya bisa saja kan kalian salah dengar." Sahut Leta tanpa membalas tatapan mata yang di berikan oleh calon suaminya tersebut.


"Dasar gadis bodoh. Kamu sungguh sangat menggemaskan." Ucap Ken seraya mengusap pucuk kepala Leta.

__ADS_1


Setelah itu keduanya pun tidak ada lagi yang bersuara, Leta yang merasa sangat malu memilih untuk menatap luar jendela, sementara Ken, ia masih saja menatap Leta dengan pikirannya yang mulai berkelana entah kemana.


Bersambung.


__ADS_2