
Beberapa menit kemudian.
Leta dan juga Ken pun sudah menyelesaikan makan siangnya. Ken menatap Leta, lalu ia tersenyum seraya mengusap lembut pucuk kepala Leta. "Aku akan melanjutkan pekerjaanku duku, ya. Kamu duduk yang manis di sini, jangan membereskan bekas makanan itu karena aku akan memanggil office girls untuk membereskannya, mengerti." Ucap Ken lembut namun tegas.
"Hmm iya aku mengerti, yaudah sana kamu kembali kerja." Usir Leta sedikit mendorong tubuh Ken membuat laki-laki itu sedikit kesal.
"Jangan mendorongku seperti itu, nanti aku cium... "
"Ish mesum, nyebelin." Seru Leta menyela ucapan calon suaminya tersebut. Ken hanya terkekeh pelan, lalu setelah itu ia pun mulai beranjak dari atas sofa itu dan berjalan menuju kursi kebesarannya. Sementara Leta, ia nampak menghela nafasnya panjang, sambil menatap Ken dengan kesal.
"Sayang, kalau kamu merasa bosan, kamu bisa berkeliling di perusahaanku, dan aku akan memanggil karyawanku untuk menemanimu." Ucap Ken ketika ia sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Tidak usah, Ken. Aku tidak mau merepotkan karyawanmu, lagian kamu tahu sendiri keadaan kakiku seperti apa sekarang, daripada aku berkeliling dengan kaki pincang, lebih baik aku duduk saja di sini." Sahut Leta seraya melirik sekilas ke arah kakinya yang terluka.
"Oh iya, aku lupa kalau sebelah telapak kakimu sedang terluka. Yasudah kamu istirahat saja di situ, jangan kemana-mana. Tapi, mungkin kamu harus bersabar menungguku, karena pekerjaanku masih banyak." Ucap Ken sambil memperlihatkan senyumannya yang manis itu.
"Hmm kalau begitu kenapa kamu tidak meminta asisten mu untuk mengantarku kembali ke tempat kerjaku atau mengantarku pulang saja." Tukas Leta dengan tatapan mata yang tak beralih dari wajah tampan calon suaminya tersebut.
__ADS_1
"Tidak, sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat kerjamu lagi, dan aku sudah bilang kalau kamu itu harus berhenti dari pekerjaanmu. Apakah kamu tidak mengerti juga." Ucap dengan tegas. Ken kemudian beranjak kembali dari kursi kebesarannya, lalu setelah itu ia pun berjalan mendekati Leta.
"Ya, aku mengerti. Tapi, aku tidak bisa berhenti dari sana, Ken. Please! Hargai keputusanku, aku janji, aku tidak akan dekat-dekat dengan siapapun termasuk managerku sendiri. Kamu harus percaya sama aku, Ken." Mohon Leta seraya menatap Ken dengan wajahnya yang memelas, berharap laki-laki itu mau mendengarkan ucapannya barusan.
"Aku percaya sama kamu, sayang. Tapi lebih percaya lagi jika kamu mau mendengarkan aku, dan menuruti ucapanku. Jika aku bilang kamu harus berhenti, itu artinya kamu harus berhenti dari pekerjaanmu. Mengerti, sayang." Ucap Ken sambil menatap intens kedua bola mata calon istrinya tersebut.
"Kamu!!! Kenapa begitu sangat menyebalkan." Omel Leta sambil menatap Ken dengan kesal. Percuma saja ia menampilkan wajahnya yang memelas, itu sama sekali tidak berhasil.
"Terima kasih atas pujiannya, sayang." Ucap Ken sambil menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan itu membuat Leta semakin kesal.
"Aku kembali kerja dulu, kamu diam di sini dengan baik, ya." Sambung Ken sambil mengelus pucuk kepala Leta dengan lembut. Leta hanya terdiam, ia sangat malas untuk menjawab ucapan laki-laki yang sudah membuatnya kesal itu, sementara itu, Ken langsung berbalik dan melangkahkan kedua kakinya kembali ke kursi kebesarannya. Ken mulai meneruskan pekerjaannya dengan fokus.
Leta menghela nafasnya kasar, ia sudah duduk di atas sofa itu lebih dari tiga puluh menit dan itu sangat membuatnya bosan. Perlahan Leta merogoh ponsel yang berada di dalam tas kecil miliknya, guna menghilangkan rasa bosannya.
Leta mulai menyalakan layar ponselnya, namun ketika ia menyalakan layar ponsel itu, ia mendapat satu pesan singkat dari seseorang. Dengan cepat Leta pun langsung memeriksa pesan itu dan membacanya dalam hati.
Raymond.
__ADS_1
Leta, apakah kamu baik-baik saja di sana? Jujur aku di sini sangat-sangat merindukanmu.
Leta tersenyum kecut dengan hati yang terasa sakit. Mungkin jika dulu ia mendapat pesan itu dari Ray, ia akan merasa sangat-sangat bahagia, tetapi sekarang, bukannya ia merasa bahagia, justru ia merasa sedih dan sakit. Karena keadaannya sekarang dan dulu sangatlah berbeda.
"Raymond. Aku tidak baik-baik saja di sini, dan aku pun sangat merindukan dirimu." Batin Leta dengan kristal bening yang mulai keluar dari ekor matanya membasahi wajahnya yang cantik itu.
"Jangan menangis, Leta. Ini sama sekali tidak akan mengubah segalanya." Leta kembali membatin sambil menghapus air matanya. Kemudian ia pun kembali menaruh ponsel itu ke dalam tasnya. Ken yang sedari tadi melihat gerak-gerik Leta pun seketika mengepalkan tangannya kuat, apalagi ketika ia melihat Leta menghapus air matanya, semakin membuat Ken kesal sekaligus cemburu. Ken sangat yakin jika Leta menangis karena laki-laki itu, laki-laki yang di cintai oleh calon istrinya tersebut.
"Kamu masih berani menangisi laki-laki itu di depanku? Apakah kamu tidak sadar statusmu saat ini." Batin Ken yang kemudian beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri Leta yang kini masih terdiam dengan wajah yang sendu.
"Ada apa dengan wajahmu? Apakah kamu sedang merindukan seseorang?" Tanya Ken ketika ia sudah berdiri di hadapan Leta.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa bosan saja dan aku tidak merindukan siapapun." Sahut Leta sedikit terkejut.
"Kamu yakin, sayang? Lalu mengapa tadi kamu menangis?" Tanya Ken sambil menatap Leta penuh selidik.
"Aku,,,, aku tidak menangis, Ken. Kamu mungkin salah lihat." Sahut Leta sedikit gugup.
__ADS_1
"Apakah kamu pikir mataku sudah rabun sehingga aku bisa salah melihatmu tadi? Katakan! Kenapa kamu menangis, aku tebak, kamu pasti menangisi laki-laki itu bukan?" Tanya Ken dengan tegas, bahkan sorot matanya pun mulai menajam membuat Leta langsung meneguk salivanya susah payah.
Bersambung.