
Leta langsung membekap mulutnya, laki-laki yang berada di sampingnya itu benar-benar sudah membuatnya takut sekaligus kesal setengah mati.
"Kau.... Gilaaa" Teriak Leta sebelum ia menutup mulutnya kembali.
Wajah Leta memerah, detak jantungnya mulai berdegup kencang, baru kali ini ada laki-laki yang sangat terus terang seperti calon suaminya itu. benar-benar sulit di percaya.
"Ya! Aku memang sudah gila, Leteshia. Gila karenamu." Ucap Ken terdengar serak.
"Hentikan omong kosongmu itu. Aku,,,, aku tidak mau mendengarnya." Seru Leta kesal sambil menutup kedua telinganya.
"Bagaimana kalau aku tidak mau dan bisa menghentikannya?" Bisik Ken membuat bulu kuduk Leta meremang seketika.
"Kau.... Sungguh sangat amat menyebalkan." Seru Leta semakin kesal di buatnya.
"Astaga, kenapa ada manusia seperti dia di dunia ini? Bisakah aku menukarnya dengan seekor kucing saja? Argh... Dia sangat menyebalkan sekali." Batin Leta sambil berusaha untuk mengontrol dirinya menghadapi sikap calon suaminya itu.
"Leta! Apakah kamu tau, bahwa aku sangat menantikan malam pertama kita." Bisik Ken di telinga calon istrinya itu membuat bulu kuduk calon istrinya kembali meremang. Kenapa pula dia tiba-tiba berbisik seperti itu? Apakah dia tidak tahu, jika bisikannya itu dapat membuat bulu kuduk wanita manapun meremang seketika?
"Kamu pasti akan sangat cantik mengenakan lingerie berwarna merah." Ken kembali berbisik, bisikannya semakin membuat Leta ingin menceburkannya langsung ke rawa-rawa.
"Astaga!!! Kenapa dia sangat mesum sekali. Bisa-bisa aku gila jika harus bersama orang seperti dirinya. Ya Tuhan kenapa Engkau mengirimkanku mahluk seperti dia?" Batin Leta sambil menggeser duduknya hingga menempel di pintu mobil.
Ken langsung menarik tangan calon istrinya, ia menatap dalam kedua mata Leta, kemudian ia berkata. "Ada apa, baby? Apakah kamu takut denganku?" Tanya Ken sangat amat lembut dan halus.
"Ya! Aku sangat takut dengan orang mesum sepertimu. Jadi, berhenti mengucapkan hal yang tak seharusnya di ucapkan dan jangan bermimpi di siang bolong." Sahut Leta membuat Ken tertawa pelan. Dan tentu saja hal itu membuat Leta semakin kesal.
"Jangan tertawa. Ini sama sekali tidak lucu." Seru Leta kesal.
"Baiklah, aku tidak akan tertawa. Tapi, lihat saja nanti, aku bermimpi atau tidaknya, kamu akan merasakannya di saat malam pertama kita. Jadi, bersiap-siaplah honey." Ucap Ken semakin senang menggoda calon istrinya itu.
Ntah mengapa, hari ini mulut Ken sama sekali tidak bisa di kontrol. Dan jangan lupa, ini adalah kali pertamanya ia mengeluarkan kata-kata yang sangat amat keramat itu kepada seorang perempuan.
"Dasar mesum sialan, bagaimana bisa lelaki ini mengatakan hal yang begitu vulgar. Dasar gila." Batin Leta sembari memalingkan wajahnya ke jendela. Leta tidak lagi mengeluarkan suaranya, ia sudah terlalu malas meladeni calon suaminya yang menurutnya sangat amat menyebalkan.
__ADS_1
Ken tersenyum puas, sepertinya cukup sampai di sini dulu ia menggoda calon istrinya itu, nanti dia bakal lanjut lagi ketika dia sudah tiba di perusahaannya. Dasar Ken.
Sementara itu, Seth yang selalu menjadi pendengar setia sedari tadi, hanya dapat menghela nafasnya panjang dan berdoa agar mobil itu segera tiba di perusahaan bosnya.
***
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka pun tiba di perusahaan Kendrick Group. Seth segera memarkirkan mobilnya, ia membuka pintunya, kemudian ia turun dan berjalan menuju pintu bagian belakang.
Seth segera membukakan pintu mobil untuk bosnya.
"Silahkan, bos." Ucapnya sopan.
"Hmm." Ken hanya berdehem pelan, lalu setelah itu, ia pun mulai turun dari mobilnya.
Sementara itu, Leta hanya terdiam di dalam mobil, ia sama sekali tidak ingin keluar dari mobil itu, apalagi ketika ia mengingat perdebatannya dengan Ken tadi, membuat Leta semakin tidak ingin menapakkan kakinya di bumi.
Melihat Leta yang hanya terdiam, membuat Ken langsung mengeluarkan suaranya.
"Turun sendiri, atau aku gendong." Ucap Ken terlihat sangat serius.
"Dasar pemaksa nyebelin." Gumam Leta sembari turun dari mobil Ken.
"Aku masih bisa mendengarnya." Ucap Ken membuat Leta langsung memutar kedua bola matanya malas.
"Ayo kita masuk." Ajak Ken sambil menarik tangan calon istrinya itu.
"Lepaskan tanganku." Pinta Leta setengah berbisik.
"Diam dan ikuti aku." Sahut Ken sambil melangkahkan kedua kakinya memasuki perusahaan besar miliknya.
Leta hanya pasrah, dan mengikuti langkah kaki calon suaminya tersebut. Kedatangannya sontak saja membuat para karyawan terkejut. Pasalnya, bos mereka sama sekali tidak pernah membawa perempuan mana pun ke perusahaannya. Namun kali ini bosnya itu membawa seorang perempuan, dan menggandeng tangan si perempuan itu. Sungguh membuat para karyawan wanita iri.
"Selamat pagi, pak." Sapa mereka serempak.
__ADS_1
"Hmm pagi." Sahut Ken tanpa menghentikan langkah kakinya.
Ken terus berjalan menuju pintu lift khusus dengan gayanya yang elegant. Sementara Leta, ia terlihat kurang nyaman ketika tatapan mata para karyawan tersebut mengarah peada dirinya.
"Lepaskan tanganku, tuan." Leta kembali meminta Ken untuk melepaskan tangannya.
"Kenapa? Apakah kamu malu?" Jawab Ken tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak! Hanya saja aku nerasa risih dengan pandangan para karyawanmu itu." Ucap Keta kesal.
"Kamu tidak perlu pedulikan mereka." Sahut Ken santai kayak di pantai.
"Bagaimana mungkin aku tidak memperdulikan tatapan mereka, tatapan mereka itu seperti ingin memakanku hidup-hidup." Dengus Leta membuat Ken terkekeh pelan.
"Mereka hanya iri karena kamu adalah perempuan pertama yang aku gandeng dan bawa ke perusahaanku. Jika kamu tidak nyaman, aku bisa menyuruh Seth untuk mencongkel mata mereka semua." Ucap Ken membuat Leta langsung membolakan kedua matanya sempurna.
"Dasar laki-laki gila. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu dengan santai. Bagaimana kalau mereka mendengar ucapannya? Aku yakin mereka pasti akan langsung mengundurkan diri." Batin Leta sambil menatap Ken dari samping.
"Sudah puas menatapnya? Kalau sudah, ayo kita masuk." Ucap Ken sambil memperlihatkan senyuman manisnya kepada Leta.
"Si,,,siapa yang menatapmu. Jangan kepedean." Sahut Leta dengan wajah yang memerah.
"Ish aku tidak menatapnya, aku hanya,,, ah sudahlah, memang aku menatapnya kok tadi. Dasar sialan." Batin Leta kesal.
Ken terkekeh pelan, kemudian ia masuk ke dalam lift, dan menarik tangan Leta, membuat Leta terjatuh ke dalam pelukannya.
"Kamu sangat tidak sabaran, honey. Tenang saja, waktu kita masih banyak untuk berpelukan." Bisik Ken membuat Leta langsung mendorong tubuhnya dengan cukup kuat.
"Dasar gila. Jelas-jelas kamu yang menarikku barusan." Seru Leta sangat amat kesal.
Ken hanya tertawa, betapa senangnya ia menggoda gadis yang berusia 22 tahun itu, bahkan amarahnya yang pernah menyelimuti dirinya tadi pagi, sudah menghilang ntah kemana.
Ken jangan tertawa ya. Nanti di sentil sama readersmu. Puas banget ketawanya.
__ADS_1
Bersambung.