Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 103 Amarah Orion Reda


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Orion tiba di depan rumah Galen. Dia menutup pintu pagar menggunakan koin dari sakunya.


“teng... teng...”


Tak ada jawaban setelah Orion mengetuk pagar rumah Galen. Dia pun mengulangi sampai ketiga kali dan masih tak ada jawaban ataupun yang keluar dari balik rumah itu.


“Lebih baik aku pergi saja mungkin lihat ada di rumah.” gumam Orion yang terlihat kecewa setelah mengetahui jika Galen tak ada di rumah itu.


Gadis itu berjalan kembali menuju ke rumahnya. Dia tampak gelisah memikirkan ke mana lelaki itu pergi.


Satu malam berlalu dan keesokan harinya Orion mencoba mencari Galen kembali di akademi. Gadis itu berjalan menuju ke kelas Galen dan melihatnya dari luar saat jam pelajaran berlangsung dan dia kembali tidak menemukan lelaki itu.


“Galen... hari ini kau juga tidak masuk. Apa kau benar-benar marah padaku... ?” gumam gadis itu yang kembali kecewa menatap bangku Galen yang masih kosong. Orion kembali berjalan menuju ke kelasnya dengan langkah yang gontai. Ada sedikit rasa penyesalan karena telah marah pada Galen dan mengabaikannya.


Satu hari berlalu, pada keesokan harinya Oreo kembali mencari Galen di akademi. Kali ini dia mencari ke seluruh isi akademi dan lagi-lagi dia harus kecewa.


“Galen kemana kau sebenarnya... ? Aku menyesal sudah marah padamu...” ucap Orion lirih sambil berbalik keluar dari kantin setelah mencari ke beberapa tempat lainnya dan masih tak menemukan lelaki itu.


Orion yang putus asa berhenti mencari lelaki itu dan pergi ke ke taman untuk merefresh pikirannya dengan melihat bunga-bunga yang ada di sana.


Di lain tempat Galen yang masih berada di istana Cawan Suci memutuskan untuk kembali ke negeri anubis setelah tiga hari berada di istana dan merasa pikirannya sudah segar kembali.


Dia siap keluar dari istana dan sengaja berhenti di depan ruang kerja ayahnya untuk berpamitan. Raja Edwin yang melihat putranya menunggu di depan pintu menyuruhnya masuk.


“Galen apa yang kau lakukan di luar sana... masuklah ?” ucap Raja Edwin memanggil Galen setelah melihatnya berdiri di luar pintu ruangannya. Galen masuk dan melihat beberapa berkas di meja tempat ayahnya duduk yang menumpuk.


“Ayah... aku tidak mau mengganggu kesibukan ayah. Aku kemari hanya ingin berpamitan pada ayah karena aku masih ada urusan yang belum ku selesaikan.” ucap Galen berpamitan lalu keluar dari ruangan itu. Raja Edwin merasa aneh melihat perilaku putranya itu. Sejak kapan putranya itu punya urusan di luar ? Karena selama ini Galen selalu enggan berurusan dengan suatu hal dan cenderung menutup diri.


“Baiklah segera selesaikan urusanmu dan kembali kesini ada setumpuk tugas yang harus kau lakukan. Oh bukan... maksud ku aku berniat mencarikan mu pendamping. Aku akan mengundang beberapa putri dari beberapa kerajaan dan kau pilih salah satu dari mereka yang cocok dengan mu.”ucap Raja Edwin berdiri dan menghampiri Galen.


Mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya barusan, membuat Galen menekuk jidatnya dan berbalik.

__ADS_1


“Apa... ayah berniat mencarikan aku istri ? Tidak ayah, aku tidak mau dijodohkan dan aku akan mencari sendiri pendamping hidupku. Lagipula untuk saat ini aku belum ingin menikah.” balasnya sambil bersikeras menolak tawaran ayahnya.


Sebelum bertambah kesal Galen pun segera meninggalkan ruangan ayahnya dan keluar istana meninggalkan ayahnya begitu saja.


“Dasar anak itu... !” ucap Raja Edwin kesal pada penolakan putranya lalu kembali ke tempat duduknya mengerjakan setumpuk laporan yang masih harus diperiksa nya.


Galen berjalan menuju ke negeri anubis. Dia melesat dengan cepat dan tak beberapa lama kemudian dia tiba di negeri anubis. Dia melewati akademi sebelum menuju ke rumahnya.


“Orion pasti masih di sana. Tapi hari ini aku tidak masuk, jadi Lebih baik aku pulang saja.” ucap Galen saat berhenti tak jauh dari akademi dan ingin masuk ke sana.


Dia sempat melihat Orion yang berjalan sendirian di tengah keramaian. Namun dia segera pergi dari sana sebelum gadis itu melihatnya.


“Semoga saja Orion tak melihatku.” batin Galen saat melihat sepintas gadis itu berjalan dengan cepat seolah melihat dirinya dan mencari keberadaannya sekarang. Galen kembali melesat dengan cepat dan menuju ke rumahnya.


Sementara Orion yang sudah berjalan sampai ke depan pintu gerbang mengedarkan pandangan ke sekeliling seperti mencari sesuatu.


“Tadi aku seperti melihat Galen di sekitar sini... apa aku salah lihat dan hanya perasaanku saja ?!” ucap Orion lirih dan masih mencari keberadaan lelaki itu di sekitar area akademi. Setelah tak menemukan lelaki itu dia pun kembali masuk melewati pintu gerbang untuk mengikuti pelajaran karena masih belum usai.


“Orion... kau sendirian ?” tanya Ariel saat melihat tak ada Galen yang bersamanya saat itu.


“Kemana si breng... maksud ku si Galen itu. Tumben sekali dia tak menemanimu...” tanya Ariel kembali karena penasaran. Sementara Orion hanya senyum saja membalas pertanyaannya tanpa memberitahukan keberadaan Galen.


“Pasti si brengsek itu sedang ribut dengan Orion sekarang setelah masalah beberapa hari yang lalu.” batin Ariel membalas senyum Orion.


“Lebih baik kita pulang saja sekarang kan hari semakin terik.” Ajak Orion pada Ariel untuk segera bergegas pulang menuju ke rumah.


Mereka berdua berjalan keluar dari pintu gerbang. Ariel yang tahu jika Orion sedang sedih mencoba menghiburnya dengan beberapa candaan dan membuat gadis itu tersenyum mendengar candaannya.


“Orion... kita berpisah sampai disini, hati-hati di jalan.” ucap Ariel berhenti sebentar lalu kembali berjalan menuju ke rumahnya mendahului Orion.


“Kau juga hati-hati. Sampai ketemu besok.” balas Orion kembali tersenyum kecil pada Ariel lalu kembali berjalan.

__ADS_1


Di tengah perjalanan saat dia melewati jalanan menuju ke rumah Galen dia berhenti sebentar dan menoleh ke jalan itu.


“Apa aku coba kerumahnya lagi saat ini untuk memastikan jika yang kulihat tadi ada Galen.” ucapnya berpikir sejenak lalu melewati jalanan ke Galen.


Tak berapa lama kemudian gadis itu tiba di depan rumah Galen. seperti biasa dia mengambil koin dari sakunya untuk mengetuk ke rumah Galen.


Dari dalam Galen yang sedang merebahkan dirinya di kursi panjang yang ada di ruang tamu mencium aroma khas Orion dan segera bangkit dari kursi.


“Apa Orion ke sini ?” gumamnya lalu melihat dari balik tirai jendela dan ternyata memang ternyata memang Orion yang di sana.


Tanpa pikir panjang dia pun langsung membuka pintu rumah dan berlari ke pagar sebelum Gadis itu mengetukkan koinnya ke pagar.


“Ting...” bunyi suara koin yang terlepas dari tangan Oreo dan jatuh ke lantai setelah melihat Galen sudah ada di depannya dan membuka pagar hitam itu.


“Galen... apa itu sungguh kau ? Kau kemana saja tiga hari ini, aku sudah mencari mu kemana-mana.” ujarnya tersenyum senang melihat lelaki itu. Dan tanpa sadar dia memeluk Galen.


Galen membalas pelukan Orion dan membelai rambutnya sambil tersenyum.


“Jadi kau sudah tak marah lagi pada ku ?” tanyanya pada Orion dan masih memeluknya.


“Aku masih marah padamu tapi aku lebih mengkhawatirkan dirimu. Kau tidak kenapa-napa kan ?” tanya Orion lagi sambil menyentuh pipi Galen.


“Itu artinya kau sangat merindukan ku bukan ?” tanya Galen kembali membelai rambut kekasihnya itu yang hanya tersenyum menatapnya.


“Jangan pernah menghilang lagi dari hadapanku, atau aku akan lebih marah lagi pada mu nanti.” ucap gadis itu lagi.


“Tidak akan...” jawab Galen sambil tersenyum lebar dan merasa lega karena sudah reda amarah kekasihnya.


Galen membelai lembut pipi Orion lalu mendaratkan ciuman di bibir gadis itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2