Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 90 Kecurigaan


__ADS_3

Orion merasa aneh dengan apa yang diucapkan Galen. Karena dia mendengar jelas apa yang diucapkan Galen dengan seseorang lelaki yang entah di mana keberadaan lawan bicaranya itu sekarang. Dia menatap ke sekeliling dan hanya ada dirinya serta Galen di ruangan itu.


“Apa menurutmu aku hanya salah dengar ?” tanya Orion lagi yang merasa tak ada yang salah dengan pendengarannya. Galen yang melihat gadis itu terus bertanya mencoba mengalihkan perhatiannya lagi. Dia melihat memar dan luka di muka Orion sudah membaik karena kemampuan menyembuhkan luka dari amulet.


“Orion... lukamu sembuh dengan cepat...” ucapnya mengalihkan perhatian dan ganti membuat Gadis itu panik dan tampak gugup.


“Seharusnya tadi aku menolak ajakan Galen untuk ke sini. Sekarang bagaimana aku harus menutupi kondisi ku yang cepat pulih berbeda dengan manusia ?” batinnya dengan wajah pucat dan berpikir apa yang harus dikatakannya pada Galen agar lelaki itu tak curiga pada dirinya.


“Ehm... semua lukaku sembuh berkat perawatan mu, terima kasih.” jawabnya sambil tersenyum dan berharap lelaki itu tidak mengungkit lagi tentang lukanya.


“Orion menurutku kau istirahat lah sebentar satu atau dua jam disini baru aku akan mengantarmu pulang, sambil aku obati sisa luka mu yang masih terlihat.” ucapnya mengambilkan bantal lalu kembali membaringkan tubuh gadis itu.


“Galen tidak tidak perlu seperti ini aku merasa sudah baikan lebih baik aku istirahat di rumah saja.” Orion duduk namun Galen memegang tangannya dan kembali merebahkan tubuhnya ke kursi.


“Tidurlah... aku akan menunggumu di sini...” ucapnya terus mendesak gadis itu sambil membelai rambut panjangnya. Tanpa sepengetahuan Orion, dia pun mengeluarkan kekuatan yang bisa membuat amulet merasa mengantuk dan tertidur melalui belaian tangannya barusan.


Tak beberapa lama kemudian gadis itu merasa ngantuk dan memejamkan mata. Galen menatap gadis itu lekat-lekat.


“Orion maafkan aku... aku terpaksa harus menghapus ingatanmu agar kau tidak mencurigai ku.” batinnya jual bergeser dan lebih mendekat pada Orion. Dia memegang dahinya dan boleh mengeluarkan kekuatannya untuk menghapus ingatan terakhir tentang percakapannya dengan tim siluman. Namun belum selesai Galen menghapus ingatan gadis itu, Orion tiba-tiba terbangun dan memegang tangannya.


“Galen apa yang mau kau lakukan padaku...?” tanyanya pada lelaki itu karena merasa tak nyaman.


Galen seketika menarik tangannya dan menghentikan proses penghapusan memori karena terkejut ternyata kekuatannya tak mampu membuat saxion tidur.


“Ah... tidak... aku hanya khawatir padamu kukira kau demam.” jawabnya berbohong dan salah tingkah. Untuk menghindari kecurigaan gadis itu, dia pun dengan cepat merengkuh tubuh Orion dalam pelukannya.

__ADS_1


Meskipun Galen tak melakukan apa-apa pada dirinya entah kenapa gadis itu merasa ada yang aneh pada Galen dan dia mengira lelaki itu akan melakukan sesuatu padanya.


“Sebenarnya aku ingin...” ucapnya mendekatkan bibirnya pada Orion, namun gadis itu menarik tubuhnya sedikit ke belakang.


“Galen aku...” ucapnya menatap lelaki itu dengan ketakutan jika dia akan melakukan hal buruk padanya.


“Diamlah...” pinta Galen lembut lalu mencium bibir Orion. Ciuman dari Galen ternyata melunturkan rasa ketakutan gadis itu dan membuatnya hanyut dalam ciuman manis Galen yang membuatnya sampai berbaring lagi di kursi menerima ciuman hangatnya.


Orion melepaskan pelukannya dari leher Galen setelah ciuman mereka berakhir dengan wajah masih merona merah.


“Galen lebih baik aku pulang sekarang.” ucapnya berdiri lalu berjalan menuju ke pintu. Galen ikut berjalan mengikuti garis itu dan memegang tangannya.


“Tunggu... aku akan mengantarmu kalau begitu.” Mereka berdua lalu keluar dari rumah dan berjalan menuju ke tempat tinggal Orion.


Sesampainya di rumah Orion, gadis itu segera masuk ke rumah setelah Galen berpamitan padanya. Dia berjalan menuju ke cermin dan melihat dirinya di sana.


Gadis itu lalu duduk dan masih memegang wajahnya yang sedikit bengkak sambil memikirkan sebuah cara untuk menutupi luka di wajahnya itu.


Dia pun mengambil masker wajah yang ada di meja rias kemudian mengoleskan pada seluruh wajahnya dan berbaring di tempat tidurnya. Benar saja beberapa saat kemudian ibunya pulang dan melihatnya sedang tertidur memakai masker. Dia pun melihatnya dengan biasa dan tak menaruh rasa curiga sama sekali pada gadis itu.


Malam harinya Orion yang tidak bisa tidur, berjalan ke jendela dan membuka sedikit yang lainnya memandang keluar jendela sambil sesekali menoleh kearah ibunya yang masih terlelap tidur. Dia kembali teringat pada percakapan yang dilakukan Galen sebelumnya dengan seseorang yang tidak diketahuinya. Lama sekali dia berpikir namun tetap tidak mempunyai gambaran sama sekali.


“Apakah Galen benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku dan ingin melakukan sesuatu padaku... ?” batinnya menatap kosong ke luar jendela sambil menyentuh bibir bekas ciuman lelaki itu.


“Mungkin ada baiknya jika aku mengikuti agar mengalir begitu saja, jika memang dia berniat melakukan sesuatu pada ku pasti akan terungkap nantinya.” gumamnya sambil menatap bulan sabit di langit.

__ADS_1


Sementara itu di lain tempat Ariel yang merasa kalah dari Galen dan patah hati, terlihat lebih sering mengurung diri di kamar. Hatinya masih sesak dan menahan sakit tak bisa menerima kenapa dirinya yang sudah lama bersama Orion sejak kecil dan menyukainya tidak bisa mendapatkan cintanya malahan Galen, lelaki yang baru kemarin ditemui gadis itu sekarang menjadi kekasihnya.


“Rasanya aku tak bersemangat melakukan apapun sekarang...” ucapnya lirih sambil merebahkan dirinya di tempat tidur dan berguling ke sana ke mari.


Keesokan harinya, kembali terdengar suara ketukan pintu saat Putri Zoya duduk di ruang tamu.


“tok... tok... tok...”


Putri Zoya segera berdiri dan membukakan pintu. Ternyata Galen yang datang menjemput putrinya kesini. Dia mempersilahkan lelaki itu masuk dan duduk menemaninya sambil menunggu putrinya keluar. Karena belakangan ini dia tidak melihat Ariel dia pun penasaran dan mencoba menanyakannya pada Galen.


“Ariel sekarang tak pernah kelihatan, ada apa ya...” tanya pada Galen.


“Ariel sebenarnya...” Belum sempat lelaki itu menjelaskan pada ibunya Orion, Gadis itu keluar sambil membawa tas dan menghampirinya.


“Galen... ayo kita berangkat sekarang.” ucapnya.


Galen langsung berdiri dan keluar dari rumah setelah berpamitan dengan ibunya Orion.


“Aku tak mengerti pikiran anak muda sekarang... semoga saja Galen dan Ariel tidak bertengkar karena Orion.” gumamnya lalu berdiri dan masuk ke kamar bersiap untuk pergi ke rumah makan.


Galen dan Orion berjalan bersama dengan bergandengan tangan menuju ke Akademi. Tanpa sepengetahuan mereka, anggota tim siluman lainnya sedang melakukan diskusi mengenai misi mereka yang belum berakhir ini yang membuat mereka menjadi resah karena belum ada kabar juga dari Pangeran Galen mengenai saxion yang di carinya.


“Apa sebaiknya kita turun tangan juga ke lapangan untuk memeriksa sendiri saksi itu dan segera melaporkannya agar misi ini segera berakhir. Mungkin saja Pangeran Galen saat ini sedang bersenang-senang di dunia anubis sana sehingga dia kurang peduli pada misinya.” ucap Danie pada dua rekannya.


“Kita Tunggu saja sampai satu atau dua minggu ke depan dulu jika masih belum ada kabar sebaiknya kita turun tangan langsung ke lapangan.” ucap Krish yang di setujui oleh kedua anggota tim siluman lainnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2