Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 29 Penghisap Darah


__ADS_3

Keesokan harinya nenek Hera menemukan bangkai burung gagak yang mati di belakang rumahnya.


“Ada burung gagak yang mati lagi... Pertanda apa ini ?” terkejut saat melihat satu ekor burung gagak yang tergeletak di bawah pohon lagi.


“Semoga saja tidak ada hal buruk atau nasib sial yang menimpa keluargaku...” ucapnya lagi lalu membuang burung gagak yang mati kering itu jauh-jauh dari rumahnya.


Sementara itu Putri Zoya sehabis menghisap darah binatang itu sampai kering bersembunyi di samping rumah nenek Hera saat mendengar ada suara langkah yang keluar dari sana.


“Hampir saja nenek melihatku... Untung saja masih ada waktu untuk menghindar... jika tidak...” gumamnya lirih sambil mengintip nenek Hera yang masih ada di sana. Dia berharap nenek itu segera pergi dari sana.


“Nenek.... nenek... di mana ?” Panggil Orion kecil dari dalam rumah mencari nenek Hera.


“Nenek di luar... ada apa nak ?” jawabnya lalu segera masuk ke dalam rumah.


Putri Zoya langsung keluar dari tempatnya bersembunyi saat melihat nenek Hera sudah masuk ke dalam rumah.


“Huft... untung saja...” ucap sang putri lega sambil menghembuskan nafas dalam-dalam lalu duduk di belakang rumah.


Sementara itu di dalam rumah, Orion kecil melihat air yang direbus oleh nenek sudah mendidih dan dia tidak bisa mematikan apinya ataupun mengambil air panas untuk minum itu.


“Nenek air panas untuk minum sudah matang... Maaf aku tidak bisa membantu hanya bisa menunggu saja.” ucapnya saat melihat nenek masuk dan menghampirinya.


“Tak apa... begini saja sudah cukup. Kau sudah pintar nak...” jawab nenek itu mengusap rambut Orion kecil lalu mematikan api dan memindahkan panci berisi air panas ke meja.


Orion kecil hanya tersenyum mendengar ucapan nenek itu sambil melihat ke sekeliling dan mencari sosok ibunya yang tidak ada di sana.


“Nenek... apa nenek melihat ibuku... ?” tanya anak itu.


“Tidak... mungkin ibumu ada di depan rumah...” jawab nenek Hera kembali.


Anak kecil itu segera berlari keluar untuk mencari ibunya, namun dia tidak menemukan ibunya ada di luar.

__ADS_1


“Ibu...” teriaknya memanggil ibunya. Dia lalu berjalan kaki menuju ke belakang rumah untuk mencari ibunya.


“Ternyata Ibu ada disini... aku sudah mencari ibu kemana-mana.” ucapnya saat melihat ibunya duduk di kursi kayu yang ada di belakang rumah.


Dia melihat wajah ibunya yang sedikit pucat, lalu memegang tangan ibunya yang dingin.


“Ibu tidak apa-apa... ?” tanyanya khawatir pada Ibunya dan mengira ibunya sakit.


“Ibu baik-baik saja nak, hanya kedinginan. Mungkin setelah minum air hangat tubuh ibu akan kembali normal lagi. Ayo kita masuk ke rumah...” ucap sang putri untuk mengalihkan perhatian agar putrinya itu tidak curiga padanya dan terus bertanya.


Sang putri yang tidak kedinginan segera masuk ke dapur mengambil air hangat dan meminumnya agar Orion tidak mengetahui jika dirinya masih haus dan butuh darah lagi.


“Nenek, kapan kita akan pergi ke hutan mencari kayu bakar ?” tanya sang putri yang sudah merasa darah di tubuhnya mulai memanas.


“Sebentar lagi kita akan berangkat mencari kayu bakar ke hutan.” ucap nenek Hera bersiap-siap untuk pergi ke hutan.


Putri Zoya sudah menunggu nenek di luar rumah. Beberapa saat kemudian nenek keluar dari rumah dan mereka berdua berangkat menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar seperti biasanya.


Benar saja di sana beberapa ekor kelinci putih yang sedang makan rumput.


“Aku belum pernah merasakan kelinci sebelumnya. Mungkin saja darahnya manis dan bisa melepas dahaga ku ini.”


Putri Zoya berjalan pelan mendekat menuju ke tempat kelinci itu berada agar mereka tidak kabur.


“pat...” dengan cepat sang putri menyambar satu ekor kelinci saat sudah ada didekat mereka berkumpul. Dia segera menghisap darah kelinci itu sampai habis. Kini rasa dahaganya sudah hilang, tubuhnya terasa normal kembali setelah menghisap darah kelinci itu.


Sementara itu di sebelahnya ternyata ada seorang anak kecil yang mengejar kelinci tadi masuk. Anak laki-laki itu melihat sang putri yang meminum darah kelinci dan membuat binatang itu mati seketika.


“Ah... penghisap darah... to-tolong...” ucap anak itu yang takut dan gemetaran saat melihat seorang wanita yang meminum darah binatang dan jatuh ke tanah.


Mendengar ada suara yang jatuh, sang putri berbalik dan mendapati seorang anak kecil yang melihatnya dengan ketakutan. Dia mendekati anak kecil itu, namun anak kecil yang ketakutan itu langsung berdiri dan segera berlari keluar dari hutan itu.

__ADS_1


“Gawat anak itu melihatku... semoga saja tidak terjadi apa-apa setelah ini. Aku sangat haus sekali sampai aku ceroboh dan tidak memperhatikan sekitarku.” ucapnya lalu membersihkan sisa darah yang ada di bibirnya sampai bersih.


Sebelum keluar dari sana Putri Zoya mengambil kayu yang tercecer di tempat itu dan membawanya keluar.


“Kau membawa kayu banyak sekali hari ini nak...” ucap Nenek Hera saat melihat sang putri kembali membawa banyak sekali kayu bakar untuknya.


“Ya nek... hari ini aku sedang beruntung menemukan banyak kayu di sana.” ucapnya sembari tersenyum dan mengajak nenek segera keluar dari hutan itu dan pulang ke rumah.


Keesokan harinya saat Putri Zoya duduk di depan rumah ada beberapa orang yang lewat dan menatapnya dengan tatapan aneh.


Seorang anak kecil terlihat berkata pada ayahnya sambil menunjuk dan menatap tajam Putri Zoya.


“Aku melihat wanita itu kemarin menghisap darah kelinci di hutan ayah.” ucapnya pada sang ayah sambil menunjuk Putri.


“Apakah yang kau katakan itu benar nak ? Kau yakin orang itu meminum darah kelinci ?” tanya sang ayah yang ragu jika anaknya berfantasi menceritakan apa yang dilihatnya itu.


“Benar ayah aku melihatnya sendiri... aku tidak bohong.” ucap anak itu meyakinkan ayahnya.


Mereka berdua kembali menatap sang putri dengan tatapan aneh dan mengerikan sebelum mereka pergi dari sana.


Dalam sekejap saja berita itu langsung menyebar dari mulut ke mulut dan semua warga yang tinggal di sana pada akhirnya mempercayai apa yang diucapkan oleh anak laki-laki itu tanpa melakukan penyelidikan untuk membuktikan kebenaran yang diucapkan anak kecil itu hanyalah isapan jempol belaka atau fakta.


Keesokan harinya ada beberapa orang yang sengaja melewati rumah nenek Hera untuk melihat wanita yang diberitakan sebagai penghisap darah.


“Iya itu wanita itu... apa dia bukan manusia ?” tanyanya pada teman yang berjalan di sebelahnya.


“Kau yakin wanita cantik itu adalah setan ?” tanya salah satu orang.


“Kalau kau penasaran coba kau dekati dia. Kalau kau kembali masih hidup berarti dia bukan monster.” ucap orang itu pada temannya sambil tertawa kemudian mereka berdua berlalu dari sana.


Putri Zoya bisa mendengarkan apa yang mereka ucapkan dan dia melihat ada beberapa orang lagi yang sengaja lewat di depan rumah itu untuk melihatnya. Dia tak ingin mendengar orang lain berkata buruk tentang dirinya lalu sang putri masuk ke rumah dan menutup pintu rapat-rapat.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2