
Satu hari setelah insiden perkelahian sebelumnya Ariel dan Galen kembali bertemu di kampus.
Dia berhenti saat berpapasan dengan lelaki itu setelah melihat plester di wajah Galen.
“Jangan bilang Orion yang merawat lukamu itu... ?!” ucapnya sambil mengangkat tangan untuk melepas plester dari muka anak itu.
Galen yang tidak suka seseorang menyentuh wajahnya langsung memegang tangan Ariel sebelum tangan itu berhasil mendarat ke wajahnya.
“Apa urusannya denganmu ? Kau cemburu ?!” jawabnya sambil tersenyum lebar dan melepaskan tangan Ariel dengan keras.
Galen segera berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Ariel karena dia tak mau berurusan lagi dengan lelaki itu.
“Awas saja... jika kau mendekati Orion lagi !!” teriak Ariel dengan keras agar lelaki itu mendengar peringatannya.
“greb...” ada seseorang yang memegang bahunya jadi hafal dengan aroma itu.
“Orion...” ucap Ariel saat berbalik.
“Bagaimana dengan lukamu kemarin ?” tanya gadis itu melihat wajah Ariel sambil memegangnya dan terlihat tak ada bekas luka apa pun setelah sebelumnya tampak bengkak parah.
“Kurasa sudah tak apa...kau tahu sendiri separah apapun lukaku itu akan segera pulih tanpa harus diobati.” jawab anak itu sambil tersenyum.
Orion yang merasa khawatir sebelumnya pada anak itu segera menarik tangannya dari muka Ariel setelah melihat lelaki itu baik-baik saja.
Dari kejauhan Galen berbalik karena mendengar suara Orion.
“Ah... dia masih bersama si serigala itu.” ucapnya berbalik lagi setelah melihat mereka berdua dan meneruskan langkahnya masuk menuju kelasnya.
Ariel dan Orion pun berjalan bersama menuju kelas mereka dan berpisah di tengah jalan karena mereka beda kelas.
Siang hari saat jam istirahat, Orion keluar dari kelas dan berjalan bersama teman sekelasnya Clara menyusuri lorong. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Galen.
“Orion... aku akan mentraktir mu makan hari ini di kantin sebagai rasa terima kasihku sebelumnya padamu.” ucap anak itu berhenti di depan Orion.
“Tapi aku mau ke...” ucapnya menolak pada Clara yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Ah tak apa... tugas kita masih minggu depan baru akan dikumpulkan jadi kita tak perlu terburu-buru mengerjakannya.” ucap Clara membatalkan pergi ke perpustakaan bersama dengan gadis itu.
“Baiklah kalau begitu ayo kita ke kantin sekarang.” jawab Orion menatap Galen lalu memegang tangan Clara mengajaknya berjalan bersama ke kantin.
Clara menarik tangannya dari tangan Orion lalu berhenti berjalan.
“Maaf Orion... aku tidak bisa menemanimu ke kantin Kak ini karena aku masih ada urusan lain.” ucapnya.
Orion tampak kecewa mendengar temannya menolak ajakannya. sementara Galen tampak tersenyum senang karena tak ada yang mengganggu mereka berdua.
“Baiklah sampai jumpa di kelas...” ucap Clara berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Sesekali gadis itu menoleh pada Orion yang sudah berjalan bersama Galen. Dia merasa aneh saja kenapa tiba-tiba Orion bisa dekat dengan Galen.
Mereka berdua pun akhirnya tiba di kantin dan duduk berhadapan dan memulai makan makanan yang mereka pesan.
Ariel yang mencari Orion tidak ada dikelas, pergi ke kantin. Raut mukanya seketika berubah kecewa mendapati gadis itu tengah duduk bersama dengan Galen. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri Orion dan memilih untuk pergi dari tempat itu.
“Hah... ada si Galen lagi...malas sekali jika harus berurusan dengan lelaki itu.” ucapnya kesal dan langsung berbalik meninggalkan kantin dan memilih pergi ke tempat lain.
Sejak insiden sebelumnya mereka berdua tak pernah mau berhadapan bersama lagi saat ada Orion untuk menghindari mereka kembali melakukan hal yang memalukan di depan gadis itu yang akan membuatnya marah.
“Galen... kenapa kau tersenyum sendiri ?” tanya Orion yang melihat lelaki itu tiba-tiba tersenyum tanpa sebab yang jelas sambil mengerutkan dahinya.
Galen mencoba mencari alasan agar gadis itu tidak menoleh kebelakang atau dia akan melihat Ariel.
“Ah tidak ada... aku hanya merasa lucu saja dengan seseorang yang barusan lewat.” jawabnya mencari alasan.
Orion tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Galen dan ia tak mempermasalahkan itu.
“Oh ya bagaimana dengan luka mu apa sudah baikan ?” tanya gadis itu menatap plester yang masih melekat di muka Galen sambil mengulurkan tangan dan menyentuh lukanya.
“Auh... sudah jangan sentuh lagi. Masih sedikit nyeri, mungkin beberapa hari lagi akan sembuh.” ucapnya berpura-pura sakit sambil memegang tangan Orient yang masih menyentuh wajahnya.
“Ya maaf...” jawabnya lalu segera menjauhkan tangannya dari wajah Galen dan kembali meneruskan makannya.
Galen terdiam sejenak menatap gadis di depannya yang telah memberikan perhatian pada dirinya di mana dia tak pernah mendapatkan perhatian seperti itu sebelumnya dari keluarganya atau siapapun.
__ADS_1
Siang hari setelah kelas berakhir. Galen memutuskan untuk segera kembali ke istana Cawan Suci untuk memantau keadaan di sana dan bertemu dengan tim siluman membahas misi yang telah berakhir. Tak perlu waktu lama baginya untuk kembali ke istana.
“Salam... Pangeran Galen...” ucap para pengawal istana kerajaan Cawan Suci yang melihat sang pangeran tiba-tiba muncul di hadapan mereka memberi hormat.
Pangeran Galen hanya mengangguk dan tersenyum membalas salam dari para pengawal di sana. Lalu dia segera bergegas masuk kedalam istana.
Di dalam istana dia melihat ayahnya yang terlihat sibuk, dia pun akhirnya menuju ke kamar pribadinya.
Di dalam kamar dia duduk menghadap jendela dan merenung sejenak memikirkan apa yang harus dilakukan.
Raja Edwin yang tadi sempat melihat sekelebat bayangan putranya pergi ke kamar anak itu untuk memastikan apakah Pangeran Galen memang sudah pulang.
“kriek...”
Pangeran Galen yang malam on tidak menyadari jika ada seseorang yang membuka dan masuk ke kamarnya.
“Galen... kau sudah pulang, nak... ? apa misi mu sudah selesai ?” tanya Pangeran Edwin menghampiri anaknya.
Galen terkejut dan tersadar dari lamunannya setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya.
“Ayah... sejak kapan Ayah ada di kamarku ?” tanyanya menatap Raja Edwin.
“Ehm... ada apa kau mendadak pulang ?” tanya Raja Edwin mengulangi pertanyaannya.
Pangeran Galen diam sejenak dan berpikir sebelum ayahnya mengetahui jika misinya telah berakhir dan akan memberinya tugas lain.
“Sebenarnya aku pulang hanya untuk mengambil bubuk ajaib ayah. Aku kehabisan bubuk itu.” ucapnya beralasan lalu berdiri dan membuka lacinya mencari keberadaan benda itu.
Melihat putranya yang tampak sibuk, Raja Edwin memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
“Baiklah ayah pergi dulu. Jika kau kehabisan bubuk ajaib kau bisa memintanya pada ayah. Aku punya banyak stok.” ucap Raja Edwin sambil menutup pintu kamar.
“Untung saja ayah segera pergi...” gumamnya menutup laci lalu kembali duduk di tepi tempat tidurnya.
Sesaat Pangeran Galen tersenyum melihat kamar yang biasa ditempatinya. Namun tiba-tiba dia merasa bosan setelah mengingat banyak hal yang harus dikerjakannya di istana itu karena ayahnya selalu memberinya banyak tugas. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat pada senyuman Orion yang membuatnya semakin bimbang akan menghentikan misi ini atau terus melanjutkannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....