Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 130 Menjemput Orion


__ADS_3

Semua yang ada di ruangan Itu tampak terdiam setelah mendengar penjelasan dari dokter kerajaan. Tampak semua yang ada di sana berpikir dimana mereka bisa menemukan darah amulet spesial.


Secar tiba-tiba Pangeran Diaz teringat pada Orion yang merupakan keturunan campuran.


“Apa amulet berdarah campuran termasuk salah satunya ?” tanya Pangeran Diaz pada dokter kerajaan.


“Aku tidak yakin Pangeran Diaz... karena selama ini ini aku juga belum pernah mengetahui Seperti apa darah spesial sebenarnya.” jawab dokter kerajaan itu dengan wajah yang tampak ragu.


Ratu Bonita menghampiri Pangeran Diaz dengan raut muka sedih bercampur bingung.


“Nak ku rasa kita perlu mencobanya. Mungkin saja darah dari cucuku bisa mengobati kakeknya.” ucap Ratu Bonita sambil menyentuh bahu Pangeran Diaz.


“Tenang saja ibu... aku akan segera membawa Orion ke sini. Semoga saja darahnya memang spesial.” ujarnya sambil memegang tangan ibunya untuk menenangkan hati wanita itu.


Terlihat tubuh Raja Netra sekarang tampak pucat sekali dan tumbuhnya menggigil seperti kedinginan.


“Gawat.... Raja netra harus segera mendapatkan darah spesial itu dalam waktu maksimal empat jam dari sekarang. lebih dari itu aku tidak bisa Memastikan kondisi yang mulia Raja Netra.” ucap dokter kerajaan tiba-tiba setelah mendapati kondisi lelaki itu semakin parah.


“Kakak cepatlah bawa putri mu ke sini.” ucap Pangeran Asoka menghampiri kakaknya karena semakin cemas melihat kondisi ayahnya.


“Baiklah kalian tenang saja. Kalau begitu aku pergi dulu sekarang.” jawab Pangeran Diaz berpamitan pada ibu dan adiknya. Dengan cepat lelaki itu segera keluar dari istana bulan dingin dan melesat cepat menuju ke negeri anubis.


Sementara itu Ratu Bonita dan Pangeran Asoka terlihat duduk di dekat Raja Netra yang masih tak sadarkan diri dengan sangat cemas.


Beberapa saat kemudian orang dia tiba di depan rumah.


“Klik...” lelaki itu masuk ke rumah dengan tergesa-gesa untuk mencari Orion.


Putri Zoya saat itu sedang duduk di ruang tengah dan bersantai menyesap teh hitam sambil menunggu kedatangan suaminya.


“Sayang... kau sudah kembali... cepat sekali...” ucap Putri Zoya pada suaminya saat melihat lelaki itu menghampirinya.


“Sayang... kau kenapa tampak seperti orang bingung ? Apa ada masalah di sana ?” tanya lagi lalu menaruh cangkir yang dipegangnya kemeja.


“Sayang... dimana Orion ? Ada masalah di sana saat ini.” jawab Pangeran Diaz tampak panik.


“Ada apa... ceritakan pelan-pelan..” jawab Putri Zoya menarik suaminya yang masih berdiri untuk duduk di dekatnya sambil menyerahkan segelas air padanya.

__ADS_1


“glek...glek...” Pangeran Diaz segera menaklukan sampai habis air minum tadi dan barulah bercerita.


“Ceritanya panjang Aku tak tahu harus mulai dari mana...” jawabnya dengan nafas yang masih tersengal.


“Ceritakan saja aku pasti bisa menangkap ceritanya walau acak.” ucap Putri Zoya.


“Ayah... ayah terluka terkena racun Winamp setelah mendapat serangan dari tahanan yang kabur dari penjara Kabut hitam.” jelas lelaki itu sambil menatap nafas ini masih belum teratur.


Mendengar cerita dari suaminya tampak Putri Zoya seketika terlihat cemas.


“Apa ayah terluka... bagaimana kondisinya sekarang ?” tanyanya.


“Ayah membutuhkan darah alat spesial untuk untuk menyadarkannya. Jika lebih dari empat jam, maka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ayah.” jelas Pangeran Diaz lagi pada istrinya yang membuat wanita itu semakin bertambah panik mengetahui kondisi ayah mertuanya yang kritis.


“Dan mungkin saja dari Orion bisa menyadarkan ayah.” ucapnya menambahkan.


Karena terlalu cemas Putri Zoya pun jadi mengabaikan suaminya yang saat itu tampak sedikit tergores di bagian tangan.


“Tenang sayang... Orion masih ada di kamar mandi. Biar ku panggil dia setelah ini.” jawabnya sambil memegang tangan suaminya.


“hiss...” Pangeran Diaz menarik tangannya karena merasakan perih saat istrinya menyentuh bagian tangan yang sedikit terluka.


“Sayang... biar ku rawat dulu lukamu.” Putri Zoya berdiri untuk mengambil beberapa obat.


“Sayang... luka ku tidak parah. Kau tidak pernah mengobati lukaku yang terpenting sekarang adalah aku harus segera membawa Orion.” ucap Pangeran Diaz lagi masih dengan raut muka yang panik.


Wanita itu mengangguk lalu segera bergegas menuju ke kamar mandi.


“Orion... apa kau masih lama ?” tanyanya saat sudah berada di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup.


“Iya bu ini hampir selesai.” jawab Orion yang saat itu sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


“Nak... cepatlah keluar dan ikutlah dengan ayah ke istana Bulan Dingin sekarang.” ucap Putri Zoya lagi.


Meskipun tidak tahu ada apa sebenarnya mau Orion segera memakai baju dan keluar dari kamar mandi. Mereka berdua segera bergegas ke ruang tengah kembali untuk menemui Pangeran Diaz.


“Duduklah sebentar nak...” ucap Pangeran Diaz pada Orion dan gadis itu menuruti perkataan ayahnya dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Ada apa ayah...” tanya Orion menatap Ayahnya yang kelihatan serius.


“Nak.. ayah butuh bantuan kali ini. Kakek mu terkena racun ganas contoh pembelaan hanya darah spesial yang bisa menyembuhkannya.” ucap lelaki itu seni memegang tangan Orion.


Orion mengerutkan dahi tidak paham pada apa yang diucapkan oleh ayahnya.


“Maksud ayah... ?” tanya Orion untuk memperjelas.


“Aku tahu mungkin kau benci dengan kakek mu Tapi saat ini kakakmu sedang kritis dan membutuhkan darah spesial. hanya darahmu yang bisa menyadarkannya.” jelas Pangeran Diaz mohon dan berharap putrinya mau membantunya.


Orion sebenarnya ragu karena tidak tahu seperti apa nanti perlakuan kakek nenek ataupun keluarga lainnya yang berada di istana Bulan Dingin.


“Nak... ikutlah yang sekarang. Tidak perlu memikirkan yang lainnya.” ucap Putri Zoya pada Orion yang tampak ragu dan enggan untuk ikut pergi bersama ayahnya.


“Baik ayah... ayo kita berangkat sekarang.” jawab gadis itu tak mau mengecewakan kedua orang tuanya meskipun dia takut jika keluarganya di istana boleh dingin mungkin saja tidak bisa menerima dirinya.


Pangeran Diaz dan Orion segera bangkit dari duduk untuk menuju ke istana Bulan Dingin.


“Sayang... kau ikutlah sekalian bersama kami...” ucap Pangeran Diaz mengajak istrinya namun wanita itu menggeleng.


“Aku tidak mau menjadi beban ataupun menyusahkan selama di sana sayang.” jawab wanita itu yang berjalan mengikuti mereka berdua dan mengantar sampai ke depan pintu.


“Baiklah kalau begitu... kami pergi dulu.” ucap Pangeran Diaz berpamitan pada istrinya.


beberapa lama kemudian Pangeran Dias dan Orion melompat ke udara dan melesat dengan cepat menuju ke istana Bulan Dingin.


Di tengah perjalanan Orion menyampaikan pada ayahnya apa yang ada dalam hatinya.


“Ayah... sebelumnya aku mau buat masalah dengan datang ke negeri amulet. maka jika aku saat ini kembali ke sana malu apa yang akan terjadi padaku ?” tanya Orion pada ayahnya mengingat kejadian yang dulu.


“Kau ke sana bersama Ayah jadi tak perlu khawatir.” jawabnya agar putrinya tidak cemas.


“Lalu ayah... aku belum pernah bertemu dengan keluarga yang ada di istana Bulan Dingin. Apa mereka nanti bisa menerima aku ?” tanya gadis itu lagi pada ayahnya.


“Sudah ayah bilang tak perlu khawatir tak akan ada yang berani mengganggumu kali ini. Percayalah pada ayah, nak.” jelas lelaki itu.


Orion pun sedikit lega mendengar penuturan dari ayahnya. Senyum tersungging di wajahnya dan mereka berdua mempercepat langkah mereka akan segera tiba di istana Bulan Dingin.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2