Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 133 Berkunjung ke Istana Samudera Dewata


__ADS_3

Beberapa minggu setelah permintaan dari Raja Netra, Ketua Desmon mulai melakukan perombakan sesuai permintaan dari Raja Netra.


Lelaki itu membuat peraturan secara tertulis yang menyatakan penghapusan diskriminasi amulet berdarah tidak murni, saxion dan semacamnya. Bahwa kedudukan mereka sama, tak ada bedanya dengan amulet murni. Selain itu Ketua Dewan konstitusi vampir tidak melarang pernikahan beda jenis dan memberikan izin pada mereka bersama keturunannya untuk tetap tinggal di negeri amulet.


Ketua Desmon tampak memanggil salah satu utusannya yang ada di sebelah ruangannya.


“Maaf ada apa ketua Desmon memanggilku... ?” tanya seorang lelaki yang masuk ke ruangan setelah mendapatkan panggilan lewat gelombang ultrasonik.


“Tolong pelajari ini.” ucap ketua Desmon memberikan sebuah gulungan pada utusannya.


Utusan ketua Desmon menerima golongan putih dan segera membukanya lalu membacanya.


“Ini...” ucap lelaki itu setelah selesai membaca gulungan yang diterimanya dengan alis tertekuk.


“Jika kau sudah paham maka beritahukan hal itu pada semua anggota dewan konstitusi vampir di sini. Setelah itu selesai, umumkan peraturan baru itu kepada seluruh penduduk negeri amulet ini.” ucap Ketua Desmon kembali duduk ke kursinya setelah selesai menyampaikan perintahnya.


“Baik ketua Desmon.” jawab sang utusan itu singkat dan tanpa mengutarakan pertanyaan kemudian segera keluar dari ruang Dewan Konstitusi Vampir, karena keputusan dari ketua Dewan Konstitusi Vampir tak bisa diganggu gugat.


Lelaki tadi mengumumkan aturan baru pada seluruh anggota Dewan Konstitusi Vampir. Tampak sebagian anggota Konstitusi tampak menyayangkan aturan baru itu namun mereka tak bisa berbuat apa-apa dan tetap mematuhi aturan itu.


“Ayo bantu aku memperbanyak aturan baru ini kemudian bantu aku menyebarkannya pada seluruh istana ada di negeri amulet.” ucap utusan yang dipercaya oleh ketua Desmond pada anggota dewan yang ada di sana.


Tampak beberapa anggota dewan mulai sibuk menyalin gulungan dari ketua Desmon.


Sementara itu di lain tempat di negeri anubis. Tampak Pangeran Diaz yang mengisi hari-harinya dengan menemani Putri Zoya setiap harinya ke rumah makan dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga saat di rumah.


Di saat makan siang bersama di rumah tiba-tiba Pangeran Diaz teringat janjinya pada mertuanya.


“Bagaimana jika kita bertiga berjalan-jalan besok ke suatu tempat untuk melepas penat ?” tanya lelaki itu menatap istri dan putrinya bergantian.


“Kau ingin mengajak kami jalan-jalan ke mana sayang ?” balas Putri Zoya penasaran. Dia segera meletakkan gelas yang dipakai punya kemeja untuk mendengar penjelasan dari suaminya.


“Ya ayah... kemana pun aku mau...” jawab Orion yang merasa senang karena memang agak merasa bosan belakangan ini dan ingin menghirup udara segar.

__ADS_1


“Ayah akan mengajak kalian berdua ke istana Samudra Dewata.” jawabnya singkat lalu beli memakan hidangan yang ada di depannya.


“uhuk...” Seketika Putri Zoya batuk setelah mendengar ucapan dari suaminya. Dia segera meminum air mineral segelas untuk mengatasi tersedaknya.


Pangeran Diaz tampak tersenyum simpul menatap istrinya.


“Sayang kenapa kau tersenyum padaku saat melihat ku terdesak ?” tanya wanita itu menatap suaminya dengan kesal.


“Tidak... aku hanya merasa lucu saja melihat mu seperti itu...” balas lelaki itu kembali tersenyum.


Orion tidak menanggapi pertengkaran kecil kedua orang tuanya dan tebak tersenyum melihat kedekatan kedua orang tuanya.


“Ayah... kenapa kita tidak mengunjungi nenek dan kakek sekarang saja ? Aku penasaran pada mereka berdua seperti apa kakek dan nenekku...” ujar Orion yang merasa bersemangat dan Tak sabar ingin segera ke sana setelah sebelumnya pernah melihatnya dari luar saja.


“Orion... saran ibu lebih baik kita pergi ke tempat lain daripada ke sana...” jawab Putri Zoya menolak untuk pergi ke sana.


“Kakek dan nenekmu di istana Samudera Dewata sana sangat merindukanmu dan juga ibumu.” jawabnya menatap Orion dan istrinya secara bergantian.


Putri Zoya menatap tajam suaminya setelah berkata seperti itu.


“Ibu aku penasaran ingin ke sana. Ayah sudah menunjukkan istana Samudera Dewata saat menuju ke negeri amulet. Aku yakin kakek dan nenek pasti rindu padaku.” ujar Orion mendukung ucapan ayahnya.


“Sebenarnya saat pertama kali aku mencari kalian ke sini, aku mampir sebentar ke sana. Dan kau tahu ayah dan ibu sangat ingin bertemu denganmu. Mereka sudah berubah dan menyadari kesalahannya...” ucap Pangeran Diaz menjelaskan pada istrinya. namun wanita itu masih tak percaya pada apa yang diucapkan oleh suaminya.


“Sudahlah sayang... besok kau harus ikut ke sana. Aku tak mau dengar alasan apapun lagi darimu.” ucap lelaki itu lagi.


Orion tersenyum dan merasa tak sabar ingin segera bertemu dengan kakek neneknya, sedangkan Putri Zoya tampak malas sekali pergi berkunjung ke sana.


Keesokan harinya di pagi hari setelah sarapan. Pangeran Diaz segera berdiri setelah selesai makan.


“Ayo kita berangkat sekarang...” ajaknya.


Orion dan Putri Zoya segera berjalan mengikuti pangeran dia keluar dari rumah menuju ke negeri anubis.

__ADS_1


Selama di perjalanan Putri Zoya tampak tidak tenang karena tidak siap pada penolakan kedua orang tuanya lagi. Dia kuah teringat jika Orion tumbuh lebih cepat daripada Anubis.


“Sayang... lalu bagaimana jika mereka melihat Orion yang sudah berusia remaja ini...” tanyanya khawatir dan takut mereka akan melakukan hal yang sama pad putrinya.


“Tenang saja sayang... Serahkan semuanya padaku. Itu bisa di atasi.” jawab Pangeran Diaz dengan entengnya untuk membuat istrinya tenang.


Beberapa saat kemudian mereka bertiga di depan gerbang istana Samudra Dewata.


“Kalian berdua berhenti sebentar dulu.” ucap Pangeran Diaz menghentikan langkah Orion dan istrinya.


Orion dan Putri Zoya berhenti, sedangkan Pangeran Diaz berjalan beberapa langkah lalu berhenti. Lelaki itu tampak mengeluarkan asap tipis yang menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru istana Samudera Dewata.


“uhuk... uhuk...” beberapa pengawal yang ada di sana menghirup asap tipis itu dan batuk.


“Asap apa ini...” tanya salah satu pengawal sambil memegang kepalanya yang merasa sedikit pusing.


Hal yang sama juga terjadi pada seluruh penghuni istana Samudra Dewata. Mereka merasa pusing saat ingatan mereka mulai terganti dengan ingatan yang baru mengenai Orion.


“Sayang apa yang kau lakukan ?” tanya Putri Zoya berjalan menghampiri suaminya.


“Kau akan tahu sendiri nanti.” balasnya sambil tersenyum.


Sepuluh menit setelahnya, semua penghuni istana Samudra Dewata tampak normal kembali.


“Ayo kita jalan...” ucap Pangeran Diaz mengajak Putri Zoya dan Orion segera berjalan.


Pangeran Diaz memegang tangan istri dan putrinya berjalan mendekati pengawal yang berjaga di sana.


“Salam Pangeran Diaz... Salam Putri Zoya...” ucap para pengawal yang berjaga di sana menyambut kedatangan mereka.


“Pangeran Diaz tersenyum membalas salam mereka dan masuk ke dalam.


“Sayang... ayo jalan. Apa lagi yang kau tunggu ?” ajak sang pangeran saat melihat istrinya yang masih diam berdiri jauh di belakangnya.

__ADS_1


Orion yang berjalan bersama ayahnya, kembali menyusul ibunya lalu memegang tangannya dan mengajaknya berjalan untuk menyusul ayahnya yang sudah jauh.


BERSAMBUNG....


__ADS_2