
Keesokan harinya Galen masuk ke akademi seperti biasanya. Dia melepaskan plester dari wajahnya karena menurutnya sudah waktunya untuk dilepas. Dia pun membersihkan sisa kotoran bekas plester setelah ditarik pada mukanya sampai bersih.
“Oh ya bubuk ajaib nya belum...” ucapnya berjalan menuju laci yang ada di sebelah cermin. Dia lalu mengambil satu kantong bubuk ajaib dan memercikkan ke wajahnya setelah itu dia menaruh nya begitu saja di atas meja karena terburu-buru.
Galen segera bergegas keluar dari rumahnya karena sebentar lagi dia akan terlambat.
Sesampainya di akademi, dia bertemu dengan Orion dan Ariel yang melewati lorong dan akan masuk ke kelas masing-masing.
Lelaki itu ingin mendekati gadis itu namun dia mengurungkan niatnya karena ada Ariel di sampingnya. Dia pun melanjutkan berjalan. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, dia mendengar mendengar suara derap langkah dari belakang yang mengikutinya.
Saat dia berbalik Orion sudah berdiri di depannya. Sementara itu Ariel tetap berdiri di tempatnya menunggu gadis itu kembali karena tak ingin selamanya berurusan dengan Galen.
“Galen... aku tidak melihatmu kemarin seharian.” ucap Orion menatap Galen sambil memperhatikan bekas memar dan luka di wajahnya yang sudah hilang dan tidak berbekas sama sekali.
Galen tampak diam dan berpikir sejenak mencari alasan yang tepat.
“Kemarin aku tidak enak badan, jadi aku memutuskan untuk tiduran di rumah sepanjang hari.” jelas lelaki itu berbohong.
“Lalu bagaimana kondisi mu sekarang ?” tanyanya lagi yang masih khawatir pada lelaki itu.
“Aku sudah tak apa-apa sekarang. Aku rasa kemarin aku hanya kecapean saja.” jawabnya sambil menatap mata gadis itu yang sebelumnya terlihat mencemaskan dirinya.
“Syukurlah kalau begitu...” ucapnya merasa lega tak ada yang terjadi pada lelaki itu sambil melemparkan senyum kecil padanya.
Karena pelajaran hampir dimulai Orion pun meninggalkan Galen dan kembali berjalan bersama Ariel yang dari tadi masih menunggunya.
“Kenapa kau peduli pada lelaki itu ?” tanya Ariel yang merasa kesal jika Orion perhatian pada Galen.
“Aku hanya menanyakan kabarnya saja Ariel, ada apa dengan mu ?” tanyanya yang merasa temannya itu mulai bertingkah aneh lagi.
Ariel hanya diam saja dan tak menjawab pertanyaan dari Orion. Dia jadi kesal pada gadis itu karena tidak peka pada perasaannya selama ini.
Orion terlihat akan bertanya lagi pada Ariel namun mereka harus berpisah di tengah jalan dan masuk ke kelas masing-masing.
__ADS_1
Siang hari setelah pelajaran usai Orion menunggu Ariel di depan gerbang nama anak itu tak kunjung datang.
Di lain tempat Ariel yang berjalan hampir sampai ke pintu gerbang melihat Orion yang berdiri sendiri dan menunggu kedatangannya. Namun dia berbalik dan melangkah pergi mencari rute jalan yang lain karena hari ini dia tidak ingin bicara pada gadis itu.
Setelah beberapa lama menunggu, dia melihat Galen yang melewatinya lalu berhenti.
“Orion... ?! Kenapa kau masih berdiri disini ?” tanya Galen lalu menghampiri gadis itu.
“Aku sudah menunggu Ariel dari tadi, namun dia belum juga menampakkan dirinya.” jawab gadis itu ngambil topi dari balik tasnya dan memakainya karena merasa sinar matahari saat itu sangat terik.
“Kau tak perlu menunggu anak itu. Lebih baik kau pulang sekarang bersamaku.” bujuk Galen.
Orion tampak diam dan bimbang setelah mendengar ajakan dari Galen. Dia mencoba mempertimbangkannya dan melihat ke sekeliling. Setelah melihat Ariel yang tak kunjung datang akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang bersama kalian dan tidak menunggu Ariel lagi.
Mereka berdua pun berjalan bersama menyusuri jalan sambil mengobrol ringan. Di tengah jalan Orion berhenti di depan sebuah pohon karena dia mendengar suara seekor burung yang terdengar ketakutan.
“Galen tunggu di sini sebentar.” ucapnya.
Galen pun berdiri menunggu di dekat pohon tak jauh dari Orion berada meskipun tak tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
Tanpa pikir panjang dia pun naik ke pohon itu untuk mengambil sarang burung itu agar anak Burung Dalam sarang itu tidak jatuh.
“Orion jangan... bahaya ! Biar aku saja yang melakukannya !” teriak Galen saat melihat Orion yang akan memanjat pohon itu.
Orion tak mendengarkan perkataan Galen dan terus memanjat ke pohon itu.
“Akhirnya aku bisa meraih mu.” ucap gadis itu tersenyum saat berhasil meraih sarang burung yang ada di ujung ranting.
Dia segera melangkah untuk turun dari pohon, namun saat dia menginjak salah satu batang, batang yang diinjak-injak itu patah karena tak kuat menahan berat tubuhnya.
“krak...”
Orion memejamkan mata saat mendengar suara itu. Dia bingung harus melakukan apa agar tidak jatuh karena dia tidak bisa menggunakan kekuatannya di depan Galen yang merupakan anubis. Dia pun hanya pasrah dan bersiap jatuh sambil mendekap sarang burung itu.
__ADS_1
Galen yang melihat kejadian itu tampak dilema apakah dia harus menolong Orion atau diam saja melihatnya, karena hal itu di luar misinya. Dia mencoba pura-pura untuk tidak melihatnya.
“Argh.... !” Orion berteriak dan mencoba meraih batang lain yang bisa di raihnya.
Mendengar teriakan Orion dia pun secara reflek langsung berlari menuju ke pohon itu dan membuang semua pikiran tak masuk akalnya dan mengikuti hati nuraninya.
Beberapa saat kemudian dia sudah ada tepat di bawah Orion.
“Orion kau tenang saja... aku akan membantu mu turun.” ucapnya dari bawah pohon untuk menenangkan gadis itu.
Karena dia tak bisa menunjukkan kekuatannya di depan gadis itu dia pun segera naik ke atas pohon untuk menarik Orion dari sana. Namun belum sempat dia naik ke pohon, batang tempat Orion bergelayut tiba-tiba patah.
“Orion... !”
Orion kembali memejamkan matanya setelah melihat tak ada batang yang bisa diraihnya dan dia bersiap untuk jatuh.
“bruk...”
Galen menangkap tubuh gadis itu tepat sebelum jatuh ke tanah. Tubuhnya bergulung di lantai menjadi alas gadis itu agar tidak terkena batu besar yang ada di sana.
Sementara Orion yang ketakutan memeluk Galen dengan erat masih dengan memegang sarang burung dan menahan nya agar anak burung itu tidak jatuh.
Orion membuka mata dan dia melihat Galen yang terlihat menahan kesakitan sambil mendekap tubuhnya dengan posisi berada di bawah tubuhnya menggantikan dirinya yang seharusnya terluka.
Sejenak mereka saling bertatapan dalam posisi dekat sekali. Bahkan Orion bisa merasakan nafas Galen yang berat saat itu. Beberapa saat dia sempat merasakan jantungnya berdebar hebat saat melihat Galen sedekat itu.
“Ah... Galen... apa kau tak apa ?” tanyanya mencoba menepis rasa aneh yang menjalarinya saat itu.
Dia pun segera turun dari tubuh Galen dan meletakkan seorang anak burung ke tanah.
Galen duduk setelah gadis itu turun dari atas tubuhnya sambil menahan rasa sakit di punggungnya setelah menghantam sebuah batu besar saat menangkap tubuh Orion tadi.
Galen hanya diam dan tak menjawab pertanyaan dari Orion karena dia merasakan pinggangnya sakit saat di gerakkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG....