
Pangeran Diaz tersenyum pada para penjaga yang ada di sana sebelum berjalan memasuki pintu gerbang.
“Terima kasih...” ucap Pangeran Diaz pada para pengawal yang memberikan jalan untuknya.
Beberapa saat kemudian dia tiba di istana. Dia melihat ada perubahan dan beberapa tambahan bangunan baru di istana Itu.
Dari kejauhan Ratu Arni mendengar suara langkah seseorang masuk ke istana. Dia pun berdiri untuk memeriksanya.
“Kenapa tak ada pengawal yang melaporkan jika ada seseorang yang masuk istana ini padaku...” batin Ratu Arni yang tampak sedikit marah pada pengawalnya yang tidak mengindahkan peraturan darinya.
Wanita itu berjalan meninggalkan suaminya yang masih duduk di singgasana. Betapa terkejutnya wanita itu saat melihat sosok yang dikenalnya tepat di pintu masuk istana.
“Diaz... apa benar ini kau, nak ?” tanya Ratu Arni yang sangat terkejut sekali melihat kedatangan menantunya ke istananya.
“Salam... ibu...” jawab Pangeran Diaz memberi salam hormat pada ibu mertuanya sambil tersenyum.
“Bagaimana kabar mu, nak ?” tanya wanita itu sambil tersenyum lebar dan merasa senang menantunya datang menemuinya.
“Baik ibu... bagaimana kabar ayah ?” tanyanya sambil mencari keberadaan ayah mertuanya.
“Itu ayah di sana... ayo kita temui ayah mu.” jawab Ratu Arni lalu segera berjalan menuju ke tempat suaminya berada dan Pangeran Diaz berjalan mengikutinya.
Raja Agastya tampak terkejut melihat istrinya datang bersama menantunya.
“Diaz...” ucap Raja Agastya yang tak percaya pada apa yang di lihatnya.
“Salam ayah...” ucap Pangeran Diaz memberi salam hormat sambil tersenyum padanya.
Raja Agastya lalu menghampiri Pangeran Diaz dan mengajaknya berbincang di ruang santai. Tampak lelaki itu sudah bersikap lunak dan tak marah lagi pada menantunya. Di tengah percakapan dia tampak sedih saat teringat pada putrinya.
“Bagaimana kabar Zoya... apa kau tahu di mana dia berada sekarang... ?” tanya Raja Agastya pada Pangeran Diaz.
Pangeran Diaz tampak tersenyum sebelum menjawab pernyataan Ayah mertuanya.
“Ayah tak perlu khawatir aku sudah menemukan dia bersama Orion.” jawab Pangeran Diaz. Raja Agastya dan Ratu Arni tampak tak percaya mendengarnya.
__ADS_1
“Benarkah itu ?” tanya Raja Agastya dan Ratu Arni dengan wajah berseri-seri melihat menantunya yang mengangguk.
“Bawa aku bertemu dengan mereka. Aku sangat ingin bertemu dengan putri dan cucuku.” ucap Ratu Arni tak sabar setelah mendengar penuturan menantunya.
Pangeran Diaz tampak bingung harus menjawab apa. Karena istrinya sebenarnya masih marah pada kedua mertuanya dan tak ingin menemui mereka berdua.
“Emm... ibu... lebih baik aku saja yang membawa mereka ke sini untuk bertemu ayah dan ibu.” balas Pangeran Diaz menolak secara halus permintaan mertuanya.
“Baiklah aku tunggu kalian bertiga datang lagi kemari.” jawab Ratu Arni tersenyum meskipun sedikit kecewa.
Beberapa jam kemudian Pangeran Diaz berpamitan pada kedua mertuanya.
“Ayah... ibu... aku pamit dulu ke istana Bulan Dingin.” ucap Pangeran Diaz pada kedua mertuanya kemudian keluar dari istana.
“Jangan lupa segera kembali ke sini bersama Istri dan anakmu.” ucap Raja Agastya mengantar sampai di depan pintu Istana.
“Baik ayah...” jawabnya singkat kemudian segera menuju ke pintu gerbang.
Di luar gerbang Pangeran Diaz berjalan sampai beberapa kilometer ke depan dan setelah benar-benar jauh dari kerajaan itu dia melompat ke udara dan melesat dengan cepat menuju ke istana Bulan Dingin.
Seorang tahanan berhasil kabur setelah mendapatkan putusan mati yang akan di laksanakan besok dan sedang bersembunyi dari kejaran para sipir yang akan menangkapnya. Para sipir tahanan tampak kerepotan mencari tahanan yang kabur itu.
“Cari di luar di sekitar sel, pasti tahanan itu masih berada di sekitar sini !” perintah kepala sipir pada semua anak buahnya yang sedang berjaga saat itu.
“Baik... !!” jawab para sipir serentak. Mereka Kemudian menyebar dan mencari ke seluruh area sel, baik di dalam sel ataupun di luar sel.
Tampak penjagaan juga diperketat di sekitar area sel untuk menghindari aksi tahanan lain yang ikut kabur.
Beberapa sipir tampak masuk ke semua sel yang ada di sana dan memeriksa satu persatu sel sebagai antisipasi jika ada kerusuhan atau aksi protes dari para tahanan yang masih berada dalam sel.
“Jika dari kalian ada yang membuat kerusuhan lagi atau berani mencoba kabur dari sini, maka akan segera mendapatkan hukuman mati di tempat !” bentak sipir pada tahanan yang ada di sel.
Sementara itu di luar sel para sipir masih terus mencari keberadaan tahanan yang kabur.
“Bagaimana dengan di sana ?” teriak salah satu sipir pada rekannya dari kejauhan.
__ADS_1
“Di sini kosong. Bagaimana denganmu ?” jawab sipir itu dan bertanya balik padanya.
“Sama di sini juga tak ada... !” balas sipir lainnya dengan berteriak.
Para sipir itu kemudian bergerak dan mencari di lokasi lain yang masih satu area.
Setelah beberapa jam mencari itu kembali dengan tangan kosong dan melaporkan pada kepala sipir mereka.
“Lapor kepala sipir kami sudah menyisir semua lokasi di sekitar area sini namun tanda jejak dan kami belum bisa menemukan tahanan yang kabur itu.” ucap salah satu sipir mewakili para sipir lainnya melaporkan pada atasannya.
“Perketat area di sekitar sel dan terus cari sampai dapat !” perintah kepala sipir itu pada para anak buahnya. Dan para kembali mencari tahanan yang kabur itu.
“srak...” tampak seorang lelaki bersembunyi di sebuah pohon dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membuat dirinya tidak terlacak dan tidak diketahui keberadaannya.
Lelaki dengan tato simbol kartu as yang terdapat di lengan kiri itu terus mengamati keadaan sekitar dan menunggu lokasi tempat yang berada sekarang sepi dari para petugas sipir yang masih mencari keberadaannya.
Tiga jam berlalu. Tampak para sipir itu mengakhiri pencariannya dam beristirahat sebentar di barak dekat penjagaan.
Lelaki itu terlihat menaburkan bubuk ajaib pada tubuhnya lalu membuang begitu saja kantung wadah bubuk ajaib tadi karena buru-buru. Dia lalu merubah wajahnya menyamar menjadi salah satu petugas sipir yang ada di sana.
“tap...” lelaki itu turun dari pohon lalu mencoba berjalan dengan tenang keluar dari area tahanan.
“Hey kau mau kemana... ?” tanya salah satu petugas sipir saat bertemu dengan lelaki tadi di ujung pintu keluar area tahanan.
“Aku mau mencari tahanan yang kabur di luar sini.” jawabnya pada petugas sipir.
“Ya baiklah, segera laporkan jika mendapatkan petunjuk.” balas petugas sipir itu tanpa rasa curiga sama sekali kemudian berlalu meninggalkan kan lelaki itu begitu saja.
“Huft... hampir saja...” gumamnya dengan berkeringat dingin lalu segera melesat dengan cepat dari sana sebelum ketahuan menuju ke negeri amulet.
Sampai di tengah jalan dia berhenti ketika sudah jauh dari wilayah penjara kabut hitam. Dia berjalan melewati istana Bulan Dingin dan terpikirkan sesuatu setelahnya.
“Jika aku menyamar menjadi Pangeran Diaz yang merupakan anggota kerajaan mungkin tak ada yang berani menangkap ku...” batin lelaki itu kemudian menampilkan kembali bubuk ajaib ke tubuhnya dan menyamar sebagai Pangeran Diaz untuk sementara sampai situasi aman.
BERSAMBUNG....
__ADS_1