
Ariel dan Orion ada di taman hiburan sekarang. Mereka mencoba bermain wahana yang ada di sana.
Orion nampak tertawa dan melupakan masalahnya. Ariel tampak senang melihat gadis itu sudah kembali ceria tidak murung lagi.
Setelah puas bermain, mereka pun memutuskan untuk keluar dari wahana itu.
Saat berjalan bersama gadis itu kembali teringat pada pikirannya sebelumnya dan mencoba mengajak temannya itu bicara.
“Hei Ariel... mungkin kau tahu sesuatu dan bisa membantu ku...” ucapnya sambil memelankan langkah kakinya.
“Ya katakan saja. Jika aku bisa aku pasti akan membantu mu.” jawabnya ikut memelankan jalannya.
“Emm... apa kau tahu di mana negeri amulet itu....kau tahu lokasi tepatnya istana Bulan Dingin tidak ?” tanyanya kembali.
Seketika lelaki itu terkejut mendengar pertanyaan dari Ariel. Kenapa tiba-tiba gadis itu menanyakan hal itu padanya ?
“Sebenarnya aku tidak tahu juga dimana lokasi istana amulet itu. Kau tahu sendiri ayah ku tak pernah mengizinkan aku ataupun para werewolf lainnya untuk pergi ke sana. Ada apa kau menanyakan itu ?” tanyanya setelah menjelaskan dengan jujur.
“Kenapa paman Fredi melarang mu dan yang lainnya ke sana ?” tanyanya balik pada Ariel karena penasaran akan hal itu. Soalnya ibunya juga melarangnya pergi ke sana.
“Untuk hal itu aku juga kurang jelas. Mungkin saja kita bermusuhan dengan amulet sebelumnya... ?” jawabnya menebak-nebak saja karena dia tidak tahu apa yang terjadi antara warga amulet dan werewolf sebelumnya, karena ayahnya tak pernah membahas sama sekali tentang amulet.
“Apa... ?? Werewolf dan amulet bermusuhan ?” tanyanya tidak percaya akan hal itu karena dirinya bersahabat dengan werewolf.
“Oh... itu hanya prediksi ku saja... aku tidak tahu kebenarannya. Semoga saja tidak seperti itu.” jawabnya kembali berjalan setelah sempat berhenti.
Mendengar jawaban dari Ariel, gadis itu merasa lega. Karena dia tak mau bermusuhan pada Ariel dan keluarganya yang sudah sepertinya keluarganya selama ini.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah Orion dan berpisah di depan rumah. Gadis itu segera masuk setelah Ariel sudah tak terlihat lagi di jalan.
Dia berjalan ke dapur dan mengambil segelas air dingin lalu menaruhnya ke meja setelah meminumnya separuh. Gadis itu duduk bersandar di kursi ruang tamu. Dia mulai memikirkan siapa yang bisa memberinya informasi tentang lokasi keberadaan istana Bulan Dingin padanya.
“Aku tahu... kenapa tidak terpikirkan oleh ku... ? Jika ibu tidak mau memberitahu ku, paman Fredi pasti tahu dan mau memberitahu ku.” gumam gadis itu setelah lama berpikir dan teringat pada ayahnya Ariel.
“Ya... aku akan ke sana...” ucapnya lalu berdiri dam berjalan ke belakang mencari ibunya.
__ADS_1
Saat itu dia melihat ibunya sedang bercermin dan menyisir rambut panjangnya.
“Ibu hari ini tidak ke rumah makan ?” tanyanya mendekat dan mengambil sisir dari tangan ibunya lalu mulai menyisir rambut ibunya.
“Ada apa... apa kau merasa bosan lagi di rumah ? Ayo ikut ibu ke rumah makan, sebentar lagi ibu mau berangkat.” ucapnya yang mengira putrinya itu jenuh berada di rumah dan ingin ikut dengannya ke rumah makan.
Anak itu menggeleng sambil tersenyum mengetahui ibunya sebentar lagi akan meninggalkan rumah.
“Kau yakin... ?” tanya ibunya bertanya kembali.
“Tidak bu.... ku rasa aku lebih suka tinggal di rumah saat ini.” jawabnya meyakinkan ibunya.
Karena gadis itu versi keras tak mau di ajak, Putri Zoya berangkat sendiri ke rumah makan.
“Ibu berangkat dulu...” Putri Zoya menutup pintu setelah melihat Orion mengangguk padanya.
Gadis itu lalu melihat jam dinding yang ada di rumahnya.
“Berarti aku harus kembali ke rumah sebelum ibu pulang, nanti... atau aku akan ketahuan.” gumamnya melihat jarum jam yang terus berputar.
Satu jam berikutnya dia berdiri dan kembali melihat jam dinding si rumahnya.
“Sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk bertemu paman Fredi.” ucapnya sambil tersenyum lalu mengambil topi dan kacamata untuk menghindari terik matahari di siang hari yang akan membuat kulitnya terbakar.
Gadis itu berjalan cepat dan segera mengunci pintu rumahnya. Dia melihat jalanan saat itu masih ramai sehingga dia berjalan kaki seperti yang lainnya menuju ke rumah Ariel.
Setelah agak jauh berjalan, dia kembali melihat ke sekitar dan mendapati jalanan saat itu sudah sepi. Gadis itu mengeluarkan tisu dari sakunya dan menghapus keringat di wajahnya yang mulai menetes sebelum melompat di udara.
“bruk...” Beberapa saat kemudian dia mendarat dan tiba di depan rumah Ariel.
“tok... tok...” gadis itu mengetuk pintu dan yang keluar adalah paman Fredi sesuai harapannya.
“Oh Orion... kau mencari Ariel ya... masuklah dulu. Paman akan bangunkan dia dulu.” ucapnya mengajak gadis itu masuk ke rumah dan memintanya duduk dulu lalu berjalan masuk ke dalam.
“Tunggu paman... jangan bangunkan Ariel. Sebenarnya aku kesini ingin bicara pada paman.” ucapnya membuat lelaki itu berhenti dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
“Ada apa kau mencari ku, nak... ?” tanyanya penasaran karena tidak biasanya gadis itu mencarinya.
Gadis itu melepas topi dan kacamata yang di pakainya.
“Paman ada yang ingin ku tanyakan pada paman...” jawabnya menatap lelaki itu dengan wajah serius.
“Ya katakan saja Orion apa yang mau kau tanyakan...” jawabnya langsung.
“Paman.... apakah paman tahu di mana negeri amulet ? Apa paman tahu di mana letak istana Bulan Dingin ?” tanyanya kemudian.
Ayah Ariel itu diam sejenak menatap gadis itu dan masih diam. Dia berpikir kenapa anak itu tidak bertanya pada ibunya saja, namun malah bertanya padanya ?
“Kenapa kau ingin tahu... ? Apa kau mau ke sana ? Aku sarankan jangan pernah ke sana.” ucapnya tiba-tiba setelah mengira gadis itu akan pergi ke sana untuk menemui ayahnya atau keluarga kerajaan lainnya.
“Tidak paman... aku tidak akan ke sana. Aku hanya ingin tahu saja dimana lokasinya berada. Tolong paman beri tahu aku jika paman tahu...” ucapnya memohon agar ayahnya Ariel itu mau memberitahunya.
Melihat gadis itu mengiba padanya, dia pun akhirnya tidak tega dan memberitahunya.
“Orion paman akan memberitahu mu. Tapi ingat jangan coba-coba ke sana. Kau tidak tahu bagaimana sikap asli warga amulet.” ucapnya memperingatkan dulu sebelum memberitahunya.
Gadis itu mengangguk dan tak sabar mengetahui dimana ayahnya berada.
“Ya... istana Bulan Dingin letaknya ada di....” Fredi menjelaskan letak istana itu pada gadis itu dan kembali memperingatkannya.
Setelah mendapatkan informasi tentang letak keberadaan istana Bulan Dingin, dia mengucapkan terima kasih dan kembali ke rumah.
Tepat saat dia masuk ke rumah, ibunya membuka pintu. Gadis itu terlihat terkejut melihat kedatangan ibunya.
“Orion kenapa kau terkejut melihat ibu ?” masuk ke rumah dan melihat raut putrinya yang takut melihat dirinya.
“Ah tidak ibu... aku barusan dari rumah Ariel.” jawabnya untuk menutupi rasa terkejutnya.
“Oh ya sudah... Ibu pikir ada apa ?” jawabnya sambil masuk ke kamar dan berganti baju.
Orion bernafas lega setelah ibunya tidak bertanya lebih lanjut padanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....