Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 111 Bertatap Muka Langsung


__ADS_3

Galen yang tahu jika kekasihnya itu sedang gelisah mencoba menenangkannya.


“Orion... tenang kan diri mu. Aku akan mengajak mu bertemu secara langsung dengan ayah Mu nanti.” bisik Galen lagi di telinga gadis itu lalu merangkul bahunya.


Orion menatap wajah ayahnya yang terlihat dari samping dan terlihat tak begitu jelas karena lelaki itu segera menghadap ke depan lagi. Dan dia pun hanya memandangi punggung ayahnya dari belakang.


“Bagaimana rupa ayah ? Apa dia terlihat kejam atau garang karena meninggalkan aku dan ibu. Apa yang di lakukan nya selama ini... apa dia sudah melupakan aku dan ibu ?” batin Orion dengan berbagai pikiran aneh yang terlintas dalam pikirannya.


Di satu sisi ia ingin sekali bertemu dengan sosok ayahnya yang sudah lama sekali dirindukannya. Di sisi lain dia juga merasa ada kebencian saat menyadari dirinya dan ibunya yang sudah lama hidup sendiri.


Orion merasa gelisah dengan perang batin yang terjadi dalam dirinya. Rasanya ia tak sabar ingin segera melihat ayahnya dan melihat reaksinya.


“Galen... aku gugup. Aku baru sekali ini bertemu dengan ayahku dan sama sekali tak mengetahui apapun tentang dirinya.” ucap gadis itu berbisik di telinga Galen.


“Tenang... ada aku di samping mu.”balas Galen dengan berbisik di telinga Orion dan kembali menggenggam tangan gadis itu.


Selama ceramah keagamaan berlangsung, semua yang ada di sana tampak mendengarkan ceramah yang di sampaikan termasuk Galen. Hanya Orion saja yang tidak bisa konsentrasi dan hanya memikirkan ayahnya.


Satu jam kemudian ceramah keagamaan itu selesai. Beberapa orang mulai meninggalkan tempat ibadah itu satu persatu. Galen dan Orion sengaja duduk dan memilih untuk keluar belakangan sambil menunggu timing yang tepat untuk berbicara dengan Pangeran Diaz.


“Orion bersiaplah... ayah mu akan segera keluar dari sini.” ucap Galen pada Orion saat melihat Pangeran Diaz berdiri dari tempat duduknya dan berjalan tak jauh dari tempat mereka duduk.


Galen mengajak Orion berdiri saat Pangeran Diaz berjalan melewati mereka. Dan mereka berdua langsung berdiri di belakang ayahnya Orion.


“Apa yang bisa menahan Pangeran Diaz agar berbicara sebentar dengan ku...” batin Galen memikirkan dan mencari ide.


Orion yang berjalan di belakang Galen tiba-tiba membentur punggung Galen tanpa sengaja setelah orang yang berjalan di belakangnya mendesaknya.


“buk...” Galen membentur punggung Pangeran Diaz yang menyebabkan lelaki itu berbalik.


“Ah maafkan aku... aku tak sengaja.” ucap Galen meminta maaf pada Pangeran Diaz. Dia pun melihat ada sebuah pena di saku baju lelaki itu. Galen memanfaatkan kesempatan yang ada dengan menarik tubuh Orion supaya membentur dirinya dan membuat Galen kembali membentur Pangeran Diaz lalu mengambil pena dari saku lelaki itu dengan cepat.

__ADS_1


“Oh maafkan aku Pangeran Diaz... aku benar-benar tidak sengaja.”ucap Galen kembali meminta maaf.


“Ya tak apa...” jawab Pangeran Diaz berbalik menatap Galen lalu berbalik menatap Galen tanpa tahu penanya tak ada di sakunya lalu keluar dari tempat ibadah itu.


“Galen kau bilang ingin mempertemukan aku langsung dengan ayahku...kenapa kau membiarkannya pergi ?” tanya Orion bergeser berjalan di samping Galen setelah sampai di luar.


Galen tidak menjawab dan hanya menunjukkan pena yang sudah di ambilnya tadi pada Orion.


“Ikuti aku...” ucap Galen secara tiba-tiba meninggalkan Orion dan berlari mengejar Pangeran Diaz yang sudah berjalan menuju ke villanya.


“Tunggu Pangeran Diaz.... !” teriak Galen memanggil ayahnya Orion.


Mendengar ada seseorang yang memanggilnya dia pun berhenti dan berbalik.


“Ada apa Pangeran Galen tiba-tiba memanggilku ?” tanyanya pada Galen.


“Maaf aku menemukan pena mu yang terjatuh, Pangeran Diaz.” ucapnya sambil menyerahkan pena hitam yang dibawanya pada lelaki itu.


Sementara itu Orion yang mengejar Galen akhirnya tiba dan berdiri di samping Galen.


“Kurasa kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali.”ucap Pangeran Diaz tiba-tiba yang membuat Galen tidak memahami maksudnya.


“Em...” jawab Galen sambil tersenyum tak mengerti membalas ucapan ayahnya Orion.


“Maksud ku tadi kau membentur ku dua kali lalu sekarang mengejar ku dan memberikan pena ini. Mungkin ada sesuatu di balik ini...” ucap Pangeran Diaz dengan tersenyum yang membuat Galen. semakin tidak memahami ucapannya.


Orion hanya diam menatap ayahnya lekat-lekat saat dua orang itu berbicara.


“Ternyata ayah ku masih terlihat tampan di usianya sekarang ini dan wajahnya tidak menakutkan.” batinnya terus memandangi ayahnya.


Pangeran Diaz merasa gadis yang berdiri di samping Pangeran Galen menatapnya sedari tadi.

__ADS_1


“Ehm... pangeran siapa gadis di sebelah mu ini ?” tanyanya sambil menatap Orion yang membuat gadis itu tersentak dan berani menatap Galen.


“Ahh... dia Orion... kekasih ku, Pangeran.” ucap Galen tampak malu-malu menjawabnya.


Raut muka Pangeran Diaz seketika berubah setelah mendengar Galen menyebutkan nama Orion dan beralih menatap Orion.


Orion hanya menunduk dan merasakan tubuhnya gemetar menggenggam erat tangan Galen.


“Orion... namamu mengingatkan ku pada putri ku.” ucapnya tersenyum pada Orion dengan tatapan mata sendu.


“Zoya... Orion bagaimana kabar kalian saat ini ? Apa kalian juga merindukan aku sama seperti aku merindukan kalian ?Orion.... Iya mungkin sekarang kau seusia dengan gadis ini.” batinnya menatap Orion dan membayangkan istri dan putrinya.


Orion menatap mata Pangeran Diaz lagi. Entah kenapa rasanya dia melihat kesedihan di mata lelaki itu yang tak bisa di ungkapkan dengan kata.


“Apa kalian mau mampir sebentar ke rumahku untuk minum teh hangat ? Aku lihat Orion tampak kedinginan.” ucap Pangeran Diaz yang melihat tubuh gadis itu gemetar.


Galen menatap Orion sebelum menjawab ajakan dari Pangeran Diaz. Orion menarik baju Galen bagian belakang dengan maksud untuk segera mengajak nya pergi dari sana.


Karena Galen tidak paham pada maksud Orion dan masih diam saja, akhirnya Orion pun memberanikan diri untuk bicara.


“Em... em ay... Pangeran Diaz... terima kasih atas tawarannya, tapi kami ada urusan lain yang harus segera kami selesaikan.” jawab Orion menolak secara halus tawaran dari ayahnya sambil tersenyum menahan berbagai rasa yang sedang berkecamuk dalam dirinya sekarang.


“Baiklah kalau begitu kami pamit dulu Pangeran Diaz.” ucap Galen berpamitan lalu berjalan bersama orang yang meninggalkannya.


“Kenapa aku merasa familiar saat melihat kekasih Pangeran Galen tadi...” batin Pangeran Diaz yang masih memandang punggung Orion sampai hilang dari tandanya barulah dia berjalan kembali menuju ke villanya.


“Bagaimana kau sudah lega bisa bertemu dengan ayah mu ?” tanya Galen setelah mereka berjalan jauh.


“Ya... ku kira ayah ku berhati baja dan kejam tapi ternyata dia...” ucapnya tak ingin melanjutkan perkataannya.


“Apa kau mengira ayah mu berhati jahat ? Pangeran Diaz merupakan sosok yang lembut meskipun dia merupakan macan yang di takuti di medan perang.” jawab Galen memuji ayahnya Orion dan tampak mengaguminya. Sedangkan Orion terlihat sebal karena lelaki itu tidak sepemikiran dengannya.

__ADS_1


“Ayo kita segera kembali saja...” ajak Orion sambil menarik tangan Galen agar mempercepat langkahnya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2