
Putri Zoya berjalan tanpa tujuan setelah pergi dari istana tempat dirinya di besarkan. Dia juga tidak tahu mau tinggal dimana. Dia terus berjalan kemanapun langkah kakinya melangkah.
Di tengah perjalanan, Orion kecil merasa lelah setelah jauh berjalan dan berhenti.
“Ibu aku lelah...kaki ku perih, bu...” ucapnya pada ibunya sambil merintih kesakitan.
Putri Zoya berhenti dan mencari tempat yang bisa di gunakan untuk duduk dan beristirahat sejenak. Dia melihat ada sebuah gubug kosong di tempat yang mereka lalui. Dia lalu menggendong Orion kecil ke gubug itu.
Mereka duduk dan Putri melihat kaki Orion kecil yang lecet saat memeriksanya.
“Kita istirahat sebentar di sini, sayang sambil menunggu kaki mu pulih.” ucapnya sambil membelai rambut putrinya itu.
Orion duduk bersandar di pangkuan ibunya. Semilir angin di tengah padang rumput itu membuat Orion kecil mengantuk dan akhirnya tertidur.
Putri Zoya membelai putri kecilnya itu. Air matanya tak terasa membasahi pipinya melihat putrinya yang harus ikut menanggung hukuman itu bersamanya.
“Seandainya saja ayah mu tahu, dia pasti tak akan membiarkan kita terlantar seperti ini. Maafkan ibu, nak sudah membuat mu menderita menanggung ini semua di usia mu yang masih kecil.” ucapnya sambil mengingat sosok Pangeran Diaz dan menghapus air mata di wajahnya.
Hari semakin siang dan sebelum bertambah panas, Putri Zoya membangunkan Orion kecil dan mengajaknya berjalan kembali. Kali ini sang putri menggendong Orion kecil menyusuri jalanan berbatu itu.
Setelah beberapa lama berjalan akhirnya mereka tiba di suatu perkampungan. Di sana ada pasar, kios-kios penjual dan penginapan.
Putri Zoya melihat seorang kakek tua tak jauh dari tempatnya berjalan. Dia lalu menghampiri orang itu.
“Maaf tuan... apakah tuan tahu di mana aku bisa menyewa tempat untuk kami tinggali ?” tanyanya pada kakek tua itu sambil menurunkan Orion kecil dari gendongannya.
“Ada nyonya... jalan saja lurus mengikuti jalan utama ini. Di sepanjang jalan itu ada penginapan dan juga rumah yang di sewakan.” jawabnya memberi penjelasan pada Putri Zoya sambil menunjuk jalan yang dia maksud.
“Terima kasih tuan...” ucap Putri Zoya pada kakek tua itu. Dia lalu menggendong Orion kembali dan berjalan menuju ke arah yang di tunjukkan oleh Kakek tua tadi.
__ADS_1
Setibanya di jalanan utama, Putri Zoya bertanya lagi pada orang yang ada di jalanan itu dan menanyakan rumah mana yang bisa dia sewa.
Seorang wanita paruh baya yang kebetulan saja rumahnya kosong menunjukkan rumahnya pada sang putri apakah berkenan tinggal di sana.
Putri Zoya masuk ke rumah yang di tunjukkan oleh wanita itu dan memeriksa kondisi rumah itu. Setelah melihat-lihat rumah berukuran sedang itu, sang putri merasa tempat itu layak untuk mereka tempati meski sederhana.
“Aku suka rumah ini nyonya, berapa aku harus membayar uang sewa tiap bulannya pada nyonya ?” tanyanya setelah Orion juga menyukai tempat itu.
Nyonya Diana menyebutkan sejumlah nominal uang sewa pada sang putri. Dan Putri Zoya mengeluarkan sejumlah uang sesuai yang di minta pemilik rumah tadi.
“Terima kasih nyonya... semoga kalian berdua betah tinggal di sini.” ucapnya lalu pergi setelah menerima pembayaran di muka itu.
Kini hanya ada Putri Zoya dan Orion kecil di rumah sederhana itu.
“Ibu....apa kita akan tinggal di sini terus ?” tanyanya yang penasaran.
“Kemungkinan iya sayang...” jawab sang putri sambil mengelus rambut Orion kecil.
“Ibu kurang tahu nak, nanti sampai ayah menjemput kita.” balasnya sambil berjongkok menjelaskan pada putrinya kecilnya itu.
Untung saja Orion kecil bisa mengerti penjelasan ibunya serta menurut pada semua perkataan ibunya itu.
Setengah jam setelah mereka masuk ke rumah sederhana itu, hujan turun. Orion kecil berlari ke luar rumah untuk bermain di bawah air hujan. Karena ini pertama kalinya bagi dia di izinkan bermain hujan yang membuatnya senang sekali hingga bisa melupakan kesedihannya yang ingin bertemu dengan ayah dan neneknya.
Sore pun berganti malam. Saat itu Pangeran Diaz bersiap akan melakukan kunjungan ke mertuanya. Dia menyiapkan hadiah yang akan dia berikan pada Raja Agastya dan Ratu Arni.
Setelah selesai bersiap, pangeran pun segera berangkat ke istana Bulan Dingin sendiri. Setibanya di sana, Pangeran Diaz berjalan masuk ke pintu gerbang dan pengawal penjaga gerbang itu menghentikan langkahnya.
“Tunggu... ada perlu apa mencari raja kami ?” ucap salah satu pengawal menghentikan Pangeran Diaz.
__ADS_1
“Aku suaminya Putri Zoya, maksud ku Pangeran Diaz. Aku ke sini untuk berkunjung menemui mertuaku dan istriku.” jawab Pangeran Diaz menjelaskan.
Pengawal penjaga pintu gerbang itu tak mengerti pada apa yang di maksud orang yang mengaku pangeran itu. Dia melihat penampilan lelaki yang mengaku-ngaku sebagai suami dari putri mereka dari atas sampai ke bawah.
“Sepertinya orang ini memang seorang pangeran. Melihat pakaiannya yang elegan dan tutur katanya yang berwibawa.” batin pengawal yang menjaga pintu gerbang itu.
“Apakah sudah ada janji, tuan ?” tanya pengawal itu lagi yang merasa kurang yakin.
Pangeran Diaz merasa geram dengan banyaknya pertanyaan yang di lontarkan padanya dan perlakuan pengawal itu.
“Apa aku harus meminta izin terlebih dulu untuk menemui istri dan mertua ku ?” ucapnya geram yang membuat pengawal itu takut dan akhirnya memberi izin pangeran untuk masuk.
Pangeran Diaz masuk ke istana dan bertemu dengan Ratu Arni.
“Salam Ratu Arni...” ucapnya membungkuk memberi hormat pada mertuanya itu.
Ratu Arni terkejut sekali dengan kedatangan lelaki yang di ingatnya sebagai kekasih putrinya itu. Dia segera turun dari singgasana dan menghampiri kekasih putrinya itu.
“Ibu... maaf... lama sekali baru bisa mengunjungi ibu. Bagaimana kabar Ratu Arni ?” ucapnya sopan.
Ratu Arni merasa aneh saat kekasih putrinya itu memanggilnya dengan sebutan ibu.
“Bukankah kau Pangeran Diaz, kekasih putri ku ? Ada apa kemari...” tanyanya semakin heran.
“Aku ke sini untuk bertemu dengan Zoya, istri ku dan Orion. Bukankah Zoya sudah menceritakan pada ibu jika kami telah menikah...” tanya Pangeran Diaz yang merasa heran pada mertuanya itu. Ratu Arni juga semakin bingung pada apa yang di katakan lelaki yang mengaku sebagai menantunya itu.
“Nak, tunggu... jelas kan padaku. Kalian sudah menikah ? Kenapa aku bisa tidak tahu. Harusnya aku yang bertanya pada mu dimana putriku karena terakhir kali dia pergi dengan mu.” tanya Ratu Arni sambil menepuk bahu pangeran.
“Maaf jika kami tidak memberi tahu ibu sebelumnya perihal pernikahan kami. Tapi apa benar yang ibu bilang bahwa Zoya dan putriku Orion tidak ke sini ? Dia bilang padaku pagi ini berkunjung ke sini...” tanyanya bingung dan khawatir.
__ADS_1
Raut wajah Ratu Arni juga terlihat bingung setelah mendengar ucapan menantunya itu.
BERSAMBUNG....