
Galen dan Orion melesat dengan cepat di udara keluar dari negeri amulet menuju ke negeri anubis.
“Galen kau yakin tidak kembali ke istana dulu dan menemui ayahmu mengucapkan sepatah dua patah kata padanya...” ucap Orion di tengah jalan.
“Jika aku kembali pasti aku akan dipaksa lagi. Jadi lebih baik aku kembali bersamamu. Biarkan saja dia marah, dan aku akan menanggung hukuman dari ayah nanti.” balas Galen menolak saran Orion.
“Sudah... kata penuh mencemaskan hal itu. Ayo kita melesat lebih cepat.” ucap Galen lagi.
“Ya...” jawab Orion mengangguk lalu melesat lebih cepat agar segera sampai ke negeri anubis.
Di tengah jalan Orion tampak kedinginan dalam gaun yang basah setelah masuk ke lautan tadi.
“brrr... hachi...” Orion menggigil dan kemudian bersin.
“Orion... kau kedinginan...” ucap Galen memegang tangan gadis itu yang dingin.
“Aku tak apa...” balas Orion menggenggam tangan Galen sambil tersenyum untuk meyakinkannya jika dirinya baik-baik saja.
Galen melihat bajunya, bermaksud melepaskan mantelnya untuk menghangatkan tubuh Orion namun ternyata baju yang dikenakannya masih basah.
“Kalau begitu nanti kau mampir dulu ke rumahku dan pakailah mantel ku agar tubuh mu hangat...” balas Galen yang masih khawatir pada Orion.
Tak beberapa lama kemudian mereka tiba di negeri anubis setelah melewati hutan belantara yang luas. Sepuluh menit kemudian mereka tiba di jalanan menuju ke rumah Galen.
“Ayo ikut aku ke rumah dulu baru nanti aku akan mengantarmu pulang...” ucap Galen mengajak Orion.
“Galen sekarang sudah malam... kurasa lebih baik aku segera pulang.” jawab Orion berhenti di ujung jalan saat Galen terus berjalan.
Melihat Orion tidak mengikutinya berjalan, Galen berbalik dan menghampiri Orion lalu memegang tangannya erat dan mengajaknya berjalan menuju ke rumahnya.
“Galen... aku tidak apa-apa...” ucap Orion berusaha melepaskan tangannya dan menolak pergi ke rumah Galen. Namun dia tak bisa melepaskan tangannya dari tangan Galen dan terpaksa mengikutinya.
“Sudahlah Orion... kau menurut saja padaku dan buang sikap keras kepalamu kali ini.” jawab lelaki itu terus memaksa Orion untuk mengikutinya.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah Galen. Orion duduk di kursi ruang tamu menunggu Galen yang berada di kamar dan sedang berganti baju.
Lelaki itu membuka lemari pakaiannya dan memilih beberapa mantel yang tergantung di sana.
“Orion... pakailah mantel ini...”
__ADS_1
Galen keluar dari kamar dengan membawa mantel hitam tebal dan memberikannya pada Orion.
Orion menerima mantel dan segera memakainya.
“Galen... ayo antar aku pulang...” ucapnya berdiri dan berjalan menuju ke pintu. Namun lelaki itu menarik tubuh Orion dalam pelukannya.
“Aku masih rindu padamu...bagaimana dengan mu ?” bisik Galen mesra di telinga Orion kemudian mencium nya.
“Aku juga masih rindu pada mu... tapi sudah malam...” balas Orion sambil menaruh jari telunjuk nya di bibir Galen menghalanginya mencium dirinya.
Galen menyingkirkan jari telunjuk Orion dari bibirnya. Dia pun segera mencium bibir Orion.
“Galen... aku...” ucap Orion mengakhiri ciumannya. Tapi Galen menggendong tubuh Orion sambil mencium bibirnya masuk ke kamarnya.
Dia lalu membaringkan Orion ke tempat tidur dan kembali mencium bibirnya.
“Ahh...” Orion mendesah saat lelaki itu mencium lehernya.
Orion merasa ikut terbakar setelah merasakan tubuh Galen yang semakin panas. Tanpa sadar mereka berdua pun melepas baju yang mereka kenakan.
“Galen...” bisik Orion lirih di telinga Galen dan tanpa sadar dia menarik tubuh Galen dan memeluknya erat setelah merapatkan tubuhnya.
“Sayang... aku mencintai mu...” ucap Galen sambil mempercepat gerakannya dan Orion terus mendesah sambil terus mencium bibirnya yang basah.
Satu jam kemudian Galen menarik tubuhnya dan berbaring di samping Orion.
“Galen... aku mencintai mu...” ucap Orion memeluk erat Galen dan mencium bibirnya.
Satu jam berikutnya Galen mengantar Orion pulang ke rumah. Disana ayah dan ibu Orion sudah menunggu nya.
“Bagaimana pesta perjamuan makan malamnya ?” tanya Pangeran Diaz pada mereka berdua.
“Acaranya lancar ayah...” jawab Orion sambil melirik Galen dan menatap ayahnya dengan tersenyum lebar.
Galen mengobrol sebentar dengan Pangeran Diaz dan setelah itu dia berpamitan pulang.
Beberapa minggu kemudian Raja Netra mengumumkan pada warga amulet tentang pergantian pemimpin tahta kerajaan yang di pegang oleh Pangeran Diaz.
Setelah pengumuman resmi di buat, Pangeran Diaz kembali ke istana Bulan Dingin untuk menggantikan posisi ayahnya.
__ADS_1
Namun Putri Zoya dan Orion masih berada di negeri anubis. Pangeran Diaz berniat memboyong mereka ke negeri amulet setelah acara peresmian penobatan dirinya resmi menjadi raja baru istana Bulan Dingin.
Di suatu pagi yang yang cerah di istana Bulan Dingin terlihat keramaian di sana.
Warga amulet datang untuk menyaksikan acara serah terima jabatan Raja baru di sana.
Beberapa tamu undangan berada di dalam istana menjadi saksi penyerahan kekuasaan dari tangan Raja Netra pada Pangeran Diaz.
Raja Netra berdiri di hall dimana disana banyak tamu undangan dan juga perdana menteri yang merupakan perwakilan dari berbagai kerajaan menghadiri acara itu.
“Dengan ini aku umumkan jika pemerintahan di tangan ku sudah berakhir dan aku serahkan posisi ini pada putra ku.” ucap Raja Netra di tengah para tamu undangan yang hadir saat itu.
Bruno yang merupakan ajudan kepercayaan Raja Netra datang dengan membawa mahkota raja dan membawanya ke hadapan Raja Netra.
“Semuanya yang hadir di sini... dengan ini aku mengumumkan pada kalian semua bahwa mulai hari ini Pangeran Diaz makan resmi menggantikan posisiku sebagai raja istana Bulan Dingin.” ucap Raja Netra.
Pangeran Diaz yang duduk di sebuah kursi di tengah hall berdiri saat Raja Netra datang menghampirinya bersama Bruno.
“Nak... terimalah ini...”
Raja Netra mengambil mahkota yang dibawa oleh Bruno lalu memakaikannya pada Pangeran Diaz.
“Dengan ini kau resmi menjadi raja Istana Bulan Dingin sekarang.”
“Terima kasih ayah...” jawab Pangeran Diaz sambil tersenyum menatap ayahnya.
“prok... prok...” terdengar suara tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan yang hadir di sana saat menyaksikan acara serah terima jabatan.
Pangeran Diaz duduk di kursi singgasana setelah menerima mahkota raja dari ayahnya.
“Hidup raja baru kita... !” sorak para tamu undangan yang hadir membuat suasana di sana terdengar riuh.
“Semoga Negeri amulet sejahtera dan damai berada di bawah kepemimpinan Raja baru kita.” sorak para tamu undangan yang hadir.
“Hidup Raja Diaz.... !” sorak para tamu undangan yang hadir saat raja baru mereka berdiri memberi sambutan pada mereka semua.
Sementara itu di luar juga tampak keramaian dari para warga amulet bersorak-sorai menyambut acara pengangkatan Raja baru di negeri amulet.
Tak beberapa lama kemudian Raja Netra mengarak Pangeran Diaz dalam kereta kuda berkeliling di negeri amulet untuk menyapa seluruh warga yang ada di sana.
__ADS_1
BERSAMBUNG....