
Di pagi berikutnya Orion berangkat ke kampus bersama dengan Ariel yang menunggunya di depan rumah. Setiap hari anak itu selalu mengajaknya berangkat bersama.
Ariel yang tumbuh dewasa pun menjadi sosok lelaki yang bertubuh tegap dan berparas tampan. Banyak gadis lain yang jatuh hati padanya namun dia sama sekali tak melirik gadis lain selain Orion.
Namun gadis itu tak pernah tahu jika temannya itu menaruh hati padanya sejak kecil dulu.
Karena sering jalan bersama banyak warga sekitar yang menganggap mereka berdua adalah pasangan. Tapi Orion tidak mau peduli pada apa kata orang tentang dirinya.
“Ariel ada yang aneh pada diriku.” ucapnya lalu berhenti di bawah pohon besar yang ada di tepi jalan untuk bicara serius sebentar pada lelaki itu.
“Ada apa... ?” tanyanya mengikuti Orion berjalan ke pohon besar dan bersandar ke pohon itu.
“Saat sakit kapan lalu mulutku terasa hambar dan sekarang sudah tiga hari tapi saat aku makan apapun semua yang ku makan masih tak ada rasanya sama sekali. Bagaimana menurutmu itu apa aku sakit atau ada sesuatu ?” ucapnya lalu menceritakan keluh kesahnya pada lelaki itu.
Ariel bingung mau menjawab apa. Dia merasa sebenarnya itu adalah tanggung jawab dari ibunya tapi entah kenapa sampai sekarang ibu Zoya masih tetap belum menceritakan jati diri putrinya itu dan malah dirinya sekarang yang merasa terbebani cara menyimpan rapat rahasia itu selama bertahun-tahun.
“Emm... apa ya... aku tidak tahu pasti...” Ariel menundukkan kepalanya menatap tanah karena dia tidak mau gadis itu menemukan kebohongan di matanya.
Anak itu lama terdiam dan hal itu membuat Orion semakin yakin jika temannya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Karena dia sudah hafal karakter temannya itu yang merupakan teman bermainnya sejak kecil.
Gadis itu berpindah di depan anak itu lalu memegang tangannya.
“Aku yakin kau tahu sesuatu dan kau menyembunyikan itu dariku.” ucapnya maju lebih mendekat lagi dan membuat Ariel merasa gugup karena jantungnya berdetak semakin cepat.
Anak itu melepaskan dengan Orion dan bergeser sedikit menjauh darinya agar detak jantungnya kembali normal dan dia bisa bernafas lega.
“Ariel... ku mohon padamu beritahu aku jika kau tahu sesuatu. apapun itu aku bisa menerimanya. Aku sudah bertanya pada ibu tapi Ibu bilang tidak ada masalah dengan diriku....” ucapnya berharap dan terlihat lesu.
Ariel pun tidak kuasa menahan dirinya untuk menceritakan identitas aslinya saat melihat gadis itu mengiba padanya.
“Hah... ya baiklah akan ku ceritakan padamu dan aku akan memberi satu petunjuk pada mu, tidak lebih. Dan kau harus mencari tahu sendiri sisanya.” ucapnya setelah mengeluarkan nafas dengan berat dan enggan menceritakan yang sebenarnya pada gadis itu.
__ADS_1
“Ayolah....” desak Orion.
“Huft... yang kau sebutkan tadi adalah salah satu ciri dari amulet.” jawabnya yang melihat gadis itu tampak bingung dan semakin penasaran serta ingin bertanya lebih lanjut padanya.
“Amulet... aku baru mendengarnya sekali ini. Apa itu amulet ?” tanyanya kembali yang ingin mengetahui hal itu.
“Sudah ku bilang pada mu di awal tadi, aku hanya memberikan satu petunjuk.” jawab anak itu lalu kembali berjalan setelah melihat ternyata mereka berbicara sudah 30 menit.
“Ah... sial... ! Kau sengaja membuatku penasaran kan?” protes anak itu yang merasa tak terima karena biasanya Ariel selalu membantu dia saat dia dalam kesusahan.
“Orion... kurang 30 menit lagi kelas akan dimulai dan kita hampir terlambat !”
Ariel meninggalkan gadis itu yang masih kebingungan sendiri dan berjalan cepat menuju ke arah kampus mereka.
“Hey tunggu aku... !” Gadis itu berlari dan mengejar Ariel yang meninggalkan dirinya.
Selama di kelas gadis itu tidak fokus saat pelajaran berlangsung. pikirannya melayang pada kata amulet yang tadi diucapkan oleh Ariel. Apa itu amulet ? Apakah semacam suatu suku kuno di masa lampau ? Atau mungkin saja keturunan seorang putri ? semua itu semakin membuatnya penasaran hingga dia pergi sendirian ke perpustakaan di saat jam istirahat.
dia mengambil semua buku sejarah dan membacanya satu persatu namun ia tak menemukan sama sekali kata amulet di buku yang dibacanya tadi.
“Hah...” desah gadis itu yang merasa kesal karena tak menemukan apa yang dicarinya setelah mengambil beberapa tumpuk buku.
mengembalikan buku yang di bacanya itu ke tempatnya karena dia melihat aku sudah ada di depan pintu perpustakaan dan sepertinya dia sudah lama ada di sana.
“Apa kau mencari kata yang ku sebutkan pada mu tadi ?” tebaknya setelah melihat gadis Itu tampak memikirkan sesuatu dan kacau.
Gadis itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan anak itu yang bisa membaca pikirannya dengan jelas.
Sore hari di rumah, Orion duduk sendiri merenung di ruang tamu. Dia berulang kali melihat jam dinding. Rasanya gadis itu tak sabar menunggu ibunya yang masih belum pulang dari tadi.
dia ingin menanyakan kata disebutkan Ariel tadi pada ibunya mungkin saja ibunya mengetahui sesuatu. tapi sudah hampir satu jam dia menunggu dan ibunya masih belum pulang juga.
__ADS_1
“Apa aku susul ibu saja di rumah makan... ?” pikirnya lalu berdiri dan keluar dari rumah setelah menguncinya.
Gadis itu berjalan selama dua puluh menit barulah dia tiba di rumah makan milik ibunya.
Dia bergegas masuk ke rumah makan itu untuk mencari ibunya.
Biasanya jam segitu ibunya ada di ruang istirahat.
“Tidak ada...” ucapnya setelah mencari ibunya tidak ada di ruang tempat istirahat.
“Pasti di sana...” gumamnya keluar dari tempat istirahat itu dan menuju ke ruangan khusus ibunya yang selalu terkunci dan tak ada yang pernah masuk ke sana, bahkan para pekerja di situ juga tidak tahu apa isi ruangan itu.
“klak...”
Orion membuka pintu yang terkunci itu dengan kekuatan vampirnya tanpa di sadari nya.
“Bukankah ruangan ini selalu terkunci... tapi kenapa kali ini terbuka ?” ucapnya yang merasa heran dan penasaran apa ibunya lupa mengunci pintu itu.
Karena penasaran gadis itu terus masuk ke ruangan kecil dan gelap itu. Dia mencari tombol lampu dan menekan untuk menyalakan lampu di ruangan itu.
“blar...” lampu menyala terang.
Bau anyir tercium di ruangan itu dan dia melihat ada beberapa hewan yang mati di ruangan itu dan tergeletak di meja panjang yang ada di sana.
Gadis itu merasa ada yang tidak beres, dia terus berjalan dan mencari ibunya hingga dia menemukan ibunya berdiri di sudut ruangan dengan posisi memunggunginya.
“Ibu...” panggilnya mendekati ibunya dan berhenti saat sudah tepat di belakangnya.
Dia menarik bahu ibunya dan menarik tubuh ibunya menghadap dirinya.
“Ibu... !!”
__ADS_1
Gadis itu terkejut sekali saat melihat bibir ibunya yang bernoda darah sambil memegang satu ekor kelinci di tangannya yang sudah mati.
BERSAMBUNG....