Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 145 Ruang Dimensi Lukisan


__ADS_3

Di suatu pagi Galen keluar dari istana Cawan Suci dan pergi menuju ke istana Bulan Dingin. Dia ke sana untuk mengajak Orion jalan-jalan sebentar.


“Kakek... nenek... kami pergi dulu.” ucap Orion berpamitan pada raja Netra dan Ratu Bonita yang berada di aula untuk memimpin sidang rutin yang diadakan setiap hari Rabu pagi di aula Bulan Kembar, yang akan dimulai beberapa saat lagi.


“Ya sayang...” jawab Ratu Bonita yang sedang duduk melihat persiapan kemudian menatap Orion yang berdiri di sampingnya bersama Galen.


Setelah mendapat izin, Galen dan Orion keluar dari istana bulan dingin. Lelaki itu mengajak orang pergi ke suatu tempat.


“Galen sebenarnya kau mau mengajak kau ke mana kali ini ?” tanyanya pada lelaki itu setelah cukup lama berjalan namun tak kunjung berhenti.


“Sebentar lagi kita akan sampai sayang.”jawab Galen sambil memegang erat tangan Orion.


Tak beberapa lama kemudian mereka tiba disebuah tanah kosong yang ditumbuhi beberapa rumput tinggi di sela-sela rumput pendek.


“Nah kita sudah sampai...” ucap Galen berhenti dan melepas tangan Orion.


Mereka melihat tanah kosong beratapkan langit biru dan berdinding angin semilir yang beberapakali meniup rambut panjang Orion.


“Galen... tempat ini sangat indah sekali...” celetuk Orion saat melihat ada pelangi jauh di depan nya juga beberapa pohon yang tampak mengeluarkan sinar.


“Kau akan menyukai tempat ini. Aku akan mengajakmu berkeliling.” balas Galen kembali menggenggam erat tangan Orion lalu berjalan menuju ke pohon yang mengeluarkan sinar.


“Ah... !” teriak Orion yang terkejut saat berada di bawah pohon yang bersinar tadi dan bisa masuk menembus pohon itu dan berada di tempat lain yang tampak indah dengan pemandangan atau tampilannya yang tak biasa.


“Galen...tempat apa ini...?” Orion berjalan dan kembali melihat tempat yang terasa aneh baginya.


Galen mengajak Orion duduk bersandar di sebuah pohon yang ada di sana sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Orion.


“Ini adalah dimensi lukisan. Tak ada kehidupan di sini namun kita bisa melihat berbagai keindahan yang selama ini hanya terdapat dalam lukisan. Kita juga bisa menghabiskan waktu itu di tempat ini tanpa ada yang mengganggu.” balasnya menjelaskan panjang lebar pada Orion.


“Aku baru tahu ada tempat seperti itu di sini.” jawab Orion sambil merangkul Galen dari samping.


Orion melihat bola-bola cahaya beraneka warna terbang bebas di udara dan berdecak kagum saat melihatnya. Mereka berdua tampak tersenyum bahagia selama ada di sana hingga Orion melontarkan sebuah pertanyaan.


“Galen....bagaimana dengan pesta perjodohan yang kapan lalu itu... apa ada di antara mereka yang menarik perhatianmu ?” tanya Orion tiba-tiba.


“Orion... aku sudah bilang berkali-kali padamu jika aku tak tertarik pada wanita lain selain dirimu.” ucapnya sambil menggenggam tangan Orion dan mencium jemarinya.

__ADS_1


“Ya aku percaya padamu... lalu bagaimana dengan ayahmu ? Ku rasa dia menentang hubungan kita berdua.” ucap Orion lagi dengan wajah sendu.


Galen seketika memeluk Orion untuk menenangkannya.


“Aku pernah mendengar cerita dari ayah dan ibumu jika sebelumnya mereka juga tidak mendapat restu dari kedua belah pihak, tapi lihat apa yang terjadi sekarang ?” balas Galen dan Orion mengangguk tanda mengerti.


“Apa kau akan mencintai ku seumur hidup ku ?” tanya Orion menegaskan kembali karena ada sedikit keraguan di hatinya.


“Tentu saja... apa pun yang akan terjadi aku akan berusaha agar kita bisa bersama.”jelasnya sambil menyentuh pipi Orion.


“Kau janji... ?” tanya Orion lagi dan Galen mengangguk.


Lelaki itu kemudian mencium bibir Orion lama.


“Galen... aku menyayangi mu...” bisik Orion lirih di telinga Galen.


Galen kembali mencium bibir Orion dan merasakan tubuhnya mulai memanas. Dia pun membaringkan tubuh Orion di atas rumput dan tak sadar melepas baju mereka berdua.


“Aah... Galen...” ucap Orion sambil mendesah saat Galen membenamkan tubuhnya dan memeluknya dengan erat.


“Kau janji tak akan meninggalkanku, kan ?” tanya Orion memeluk eat pinggang Galen.


Mereka berdua memadu kasih hingga beberapa kali dan tanpa ada gangguan sama sekali.


Beberapa hari kemudian di istana Cawan Suci dokter kerajaan sudah mendapatkan semua bahan untuk membuat ramuan peluntur rasa yang sudah terkumpul dan lengkap.


Di suatu tempat di laboratorium, dokter kerajaan sedang mencampurkan semua bahan dan memasukkannya dalam sebuah bejana.


“bleb... bleb...” dokter kerajaan mengaduk semua bahan yang sudah ia campur agar rata.


Beberapa jam kemudian dokter kerajaan mengekstrak ramuan peluntur rasa yang sudah jadi agar layak untuk dikonsumsi.


“bleb... bleb...” Setelah beberapa jam ramuan itu sudah selesai diekstrak dan siap untuk di konsumsi.


Dokter kerajaan mengemas ramuan berwarna bening seperti air dan tanpa rasa itu dalam suatu wadah dan membawanya keluar dari laboratorium menuju ke tempat dimana Raja Edwin berada.


Di istana dokter kerajaan bertemu dengan William di tengah jalan, tangan kanan Raja Edwin.

__ADS_1


“Dokter kerajaan apa yang kau bawa itu ?” tanya William berhenti saat berpapasan dengan dokter kerajaan.


"Oh tuan William... Kebetulan sekali kita bertemu di sini.” balas dokter kerajaan menyapa William.


“Maksud tuan ini...” tanyanya sambil mengangkat sebuah botol berisi ramuan dan William mengangguk menjawabnya.


Dokter kerajaan kemudian mendekat dan menatap ke sekitar setelah melihat ada beberapa orang yang lewat di sana.


“Ini adalah ramuan peluntur rasa pesanan dari Raja Edwin.” bisik lelaki itu lirih agar tidak terdengar oleh yang lainnya karena Raja Edwin memintanya untuk merahasiakan hal itu.


"Baik aku mengerti dan tak akan memberitahukan pada yang lainnya. Oh ya Yang Mulia Raja ada di ruangan itu saat ini.” balas William sambil menunjuk ke sebuah ruangan.


“Terima kasih sudah memberitahu, tuan William.” balas dokter kerajaan. Dia pun kembali berjalan setelah William meninggalkannya. Dia menuju ke ruangan yang ditunjuk oleh William.


“tok... tok... tok....” dokter kerajaan mengetuk pintu ruangan yang tertutup setelah tiba di sana.


Raja Edwin yang memeriksa setumpuk berkas yang ada di mejanya dan menaruh kembali berkas yang dipegangnya setelah mendengar suara ketukan pintu.


“Masuk...” ucap lelaki itu singkat.


Dokter kerajaan segera masuk setelah mendengar perintah dari sang raja.


“Salam Yang Mulia Raja Edwin.” ucapnya saat sudah masuk dan memberi salam penghormatan.


“Dokter kerajaan...apa kedatangan mu kesini membawa kabar baik untukku ?” tanya Raja Edwin yang menatap lelaki itu dengan antusias dan berdiri dari duduknya.


"Ya Yang Mulia... kedatanganku kesini membawakan pesanan yang mulia.” balas dokter kerajaan. Lelaki itu kemudian menunjukkan ramuan peluntur rasa yang dibawanya pada raja Edwin.


“Apakah itu adalah ramuan peluntur rasa ?” tanya Raja Edwin lagi dan tampak senang sekali mendengarnya.


“Benar Raja Edwin.” balas lelaki itu menyerahkan botol berisi ramuan pada rajanya.


Raja Edwin menerima ramuan itu dengan tersenyum lebar dan segera menyimpan ke tempat yang aman.


“Bagaimana aturan pakainya dokter kerajaan ?” tanyanya lagi pada dokter kerajaan.


Dokter kerajaan memberitahukan aturan pakainya dan cara meminumnya. Setelah selesai berbincang, dokter kerajaan undur diri dari ruangan sang raja berada.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2