
Beberapa hari berlalu. Suatu malam Orion bermaksud ingin memberitahukan kepada Galen tentang siapa dia sebenarnya. Karena baginya suatu hubungan harus didasari oleh kejujuran agar terus bisa berjalan dengan baik.
Orion duduk di depan jendela yang terbuka. Lama dia melamun dan berpikir kapan sebaiknya dia memberitahu Galen akan hal itu.
“Lalu bagaimana reaksi Galen nanti setelah aku memberitahunya ? Apa dia bisa menerimaku sebagai sosok yang berbeda dengan dirinya ? Bagaimana jika dia tidak bisa menerimaku jika aku sebenarnya adalah seorang vampir. apa dia akan meninggalkanku ?” batinnya yang seketika menjadi ragu membayangkan apa reaksi kalian nanti karena dia belum siap jika lelaki itu meninggalkan dirinya.
Tiba-tiba ibunya masuk ke kamar dan berganti baju. Putri Zoya melihat Orion yang melamun menghampirinya dan menepuk bahunya dengan lembut.
“Ah... ibu... ?!” ucapnya tersentak kaget saat berbalik dan menatap ada ibunya di sampingnya.
“Kenapa melamun, apa ada masalah ?” tanyanya kemudian bersandar ke dinding di dekat jendela. Orion menatap ibunya. Banyak hal yang ingin dia sampaikan pada wanita itu tapi dia tak mau menambah beban pikiran ibunya dengan masalahnya. Dia pun menggeleng pelan menatap ibunya sambil tersenyum.
“Lalu ada apa ? Bagaimana hubunganmu dengan Galen ?” tanyanya lagi memancing agar gadis itu mau bercerita padanya.
“Ibu hubunganku dengan Galen baik-baik saja, tak ada masalah di antara kami.” jawabnya lagi sambil tersenyum tipis. Meskipun gadis itu menyembunyikan sesuatu hal dari ibunya, sebagai seorang ibu Putri Zoya peka dan tahu jika ada kekalutan yang sedang dialami oleh Orion. Karena tidak terpancing oleh ucapannya dia pun tidak mendesak Orion untuk bercerita padanya.
“Baiklah jika memang ada masalah di antara kalian berdua Ibu pergi dulu.” ucapnya kemudian pergi dari kamar dan membiarkan gadis itu sendirian dengan menghargai privasinya.
Keesokan paginya gadis itu bangun pagi dan sudah bersiap sebelum Galen datang menjemputnya.
“tok... tok...”
“Itu pasti Galen...” ucap Orion yang baru selesai bersiap kemudian segera menuju ke pintu dan membukanya.
__ADS_1
“Tumben kau sudah siap ?” ucap Galen sambil melempar senyum manis ke Orion di depan pintu.
“Ya tentu saja... aku tak mau membuatmu menunggu lama seperti biasanya.” jawabnya menarik tangan lelaki itu untuk mengajaknya masuk dan duduk sebentar karena hari masih pagi.
“Orion sebaiknya kita berangkat sekarang saja. Kita bisa jalan-jalan dulu sebelum masuk ke akademi. Ayo kata berpamitan pada Ibumu dulu.” ucap Galen menolak ajakan Orion untuk duduk.
Orion kembali masuk ke rumah dan mencari ibunya untuk berpamitan dan ternyata ibunya sedang berada di kamar mandi.
“Ibu... aku berangkat dulu bersama Galen.” ucapnya berdiri di depan kamar mandi mendengar suara ibunya yang belum selesai mandi.
“Ya nak, berangkat lah. Hati-hati di jalan. Ibu baru masuk kamar mandi.” jawabnya dari balik kamar mandi.
Orion segera kembali lagi ke depan setelah berpamitan pada ibunya menyusul Galen. Mereka pun berjalan keluar dari rumah menuju ke akademi.
Angin pagi yang segar menerpa rambut panjang gadis itu dan membuatnya sedikit berantakan. Galen menyentuh rambut panjang Orion lalu merapikannya. Orion hanya melempar senyum kecil Kalau Salem lalu mencoba memberanikan diri untuk mengungkap jati dirinya.
“Apa yang mau kau sampaikan padaku ? Katakanlah...” ucapnya kemudian.
“Galen sebenarnya... sebenarnya aku berbeda denganmu. Maksud ku kita tidak sama. Apa kau bisa menerima diriku apa adanya jika aku ternyata sesosok yang tak kau kenal sebelumnya seperti sekarang ini...” Orion menahan ucapannya dan ingin melihat reaksi Galen sambil menyiapkan mental nya.
Galen yang mengerti arah pembicaraan dari gadis itu dan yakin jika Orion ingin mengungkapkan identitasnya sebagai seorang amulet di depannya terlihat senang dengan niat gadis itu yang berinisiatif duluan memberitahunya.
“Orion... kau tak perlu khawatir. Apa pun diri mu, siapapun dirimu meskipun kau monster atau sejenisnya aku tetap akan menyukaimu tak ada yang berubah dan tak ada yang bisa merubah cintaku padamu.” jelasnya sambil mengecup kening marya untuk membuatnya yakin padanya. Orion merasa lega mendengarnya dan kembali tersenyum lebar.
__ADS_1
“Galen sebenarnya aku adalah seorang...” Galen terlihat tidak mendengarkan perkataannya dan malah menarik tangannya lalu mengajaknya berlari ke suatu taman yang ada di dekat akademi.
“Orion... ayo kita duduk sejenak di sana.” ucapnya sambil terus menarik gadis itu masuk ke sebuah taman. Mereka berdua pun akhirnya duduk. Galen mengganti topik pembicaraan sehingga Orion melupakan apa yang akan disampaikan pada Galen.
Malam hari di rumah Orion.
Gadis itu menatap bulan yang tampak penuh dan berwarna merah. Di bulan purnama ini dia kembali merasakan haus seperti beberapa waktu yang lalu. Namun dia sudah bisa mengontrol rasa hausnya dengan menghisap darah binatang.
“Sepertinya sudah saatnya aku untuk minum sekarang.” gumamnya menatap Bulan yang berwarna merah darah dari jendela kamar.
Dia membuka jendela kamar lalu melompat keluar dan melesat ke udara menuju ke sebuah hutan untuk berburu. Dia tidak mau melukai hewan kecil dan lembut yang ada di sekitar rumahnya dan memilih menangkap seekor babi rusa atau atau hewan buas lain yang ada dalam hutan.
“Ada babi hutan rupanya...” ucapnya saat tiba di hutan dan melihat sekelompok babi hutan yang berlari di tengah hutan. Dengan cepat dia mengejar sekelompok babi hutan itu dan menangkapnya satu lalu menghisap darahnya sampai habis untuk meredakan rasa harusnya yang teramat sangat di malam itu.
Sementara di lain tempat, hal yang sama juga terjadi pada Galen. lelaki itu juga merasakan kehausan di malam bulan purnama. Dia keluar dari rumah dan mencari hewan buruan. Hanya saja dia tak mau keluar jauh seperti Orion yang berburu sampai ke hutan. Dia hanya keluar di dekat rumahnya saja untuk mencari hewan buruan.
“Ada lima ekor kelinci di sana !” ucapnya saat melihat beberapa kelinci yang melompat di balik rerumputan. Dia pun segera bergerak cepat dan menangkap lima ekor kelinci itu lalu membawanya pulang dan menghisap darahnya di rumah agar tidak ketahuan oleh yang lainnya.
Di katakan rasa haus seorang amulet berjenis kelamin lelaki dua kali lebih besar dari amulet berjenis perempuan jadi mereka membutuhkan darah lebih banyak daripada wanita.
Kembali lagi Orion yang sudah selesai menghisap darah babi hutan dan beranjak keluar dari sana. Gadis itu melesat dengan cepat dari sana dan kembali pulang. Di tengah jalan entah kenapa tiba-tiba dia ingin mampir ke rumah Galen.
Beberapa saat kemudian dia sudah berdiri di depan pagar rumah Galen. Ada yang aneh di sana. Pintu rumah Galen dan juga pagarnya terbuka.
__ADS_1
“Galen masih terjaga jam segini ?!” gumamnya tak percaya. Karena penasaran dia pun membuka pelan pagar itu lalu menutupnya lagi setelah itu berjalan memasuki ke rumah. Dia tidak melihat Galen ada di ruang tamu lalu dia berjalan lebih masuk lagi ke dalam untuk mencarinya.
BERSAMBUNG....