
Sementara itu di istana bulan dingin, Raja Netra yang sudah tak peduli pada Pangeran Diaz enggan berurusan dengan segala sesuatu yang menyangkut putranya itu. Semua masalah yang menyangkut istana yang biasanya ia serahkan pada Pangeran Diaz kini ia tangani sendiri. Bahkan Raja Netra enggan mampir me villa api abadi untuk sekedar melihat putranya itu sejak kejadian terakhir malam bersama.
“Sayang... bagaimana menurut mu putra kita ? Tak ada kabar darinya. Apa dia tetap menikah dengan wanita pilihannya itu ?” tanya Ratu Bonita yang merasakan rindu pada putra pertamanya itu dan ingin bertemu dengannya.
Raja Netra langsung berdiri dari kursi singgasananya dan tampak geram.
“Aku tidak mau memikirkan anak itu lagi, apalagi bertemu dengannya.” jawabnya lalu pergi dari altar istana meninggalkan istrinya yang tampak kecewa mendengar jawabannya itu.
“hah...” suara Ratu Bonita mendengus kesal pada sikap keras kepala suaminya itu.
“Jika kau tidak mau bertemu dengan putra kita, maka aku sendiri yang akan menemuinya, haha... aku juga ingin mengenal wanita itu. Diaz pasti tak asal pilih wanita sembarangan.” ucapnya lirih dan tertawa kecil.
Ratu Bonita lalu keluar dari istana bulan dingin tanpa sepengetahuan Raja Netra dan menuju ke villa api abadi yang letaknya tak jauh dari istana dan hanya di tempuh dalam waktu 20 menit dengan berjalan kaki.
“Salam yang mulia Ratu Bonita.” ucap para pengawal dan pelayan yang ada di villa itu saat melihat kedatangan Ratu Bonita.
Ratu masuk ke villa dan menemukan putranya yang biasanya duduk di ruangan santai itu.
“Sayang... Diaz... mama datang, kau ada dimana, nak ?” teriak Ratu Bonita memanggil putranya dan masuk ke ruangan lainnya mencari putra pertamanya itu namun dia tak menemukan keberadaan putranya di manapun di villa itu.
“Maaf Ratu... Pangeran Diaz sudah tidak lagi menempati villa ini.” ucap salah satu pelayan yang ada di sana.
“Apa... sejak kapan dia keluar dari sini ?Dan ada dimana dia sekarang ?” tanya sang ratu kembali.
“Pangeran ada di villa jantung emas, ratu...” jawab pelayan itu singkat dan tak berani memberitahu kabar pernikahan pangeran, karena sebelumnya pangeran Diaz melarang mereka memberitahu siapa pun perihal pernikahannya, terutama pada keluarga intinya.
Untung saja Ratu Bonita tidak bertanya lebih lanjut dan keluar dari villa itu. Dia lalu pergi sendiri ke villa jantung emas.
Tak beberapa lama kemudian Ratu Bonita sampai di villa jantung emas. Dia berjalan tergesa-gesa dan masuk ke villa itu.
__ADS_1
Pangeran Diaz yang saat itu ada di balkon dan sedang bersantai dengan istrinya mendadak berdiri.
“Sayang ada apa ?” tanya Putri Zoya menarik suaminya agar duduk kembali.
“Kau disini saja. Aku mencium bau ibu ada di sini.” mengabaikan ajakan istrinya itu lalu segera turun dengan cepat ke lantai bawah. Dia khawatir saja jika ibunya akan melakukan suatu hal yang buruk pada istri dan anaknya.
“Diaz, aku ikut... !” teriaknya lalu menyusul suaminya turun ke bawah.
“Zoya sudah ku bilang jangan ikut. Tunggu di sana !”ucapnya dengan nada agak tinggi. Baru kali ini dia di bentak oleh suaminya. Melihat suaminya yang emosi, Putri Zoya pun kembali ke balkon dan menunggu suaminya dengan rasa cemas.
Pangeran Diaz turun dengan cepat dan tiba tepat di depan di pintu saat Ratu Bonita membuka pintu.
“Ibu... ?! Ada apa ibu kemari ?” tanyanya dengan wajah tidak ramah.
Ratu Bonita langsung masuk ke rumah meski tak di sambut dengan baik oleh putranya itu. Mungkin dia di perlakukan seperti itu karena dia tidak memberikan restu pada putranya itu.
“Siapa lagi yang ada di sini selain dirimu, nak ?” tanpa menunggu jawaban dari putranya, Ratu Bonita terus berjalan. Namun Pangeran Diaz mengikutinya dan menghalangi ibunya masuk ke ruangan lain.
“Ibu... kita duduk saja disini. Tak perlu mengurusi urusan ku. Ada perlu apa mama mencari ku ?” menarik tangan ibunya untuk duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Dan dengan terpaksa Ratu Bonita duduk. Namun dia mencium aroma vampir lain yang mendekat dan baunya semakin kuat.
Tiba-tiba Orion muncul di depan mereka sedang mengejar bola.
“Siapa anak itu...” menatap Pangeran Diaz dengan tatapan menyelidik. “jangan bilang dia...” menelan ludah karena merasa shock dan berharap apa yang dipikirkannya tidak terjadi.
Orion mengambil bola itu lalu menghampiri Pangeran Diaz dan bersembunyi di balik kakinya setelah melihat ada Ratu Bonita.
“Ayah... takut...” Orion kecil memegangi kaki ayahnya sambil melirik ke arah Ratu Bonita.
Ratu Bonita benar-benar terkejut mendengar anak kecil itu memanggil putranya dengan sebutan ayah.
__ADS_1
“Jadi dia anak mu ? Kapan kau menikahi wanita itu ?” Ratu Bonita berdiri dan menghampiri cucunya itu.
Orion kecil yang ketakutan terus memegangi kaki ayahnya dengan erat. Mengetahui putrinya ketakutan, Pangeran Diaz lalu segera menggendong putrinya itu.
“Jangan takut nak, ada ayah di sini.” Pangeran Diaz mengelus rambut Orion untuk menenangkannya. Namun Ratu Bonita malah mendekatinya lagi.
“Sayang... jangan takut. Ini nenek... ikut nenek sini.” berdiri di samping Pangeran Diaz dan mau mengambil anak itu. Namun sang pangeran menghalangi Ratu Bonita.
“Ibu sebenarnya apa tujuan mu datang kesini ? Katakan pada ku. Jika ibu berniat untuk menyakiti keluarga ku lebih baik mama keluar dari sini sebelum aku bertambah marah.” ucap pangeran Diaz semakin bertambah gusar.
“Ibu hanya ingin melihat mu saja, nak. Kenapa kau tidak memberi tahu ku hari pernikahan mu ?”Ratu Bonita menyentuh rambut Orion kecil dan mengusapnya meski Pangeran Diaz melarangnya menyentuh Orion.
“Apa ibu akan merestui ku jika aku bilang pada ibu ? Kurasa tidak...” jawab Pangeran Diaz menjauh dari ibunya agar dia tidak mengganggu Orion lagi.
“Kau salah paham pada ibu mu ini. Maksud kedatangan ku ke sini, aku ingin mengenal kekasih mu maksud ku istri mu lebih dekat lagi...” ucapnya tulus. Namun sang pangeran tetap saja tidak percaya dengan ucapan ibunya itu. Pasti ibunya punya suatu rencana tersembunyi. Tidak mungkin bisa langsung berubah pikiran secepat itu.
“Dimana istri mu sekarang ? Aku ingin bertemu dengan dia.”ucap sang ratu dan mencari aroma putri Zoya di rumah itu. Tapi dia tidak merasakan ada aroma anubis di sana.
“Kau... apa kau telah menjadikan istri mu itu anubis ?” tanya sang ratu penasaran yang membuatnya semakin geram pada ibunya itu.
“Ibu sudah ku bilang pada mu jangan campuri urusan ku. Lebih baik ibu pergi sekarang jika tak ada yang perlu di bahas lagi.” ucapnya dengan nada agak tinggi yang membuat Orion kecil menangis mendengar ayahnya yang membentak.
“Aku permisi dulu, ibu...” ucap pangeran lalu pergi meninggalkan ibunya dan membawa pergi Orion yang masih menangis.
“Tunggu Diaz... !” teriakannya tidak di gubris oleh sang pangeran dan membiarkan ibunya sendirian di ruangan itu.
“Baiklah lain kali aku akan berkunjung lagi kesini...”ucapnya sambil tertawa kecil lalu keluar dari villa itu dan kembali ke istana bulan dingin.
BERSAMBUNG....
__ADS_1