Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 91 Terungkapnya Pemilik Kantung Hitam


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Ariel yang masih belum bisa move on menerima kenyataan bahwa Orion lebih memilih Galen daripada dirinya sering terlihat mengurung diri di kamar.


Tampak lelaki itu duduk di sudut kamar dan membenamkan kepala pada kakinya mengusir rasa sakit yang masih menggelayuti hatinya.


“Hah... sudahlah aku tak mau mengurusi mereka berdua lagi.” ucapnya sambil menghembuskan nafas berat. Dia mengangkat kepala dan memegang dengan kedua tangannya lalu bersandar pada dinding.


Di luar Fredi yang melihat beberapa hari ini tingkah anaknya menjadi aneh masuk ke kamarnya.


“creak...” Fredi masuk ke kamar dan melihat Ariel yang kondisinya kacau. Dia lalu menarik dana itu dan mengajaknya duduk.


“Nak, ada apa denganmu ? Kenapa ayah perhatikan akhir-akhir ini kau terlihat berantakan dan tak bersemangat. Apa kau ada masalah ? Coba ceritakan, barangkali ayah bisa membantumu.” ucapnya menatap Ariel yang kelihatan berbeda dari biasanya. Ariel diam menatap ayahnya. Dia berpikir apa yang akan dilakukan ayahnya jika dia menceritakan semua masalah dan kalau kesannya pada ayahnya. Dia tidak mau saja jika setelah tahu ayahnya akan mengolok nya.


“Ayah yakin kau ada masalah. Katakanlah...” desaknya lagi.


Ariel menatap kembali ayahnya dan kembali menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dia pun akhirnya menceritakan permasalahan yang membuat dadanya sesak pada ayahnya.


“Ayah... Orion menolak dan lebih memilih lelaki lain.” ungkapnya lalu menunjukkan wajah. Fredi sesaat tampak terkejut karena tak menyangka putranya jatuh cinta pada vampir kecil itu.


“Ha... ha... ha...” Fredi malah tertawa mendengar cerita putranya lalu menepuk bahunya dengan keras membuat Ariel merasa malu di depan lelaki itu dan tak bisa berkata-kata.


“Ariel kau masih muda. Jalan mu ke depan masih terbentang panjang sekali. Jika kau sedih hanya karena ditolak seorang wanita maka kau tak pantas menjadi seorang lelaki.” ucapnya lagi sambil tertawa dan Ariel hanya menatap ayahnya saja.


“Ada banyak wanita di dunia ini. Jika satu wanita menolak mu masih ada banyak wanita lainnya yang akan menerima cintamu. lebih baik kau pergi jalan-jalan sana agar pikiranmu terbuka. Ayo cepat pergi sekarang.” ucap Fredi memberi nasehat dan menyarankan Ariel untuk keluar dari rumah agar rasa sedihnya itu hilang.

__ADS_1


Ariel lama menatap ayahnya lalu dia berdiri dan segera keluar dari kamarnya sebelum ayahnya kembali berceloteh. Dia masuk ke kamar mandi sebentar untuk membersihkan dirinya keluar dari rumah dan menghirup udara segar.


Saat Fredi akan keluar dari kamar Ariel, tatapannya terpaku pada kantong hitam yang tergeletak di meja dekat pintu. Karena penasaran dia pun berdiri dan mengambil kantong hitam itu. Dia membuka dan melihat isinya setelah mengambilnya.


“Ini kan... persis sekalu dengan kantong yang aku temukan saat ada amulet yang menyusup ke sini sebelum acara pelelangan. Kenapa Ariel juga mempunyai kantong ini ?” gumamnya dan menaruh kembali kantung itu ke meja. Dia pun bergegas keluar dari kamar Ariel dan mencarinya, namun ternyata anak itu sudah tak ada di rumah.


“Baiklah nanti aku akan tanyakan padanya setelah dia kembali.” Fredi duduk di kursi menunggu kedatangan Ariel setelah mencarinya di seluruh rumah dan tidak menemukannya.


beberapa saat kemudian Ariel kembali setelah keluar menghirup udara segar. Wajahnya sudah kelihatan berseri tidak seperti sebelumnya yang tak bersemangat. Diapun masuk ke rumah dan melewati ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu. namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba ayahnya memanggilnya.


“Ariel... ada yang ingin kutanyakan padamu.” panggil Fredi agar anak itu duduk di sebelahnya. Ariel menatap ayahnya sambil mengerutkan dahi. Dia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya, apakah masih seputar masalah tentang patah hatinya.


“Ya... katakan saja ayah.” ucapnya akhirnya duduk di sebelah ayahnya dengan penasaran. Fredi menunjukkan kantong hitam yang diambilnya dari kamar Ariel.


“Sebenarnya apa kantong hitam ini ?” ucapnya bertanya balik pada ayahnya.


“Kantung hitam ini aku menemukannya beberapa hari sebelum acara pelelangan dimulai saat ada amulet yang menyusup ke sini. Dan aku sudah meneliti bubuk dalam kantong ini bermanfaat untuk menyamarkan aroma tubuh.” ucapnya menjelaskan.


Ariel tampak shock mendengar penjelasan dari ayahnya. Mukanya langsung pucat pasi setelah mengetahui jika serbuk itu kemungkinan adalah milik amulet yang berusaha menyusup.


“Jadi apakah Galen adalah benar-benar seorang amulet ? Dan dia yang menyusup ke sini ? Jika benar begitu maka Orion dalam bahaya besar.” batinnya memikirkan gadis itu sekarang.


“Lalu bagaimana bisa kau juga mempunyai kantong ini, dari mana kau menemukannya ?” ucap Fredi bertanya balik pada Ariel. Namun dia tidak menjawab pertanyaan dari ayahnya dan malahan dia langsung berlari cepat keluar dari rumahnya.

__ADS_1


“Hey Ariel... ayah belum selesai bicara. Dasar anak muda !” gerutunya kesal melihat putranya meninggalkannya begitu saja.


Sementara itu Ariel terus berlari dengan cepat di udara menuju ke rumah Orion.


“tok... tok...”


Ariel mengetuk pintu dan menunggu dengan tak sabar. Namun tak ada yang menjawab atau pun membuka pintu rumah.


“Tak ada orang di rumah. Kemana Orion pergi ? Apa dia menyusul ibunya di rumah makan ? Kalau begitu Aku akan menyusulnya sekarang.” gumamnya lalu berbalik dan berjalan menuju ke arah rumah makan milik ibunya Orion. Namun baru beberapa langkah Dia berjalan dia berbaring lagi dan memutuskan untuk kembali ke rumah.


“Mungkin besok saja aku akan beritahukan pada Orion saat bertemu di Akademi.” ucapnya lagi karena tak ingin mengganggu kegiatan gadis itu saat ini dan dia berpikir Gadis itu pasti akan baik-baik saja jika bersama dengan ibunya.


Di lain tempat Orion tampak duduk di sudut meja di rumah makan bersama Galen. Mereka berdua berbicara, tersenyum sambil menikmati makanan dan minuman yang ada di meja saat itu.


“Orion... diam sebentar.” pinta Galen pada gadis itu lalu mengambil tisu yang ada di dekatnya dan membersihkan sisa makanan yang menempel pada bibir Orion.


Dari kejauhan Putri Zoya mengawasi mereka berdua tanpa sepengetahuan Orion dan Galen. Dia melihat putrinya yang memerah pipinya saat Galen menyentuh wajahnya dan wajahnya tampak resah menyaksikan hal itu.


“Kalian berdua saling menyukai... bagaimana bisa aku memisahkan kalian berdua. Seandainya saja Galen kau bukan manusia, melainkan amulet seperti kami aku pasti mengizinkanmu mendekati Orion. Aku hanya tak ingin putriku menjalani kehidupan yang sama denganku atau bahkan lebih buruk lagi nantinya.” ucapnya tersenyum getir melihat pemandangan di depan matanya itu. Dia pun segera pergi dari sana dan masuk ke ruangan lain agar Orion dan Galen tidak menyadari kalau dirinya sedang mengawasi mereka berdua.


Sementara itu Orion tampak kembali tersipu saat Galen menatapnya lekat-lekat sambil menggenggam tangannya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2