
Ariel mengikuti Galen yang masih berjalan dengan beberapa wanita. Ada tiga orang gadis yang saat itu berjalan bersama Galen. Tiga orang gadis itu mulai bertingkah liar saat mereka merasa tak ada yang melihatnya.
Satu orang gadis menariknya dan menggiringnya ke sisi dinding. Dia berdiri di depan Galen yang hanya berjarak beberapa centi meter saja. Dia lalu menempelkan dadanya pada lelaki itu sambil berbisik di telinganya.
“Apa yang mau di dilakukan oleh gadis ini padaku ?” batinnya yang merasa risih sambil mendorong tubuh gadis itu agar tidak terlalu dekat dengannya karena di negeri amulet tak seorangpun gadis yang pernah dekat ataupun menyentuhnya seperti di dunia anubis.
Sementara seorang gadis juga mendekat di samping kirinya lalu memeluk pinggangnya sambil menyandarkan kepalanya ke dadanya yang bidang.
Gadis lainnya melihat dua gadis itu yang merayu Galen terlihat tidak senang pada mereka dan menarik dua gadis itu dari tubuh Galen lalu memeluknya lehernya.
Dua gadis tadi yang tidak terima di perlakuan sedemikian rupa oleh gadis itu menarik tubuh gadis itu dan akhirnya mereka bertiga berkelahi.
Galen pun merasa semakin muak dengan tingkah para tiga gadis itu yang berkelahi hanya untuk memperebutkan dirinya. Melihat mereka yang masih sibuk sendiri, Galen tersenyum menyeringai lalu segera pergi dan meninggalkan mereka.
“Aku merasa muak dengan sikap mereka yang murahan sama sekali tak ada sikap elegannya.” ucapnya sambil menoleh ke belakang lalu mengibaskan tangannya pada bajunya seperti membersihkan kotoran pada tubuhnya.
Sementara itu tiga gadis yang asyik berkelahi sendiri tadi baru menyadari jika Galen sudah tidak di sana.
“Gara-gara kalian sih... dia jadi kabur...” ucap salah satu gadis yang mengakhiri perkelahiannya lalu berlari mencari jalan namun dia tak menemukan lelaki itu dan akhirnya berjalan ke arah lain dengan kesal.
Galen yang bersembunyi dibalik lakukan dinding kembali berjalan setelah melihat gadis yang mengejarnya sudah pergi.
“Sungguh-sungguh merepotkan...!” ucapnya sambil menghembuskan nafas menuju ke toilet yang ada tak jauh dari tempatnya sekarang.
Ariel yang sudah melihat pemandangan yang tidak di sangkanya, dan merasa mual melihat tingkah para gadis itu segera berjalan setelah mereka semua pergi. Dia lalu mencari Galen dan melihatnya masuk ke sebuah toilet.
“brak...” tak lama kemudian Galen keluar dari dalam toilet. dia berhenti di dekat tempat sampah dan melemparkan sebuah kantong ke dalamnya lalu pergi dari sana secepatnya.
Ariel yang melihat dari kejauhan segera menuju ke toilet setelah lelaki itu pergi dari sana. Dia penasaran pada ganteng yang sempat dibuang oleh kaleng ke tempat sampah tadi. Dengan cepat dia mengambil kantong berwarna hitam itu sebelum petugas kebersihan datang dan mengambilnya.
“Apa ini ya...” batinnya membuka kantung hitam itu yang kosong. Dia lalu membalik isi kantung itu dan ada sisa serbuk yang jatuh. Dia pun mengambil serbuk itu untuk memeriksanya.
__ADS_1
“Jadi ini sebuah serbuk... tapi apa kegunaannya... dan kenapa Galen memakai ini ?” tanyanya lagi yang masih tidak tahu jenis serbuk apa itu.
“tap... tap... tap...” Ariel mendengar suara langkah seseorang yang akan menuju ke toilet. Dia pun segera bergerak cepat dan meninggalkan tempat itu sebelum ada orang lain yang melihatnya sambil memasukkan kantung hitam tadi ke dalam sakunya.
Dalam sekejap aneh itu sekarang sudah berada di depan kelasnya dan kembali masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
Siang hari saat pelajaran usai, Orion keluar dari kelas dan berjalan sendirian. Dia berjalan ditengah keramaian. Beberapa kali dia sempat menoleh ke belakang karena dia merasa ada seseorang yang mengawasi atau mengikuti dirinya dari belakang, namun tak ada yang mencurigakan sehingga dia pun kembali berjalan dengan tenang.
Tanpa gadis itu ketahui Galen yang berada di tengah keramaian jauh di belakang sana sedang membuntutinya. Lelaki itu mengawasi setiap gerak-gerik Orion dan memperhatikan tempat mana saja yang sering disinggahi gadis itu.
“Jadi dia sering lewat sini saat pulang...” batin Pangeran Galen sambil tersenyum dari kejauhan.
Di tengah jalan dia bertemu dengan Ariel yang baru keluar dari kelas melewati koridor dari bagian timur.
“Orion... tunggu !” teriaknya memanggil gadis itu setelah menemukannya berjalan di tengah keramaian.
Orion berhenti dan menoleh ke kiri ke arah suara yang memanggilnya dan ternyata itu adalah suara Ariel. Dia menepi menunggu anak itu berjalan ke arahnya. Setelah Ariel sampai dia tidak berjalan dan masih berdiri di samping gadis itu.
“Ayo kita jalan... hari semakin panas.” ajaknya segera pergi dan kembali ke rumah. Namun Ariel tidak bergerak dan menarik tangan gadis itu agar berhenti sebentar.
“Ya...” ucap gadis itu berbalik dan berhenti menghadap Ariel.
Ariel merogoh kantong sakunya lalu mengeluarkan sebuah kantong hitam dari balik saku dan menunjukkannya pada Orion.
“Kantung hitam... untuk apa kau menunjukkan kantong itu padaku ?” tanyanya setelah melihat kantung hitam di tangan Ariel.
Dari kejauhan Galen masih mengawasi Orion dan ternyata kini gadis itu bersama Ariel. Dia pun berjalan lebih mendekat untuk melihat dengan jelas apa yang di dilakukan kedua orang itu di tengah keramaian.
“Ini adalah kantung yang tadi ku temukan di tempat sampah. Aku melihat kantung ini tadi dibuang oleh...” ucap Ariel berusaha menjelaskan pada Orion namun belum selesai pembicaraannya sudah di potong oleh suara seseorang yang terdengar akrab baginya.
“Orion... tunggu...” Orion dan Ariel menoleh bersamaan kebelakang dan melihat Galen yang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
Ariel yang melihat lelaki itu berjalan semakin dekat segera menutup jari tangannya dan kembali memasukkan ke dalam saku kantungnya.
“Apa tadi yang mau katakan pada ku ?” tanyanya pada Ariel yang menganggap yang masih menggantung ucapannya.
“Hai...” sapa Galen saat berhenti di depan mereka berdua.
Melihat galen yang sudah ada di dekatnya Ariel pun mengurungkan niatnya untuk bercerita pada gadis itu.
“Ah... itu tidak ada... bukan hal yang penting. nanti saja akan aku jelaskan padamu lagi.” jawab Ariel.
Galen yang sempat melihat Ariel memegang sebuah kantung yang hampir sama dengan kantung miliknya dari kejauhan tadi, menatap tangan anak itu yang masih ada di dalam sakunya.
“Apa yang ada di balik saku anak ini...” batinnya sambil terus menatap ke arah saku celana Ariel.
Ariel merasa jika Galen memperhatikan bagian sakunya segera menarik tangannya dari sana dan mencoba bertingkah wajar.
“Hai...” jawab Orion menyapa balik Galen dan melihat ke sekeliling anak itu mencari keberadaan gadis yang biasa menempel pada lelaki itu.
“Ah ada apa...” tanya Galen yang merasa gadis itu seperti mencari sesuatu.
“Tidak...” balas Orion sambil tersenyum tipis.
“Bolehkah aku bergabung dengan kalian... ?” tanya Galen menatap mereka berdua. Ariel diam dan melirik menatap pada Orion.
“Ya boleh saja... tapi kami mau pulang.” jawabnya singkat.
Galen terlihat sedikit kecewa karena dia ingin berjalan-jalan sebentar dengan gadis itu.
“Baiklah kalau begitu... sampai jumpa besok lagi.” jawabnya sambil tersenyum kecil.
“Ayo kita segera pulang, Orion.” ucap Ariel yang terlihat mengajak pulang gadis itu dengan tergesa-gesa sambil menarik tangannya dan berjalan cepat menjauhi Galen.
__ADS_1
Orion hanya menoleh ke belakang dan melihat Galen yang masih berdiri di sana lalu dia berbalik dan berjalan sambil menarik tangannya dari tangan Ariel yang masih memegangnya.
BERSAMBUNG...