
Hari-hari berlalu dan tak terasa sudah lima tahun terlewati. Orion sekarang tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik dan sering mencuri perhatian dari lawan jenis nya.
Karena pertumbuhannya yang cepat, dan untuk menghindari kecurigaan dari warga lagi Putri Zoya mengajak anak itu untuk tinggal di kota di sebuah rumah dekat dengan rumah makan yang dirintis oleh ibunya. Karena menghapus memori warga di rasa sudah tidak efektif lagi. Karena harus rutin melakukan penghapusan memori, mereka jadi sering merepotkan Fredi dan itu membuat sang putri tidak enak hati pada ayahnya Ariel.
Setelah lima tahun berjalan, rumah makan yang dirintis oleh sang putri berkembang pesat dan kini ada lima pelayan yang bekerja di Rumah Makan itu. Namun empat pelayan lainnya yang bekerja di sana adalah dari ras anubis.
Dari hasil Rumah Makan itu sang putri bisa membeli rumah kecil tak jauh dari rumah makan itu berdiri dan bisa membiayai sekolah Orion sampai dia dewasa.
Saat ini anak itu berusia 17 tahun dan sekarang dia bersekolah di perguruan tinggi yang ada di kota itu.
Sepulang dari sekolah dia sering ke rumah makan ibunya dan saat hari petang barulah dia pulang.
Sampai saat ini dia masih belum mengetahui identitas dirinya sebagai seorang keturunan vampir. selain belum tampak kekuatan vampir pada dirinya juga tidak ada yang memberitahunya tentang hal itu.
Sampai suatu ketika di pagi hari. Gadis itu bangun dan merasakan tubuhnya tidak enak. Dia merasakan suhu tubuhnya meningkat dan sekarang mulai demam.
“Kau tidak segera bersiap dan berangkat sekolah, nak ?” tanya ibunya yang melihat anak gadisnya itu masih berbaring di tempat tidurnya dan tampak malas.
Gadis itu hanya diam karena merasakan tubuhnya semakin panas.
Karena tak menjawab, ibunya menghampirinya dan melihat wajahnya yang pucat.
“Badan mu panas sekali nak...” ucap sang putri saat menyentuh dahi putrinya sedangkan anak itu hanya tersenyum menatap ibunya karena tak mau membuat ibunya khawatir.
“Aku tidak apa-apa bu, jangan khawatir. Mungkin aku hanya kelelahan saja. Setelah beristirahat mungkin panas ku akan reda...” jawabnya sambil menahan sakit kepala yang sekarang mulai menderanya.
“Tunggu sebentar...” sang putri berdiri dan menuju ke tempat kotak obat. Dia lalu mengambil obat penurun panas untuk putrinya.
“Minumlah ini dulu...” ucap sang putri memberikan obat itu pada Orion bersama segelas air.
“Kau istirahat saja nak, jika nanti masih belum turun panasnya ibu akan membawa mu ke dokter.” ucapnya yang masih khawatir pada putrinya itu yang sekarang berkeringat.
__ADS_1
Putri Zoya duduk di dekat anak itu dan menunggunya. melihat ibunya yang masih menemaninya itupun bertanya pada ibunya.
“Ibu tidak ke rumah makan ?” tanyanya yang di jawab oleh ibunya dengan menggeleng.
“Aku tidak apa-apa bu... ibu ke rumah makan saja.” ucapnya bersikeras bahwa dirinya tak perlu di tunggu.
“Ya baiklah... ibu berangkat dulu, nanti siang ibu kembali lagi untuk melihat mu.”
Putri Zoya berdiri dan meninggalkan Orion lalu dia mengambil tasnya yang ada di meja dan berjalan ke arah pintu.
“Kriek...” Putri. Zoya membuka pintu dan melihat ada Ariel yang berdiri di sana.
“Ariel...” tanyanya kaget melihat anak itu tersenyum padanya.
“Ibu Zoya... dimana Orion ? Kelas hampir di mulai.” tanyanya sambil melihat ke dalam.
“Orion hari ini tidak masuk, dia demam dan sekarang masih di tempat tidurnya.” ucapnya membuka pintu lebar.
“Tentu... masuklah nak... maaf ibu mau ke rumah makan dulu. Kalau ada apa-apa dengan anak itu tolong beritahu ibu.” ucapnya lalu pergi meninggalkan Ariel.
“Ya ibu Zoya...” jawabnya lalu masuk ke rumah dan menutup pintu.
Anak itu berjalan menuju ke tempat tidur Orion. Dia mendapati gadis itu masih terpejam matanya.
“Hey Orion...” ucapnya memanggil gadis itu dan tak ada jawaban.
Karena tak ada jawaban dia pun semakin mendekat dan memegang dahi gadis itu yang terasa panas sekali. Dia melihat selimut gadis itu turun, lalu dia menarik ke atas selimut itu menutupi tubuhnya yang yang menggigil.
Baru kali ini dia melihat wajah gadis itu sedekat ini.
“Meskipun tertidur dan sakit kau masih terlihat cantik sekali Orion...” batinnya sambil menatap gadis itu lekat-lekat.
__ADS_1
Melihat bibirnya yang merah jantungnya itu berdegup kencang dan tiba-tiba dia ingin mencium gadis itu. Dia menyentuh wajah Orion dan mendekatkan wajahnya.
“Ariel... sejak kapan kau di sini ?”
Karena kaget anak itu segera menarik wajahnya menjauh dari Orion dan sekarang dia tampak gugup.
“Emm... baru saja...aku baru saja masuk. Ibu Zoya bilang kau demam, makanya aku ingin melihat mu. Bagaimana apa kau sudah baikan ?” tanyanya yang masih gugup lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya.
“Sekarang terasa sedikit lebih baik. Kurasa hari ini kau harus berangkat sendiri ke kampus.” ucapnya lalu duduk.
Ariel menatap jam tangannya yang menunjukkan jam kuliah akan segera dimulai.
“Baiklah... Aku pergi dulu kalau begitu. Nanti sepulang dari kampus aku mampir lagi ke sini.”
Ariel lalu pergi meninggalkan Orion dan berjalan cepat walaupun Sebenarnya dia enggan meninggalkan vadis itu sendirian apalagi dalam kondisi sakit seperti itu. Namun karena dia sudah hampir terlambat jadi dia terpaksa pergi dari rumah itu.
Malam harinya saat Ibunya sudah pulang dari rumah makan, ibunya mengajaknya untuk pergi ke dokter namun dia menolak karena panasnya sudah turun.
Keesokan paginya hal aneh terjadi pada dirinya. saat itu dia sedang duduk di meja makan dan sedang menikmati sarapan pagi bersama ibunya. Dia mengambil roti selai strawberry kesukaannya namun ada yang aneh pada lidahnya.
“Emm apa cuma perasaanku saja ya kenapa roti ini terasa hambar sekali sama sekali tidak ada rasanya, padahal mulut tidak pahit dan aku sudah sembuh dari sakit.” adanya saat mengunyah satu potong roti selai.
“Ibu... kenapa roti selai ini tidak ada rasanya sama sekali, hambar...” tanya pada ibunya Mungkin dia bisa memberi solusi.
Putri Zoya sama sekali tidak peka jika putrinya mulai menunjukkan ciri-ciri amulet.
“Mungkin karena kau baru sembuh dari sakit nak... jadi itu masih terasa hambar dan besok akan kembali lagi seperti semula.” ucapnya sambil memakan roti selai strawberry yang juga terasa hambar di lidahnya.
“Oh begitu ya bu...” jawabnya lalu memakan kembali roti selai itu dan meminum segelas susu yang juga terasa hambar.
Beberapa hari kemudian dia masih merasakan mulutnya hambar saat memakan semua jenis makanan. berbagai macam makanan sudah dicoba dan semuanya sama sekali tak ada rasanya. Jadi dia pun memutuskan untuk bertanya pada Ariel mungkin saja anak itu tahu sesuatu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....