
Arvin masih mengintai dari balik pohon di perkampungan werewolf. dia memperhatikan setiap gerak-gerik penghuni perkampungan manusia serigala itu.
Banyak penghuni yang yang berseliweran di tempat itu. Dia terus memperhatikan mereka untuk mencari informasi apa sebenarnya tujuan mereka mendatangi istana bulan ini beberapa waktu yang lalu.
Dua orang werewolf berjalan melewatinya.
“Menurut mu untuk mengisi waktu yang membosankan ini apa yang harus kita lakukan ?” tanya salah satu manusia serigala pada temannya yang berjalan di sebelahnya.
“Bagaimana jika kita berburu binatang buas di hutan? Sepertinya itu cukup menantang adrenalin kita.” jawab werewolf itu pada temannya.
“Ah menurutku itu hal yang biasa, tidak menantang dan membosankan sekali.” jawab werewolf itu pada temannya.
“Bagaimana jika kita bermain kasti khas werewolf saja ?” tanya temannya lagi memberi usul. Sedangkan lawan bicaranya tampak diam berpikir.
Arvin memasang telinganya dari kejauhan dan mendengar dengan jelas percakapan dua lelaki itu.
“Permainan kasti bangsa werewolf seperti apa itu? Di negeri amulet ada permainan seperti itu.” batin Arvin mendengar percakapan dua pemuda itu dan menjadi penasaran pada permainan kasti disebut kan dua pemuda itu.
“Ya baiklah sepertinya permainan kasti itu lebih menantang daripada berburu binatang. Boleh juga usul mu. Biar otot di tubuhku yang kaku ini menjadi lemas.” jawab jawabnya setelah berpikir sejenak.
“Oke kalau begitu ayo kita pergi mengumpulkan teman-teman untuk bermain kasti sekarang.” ucap salah satu pemuda itu.
Mereka berdua pun pergi ke rumah-rumah yang ada di sana untuk mengajak teman mereka bermain kasti.
“Ternyata para Werewolf itu hidup dengan damai di tempat ini.” batin Arvin lagi membuat kesimpulan sendiri setelah mendengar percakapan dua pemuda tadi yang menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang.
Dari kejauhan datang lagi seorang lelaki yang berjalan dengan beberapa orang melewati Arvin.
__ADS_1
“Bagaimana kabar kawan kita yang ada di belahan lain di sana ?” tanya seorang lelaki pada temannya.
“Bilang saja sebenarnya kau rindu pada gadis mu itu kan karena berada di tempat yang jauh sekali dari sini. Alasan saja kau rindu pada yang lainnya.” jawab salah satu lelaki meledek pertanyaan temannya tadi sambil tertawa dan menepuk bahu temannya itu.
“Kalian tidak tahu ya jika tiga hari lagi akan diadakan acara pelelangan di sini ?” tanya salah satu lelaki pada yang lainnya.
“Oh ya benarkah ? Aku baru tahu darimu. Jika diadakan lelang di sini maka acara itu akan dihadiri oleh semua bangsa Werewolf dari manapun ?” tanya lelaki lainnya dengan wajah berseri-seri membayangkan kehadiran teman lamanya yang berasal dari daerah lain.
“Apa... tiga hari ke depan akan diadakan pelelangan di sini... dan di hadiri oleh seluruh bangsa werewolf ? Bagus itu aku akan tahu dengan mudah pergerakan mereka kalau begitu.” batin Arvin dengan mata bersinar mendengar percakapan beberapa lelaki tadi.
Di belakang beberapa lelaki tadi datanglah Fredi yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju ke salah satu rumah yang ada di sana. lelaki itu berjalan melewati pohon tempat dimana Arvin bersembunyi. Namun setelah beberapa langkah meninggalkan pohon itu dia tiba-tiba berbalik dan berjalan kearah pohon itu.
“Kenapa aku seperti merasakan ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik pohon ini.” batinnya sambil terus berjalan mendekati pohon itu.
Arvin menahan nafas saat mengetahui sosok lelaki yang merupakan pemimpin pasukan werewolf itu berjalan ke arahnya. Dia tak berani bergerak sedikit pun atau aktivitas nya akan terungkap.
Fredi lebih mendekat lagi ke pohon itu dan langkahnya terhenti saat mendengar suara pintu dari rumah yang ada tak jauh dari tempatnya berada terbuka.
“kriek...”
Tepat saat pintu terbuka seorang lelaki yang berusia lebih tua dari Fredi keluar dari rumah itu. Lelaki tua itu melihat ke sekeliling dan mendapati Fredi tak jauh dari rumahnya.
“Fredi... Hans bilang tadi kau mencariku... ?!” teriak lelaki tua itu dari depan rumahnya.
Fredi yang berniat memeriksa kembali pun itu menoleh ke belakang dan berbalik.
“Ya tetua... tunggu sebentar aku akan ke sana.” jawabnya lalu berjalan meninggalkan pohon itu dan menghampiri lelaki yang dipanggilnya tetua itu.
__ADS_1
Fredi tampak bercakap-cakap serius dengan sosok lelaki yang dipanggilnya tetua itu. tak Berapa lama kemudian tetua itu mengajak Fredi untuk masuk ke rumahnya.
“bam...” suara pintu tertutup dan dua lelaki itu sudah masuk ke rumah membahas sesuatu masalah yang penting mengenai acara pelelangan yang akan diadakan sebentar lagi.
Sementara itu di luar, Arvin yang masih menahan nafas merasa lega dan menghirup nafas sedalam-dalamnya setelah melihat pemimpin pasukan perang Werewolf itu meninggalkan dirinya dan masuk ke salah satu rumah yang ada di sana.
“Sepertinya aku harus segera kembali sekarang dan memanfaatkan kesempatan yang ada atau aku tidak akan lolos lagi nanti berhadapan dengan pemimpin pasukan perang werewolf itu.” batin lelaki itu sambil melihat keadaan sekitar dan memastikannya aman.
Setelah memastikan kondisi aman, Arvin dengan cepat segera meninggalkan tempat itu. dia melesat ke udara secepat kilat dan kembali ke negeri amulet.
Di tengah perjalanan Alvin mencoba menghubungi ketiga rekannya yang stand by di suatu tempat. Dia mengirimkan pesan yang dibawanya melalui getaran infrasonik yang bisa ditangkap oleh ketika rekan lainnya.
"Tim siluman sudah kembali dan melapor. Bulan darah kali ini aman. belum ada pergerakan yang dilakukan oleh werewolf. Sepertinya para werewolf itu tidak merencanakan penyerangan pada negeri amulet. Tapi itu belum bisa dipastikan. dan tiga hari ke depan akan ada acara pelelangan di sini.” ucap Arvin pada tiga rekan lainnya melalui gelombang infrasonik agar informasi yang diberikan-nya segera disampaikan pada pengawal Bruno lebih dulu sebelum dia tiba di sana saat malam hari mengingat jarak tempuhnya yang jauh.
Krish yang saat itu menunggu informasi sambil duduk-duduk santai di sebuah pohon melihat ada gelombang infrasonik yang datang mengarah padanya. dia menangkap gelombang itu yang ternyata adalah pesan suara dari rekannya.
“Laporan di terima. aku akan meneruskannya ke pengawal Bruno.” ucapnya setelah mendengar pesan suara dari Arifin dan membalasnya dengan pesan suara melalui gelombang infrasonik dan mengirimkannya kembali ke Arvin.
”Ayo kita ke Bali kita harus sampaikan hal ini pada pengawal Bruno dulu.” ucap Krish pada 3 anggota tim siluman lainnya yang sekarang berkumpul dengannya.
Mereka bertiga pun dengan cepat melesat ke udara lalu menghilang di tengah gelapnya malam menuju ke negeri amulet.
Sementara itu Fredi yang sudah selesai bicara dengan tetua Werewolf, keluar dari rumah itu dan kembali berjalan menghampiri pohon yang tadi belum sempat diperiksa nya.
Lelaki itu diam terpaku lama menatap pohon itu sambil memeriksa pohon itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1