
Hari-hari berlalu dan waktu terus berjalan. Tak terasa sudah satu tahun berlalu dan usia asli Orion sekarang dua tahun, namun di usianya itu dia terlihat seperti anak berusia tujuh tahun.
Setiap hari dia masih bermain dengan anak-anak yang ada di sana juga bermain bersama Ariel. Setelah usianya bertambah dia pun ikut sekolah sama seperti anak-anak kecil lainnya yang juga bersekolah di kota.
Saat pagi mereka beramai-ramai berangkat sekolah bersama ke kota. Di mana ada Orion di situ pasti ada Ariel yang selalu menempel padanya seperti bodyguard pribadinya.
Meskipun masih kecil anak itu sudah terlihat cantik sehingga banyak anak-anak lelaki lainnya yang juga mendekati Orion. Tapi mereka semua langsung menyingkir saat Ariel datang, karena anak itu pasti sengaja berbuat ulah dan membuat anak lelaki lainnya risih saat berada di dekat Orion. Dan mereka pun memilih pergi daripada harus ramai dengan Ariel.
Satu hari di siang hari yang panas anak-anak itu pulang ke rumah setelah pelajaran di sekolah usai.
“Dong.... dong...” bel berbunyi dan semua murid yang ada di sekolah itu keluar beramai - ramai dari kelas.
Orion biasa keluar dari kelas paling akhir. Namun saat itu Ariel masuk ke kelasnya dan langsung menarik tangannya menerobos kerumunan.
“Ariel... dasar kau tukang terobos !” teriak salah satu anak yang kesal karena anak itu menyenggol tubuhnya saat menerobos.
Sedangkan Ariel hanya berbalik dan tersenyum menatap anak yang protes padanya itu dan terus berlanjut dan terus berlalu sambil menggandeng Orion pergi dari sana.
“Ariel Kau kenapa selalu cari masalah dengan mereka ?” tanya Orion yang merasa temannya itu menjadi badung.
Lagi-lagi anak itu hanya tersenyum menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun menanggapi pertanyaan Orien barusan.
Saat itu setelah berjalan jauh mereka tidak langsung pulang tapi bermain sebentar dan mereka sengaja berhenti di danau yang berada di sekitar tempat mereka sekolah.
“Ayo kita duduk di sini...” ajak Ariel yang langsung duduk di tepi danau sambil menaruh tasnya ke atas rumput.
“Kau mau apa... ?” tanyanya sambil duduk di sebelah Ariel dan memegang tasnya.
“Kau lihat dan tunggu saja... Kau cukup menemani ku saja disini...”
Ariel mengambil kayu yang ada di dekatnya lalu mengeluarkan tali dari dalam tasnya dan mengikatkan tali itu kayu tadi. Setelah itu dia melubangi tanah dan menemukan cacing lalu mengambilnya dan mengikatkan cacing itu ke tali.
“blung...” suara Ariel melempar pancing buatannya itu ke danau.
__ADS_1
Orion duduk diam menunggu Ariel yang memancing. Dia melihat ada bunga-bunga liar yang tumbuh di dekatnya lalu dia mengambil beberapa dan menyelipkan ke telinganya.
“Ariel apakah aku terlihat cantik sekarang ?” tanyanya pada anak itu yang masih diam dan asyik sendiri menunggu kailnya di sambar ikan.
“Kau cantik sekali Orion.... kau terlihat seperti seorang putri.” ucapan dari anak itu membuat anak itu senang dan wajahnya bersemu merah.
Tiba-tiba pancing buatan Ariel bergerak-gerak seperti ada yang menariknya dari dalam.
“Lihat Orion... aku dapat ikan besar...” ucapnya lalu menariknya dan ternyata dia mendapatkan satu ekor ikan kecil.
“Hi hi hi....” Anak itu hanya tertawa saat melihat temannya itu mendapatkan seekor ikan kecil saja.
Ariel tak terima anak itu menertawakannya dan dia berniat akan membuktikan kalau dia bisa menangkap ikan yang lebih besar untuknya.
“Tunggu ya setelah ini aku pasti akan dapat ikan yang lebih besar dari ini.” ucapnya yakin.
Anak itu menjadikan ikan yang barusan ditangkap itu sebagai umpan untuk mendapatkan ikan yang lebih besar.
“Lihat ini apa yang akan aku dapatkan nanti dengan menggunakan umpan ini.” Ariel melempar lagi pancing buatannya ke danau.
“Ayo kita pulang saja...” ajaknya sambil berdiri dan mengambil tasnya.
Namun Ariel menarik anak itu dan memintanya untuk duduk kembali.
“Sebentar... sebentar lagi... tunggu aku sebentar saja...” pintanya pada Orion yang membuat anak itu kembali duduk di dekatnya.
Tak lama kemudian air di sekitar pancing buatannya tampak berbuih dan terasa ada yang menarik umpannya dan kali ini rasanya lebih berat dari sebelumnya.
“Orion sepertinya aku dapat ikan besar kali ini.” ucapnya pada anak itu. Dia menarik pancing buatannya yang terasa berat sekali dan dia tidak kuat menariknya.
Orion merasa ada yang aneh dengan ikan yang di akan di tangkap oleh Ariel. Dia berdiri dan melihat ke arah air yang berbuih itu. Entah kenapa tiba-tiba dia mencium aroma yang anyir dari sana.
“Uhh... baunya ayir sekali. Kau tidak tidak menciumnya ?” tanyanya dan Ariel menggelengkan kepalanya karena dia sama sekali tidak mencium bau amis seperti yang di bilang Orion.
__ADS_1
Bau itu menurut Orion semakin anyir saja. Dia berdiri dan lebih mendekat karena penasaran. Tiba-tiba dia bisa melihat dengan jelas di air yang keruh itu. Bukan ikan besar yang menyambar umpan tadi melainkan seekor hewan besar berekor panjang.
Gadis itu langsung mundur dan menarik tangan Ariel mengajaknya berlari.
“Buaya... lepaskan pancing mu. Cepat !” teriaknya histeris.
Ariel yang terkejut mendengar teriakan anak itu refleks melepas pancing buatannya dan langsung berlari menjauh dari tempat itu.
Benar saja ada seekor buaya yang keluar dari danau itu sambil menggigit ikan yamg dia jadikan umpan tadi.
Buaya itu melihat ada dua mangsa lagi di depannya dan sekarang dia mengejar kedua anak itu.
“Ariel... lihat buaya itu mengejar kita kemari !” teriak Orion sambil menunjuk Buaya itu dan bersembunyi di balik tubuh Ariel karena ketakutan.
“Tenang saja... kau akan aman bersama ku.” ucapnya menenangkan anak itu. Padahal dia sendiri sebenarnya juga takut melihat buaya yang panjangnya tiga kali lipat dari tubuhnya.
Buaya itu semakin mendekati mereka. Ariel yang merasa tidak mampu melawan binatang itu segera menarik Orion dan berlari kencang dari sana.
“Ariel... cepat lari... atau kita akan masuk ke mulut buaya itu !” teriak anak itu pada Orion.
Kalau terus berlari mereka pasti akan terkejar oleh buaya itu. Satu-satunya cara adalah dengan terbang di udara.
“swoosh ...” Ariel melompat dan terbang di udara sambil mengulurkan tangan pada Orion. Tapi anak itu malah menolaknya.
Entah kenapa dia ingin mencoba belajar terbang seperti yang biasa di lakukan Ariel.
“swoosh...” Orion melompat dan menirukan gerakan Ariel yang sering di lihatnya itu. Ternyata dia bisa terbang di udara seperti anak itu.
Dia tak percaya pada kemampuannya itu. Menurutnya itu karena suatu kebetulan saja dia bisa melakukan itu dikarenakan sering melihat Ariel yang terbang di udara.
“Wow... kau bisa terbang... ayo cepat pergi dari sini !” ucap anak itu tersenyum pada Orion.
Mereka berdua lalu melesat di udara sambil melihat ke belakang ke arah buaya yang tadi mengejar mereka dan ternyata sekarang sudah jauh sekali darinya.
__ADS_1
Orion masih tak menyangka dia bisa terbang, namun Ariel tidak terkejut karena cepat atau lambat vampir kecil itu akan menunjukkan kekuatannya.
BERSAMBUNG....