
Beberapa hari setelah kejadian itu berlalu Orion jadi sering menggunakan kekuatan terbangnya itu namun hanya saat dia bersama Ariel. Dia belum mengetahui identitas asli dirinya yang merupakan seorang keturunan vampir. Karena baik ibunya maupun Ariel sama sekali tidak pernah membahas masalah itu dengan dirinya.
Putri Zoya sengaja tidak menceritakan identitas putrinya yang notabene adalah seorang keturunan vampir. Karena baginya anak itu belum waktunya untuk mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Dia berniat di waktu yang tepat akan mengungkapkan jati diri mereka yang sesungguhnya pada Orion.
Untuk saat ini dia menginginkan putrinya itu tumbuh sebagai seorang manusia sampai waktunya tiba. Dia juga memperlakukan Orion seperti pada umumnya kehidupan manusia biasa.
Sang putri tidak terlalu mengetahui tahap pertumbuhan Orion yang berbeda dengan pertumbuhan amulet karena anak itu merupakan keturunan campuran.
Setahunya keturunan amulet sudah menunjukkan kekuatan vampirnya sejak masih kecil, namun berbeda dengan Orion. Selama ini dia mengamati putrinya belum menunjukkan tanda-tanda kekuatan apapun. Dan dia mengira mungkin berbeda kasusnya pada Orion, karena anak itu spesial jadi perkembangannya pun lebih spesial dari keturunan amulet atau pun anubis.
Suatu malam di malam yang dingin, Orion terbangun dari tidurnya di tengah malam.
“Tick... tick....” suara detik jam yang terdengar begitu keras di telinga Orion dan membuatnya bangun karena suara bising itu.
Gadis itu menarik selimut yang menutupi tubuhnya lalu duduk dan menatap ke sekeliling yang tampak sepi. Dia melihat ibunya yang ada di sebelahnya masih tertidur pulas. Lalu beralih menatap jam dinding di ruangan itu yang menunjukkan pukul 24.00.
Dia turun dari tempat tidur lalu berjalan ke jendela. Dia merasakan rasa kantuknya telah hilang. Anak itu berdiri di dekat jendela dan membuka tirai jendelanya. Saat itu di langit bulan tampak penuh. Entah kenapa tiba-tiba anak itu terhipnotis untuk terus menatap bulan purnama saat itu yang menurutnya tampak sangat indah pada malam itu.
Saat Orion memandang bulan purnama itu dia juga mendengar suara lolongan serigala bersahutan. Tapi kini dia sudah tidak takut lagi mendengar suara lolongan binatang itu. Karena dia sudah tahu jika itu bukanlah suara serigala asli namun suara dari keluarga Ariel yang berubah menjadi manusia serigala di saat malam bulan purnama.
Semakin lama anak itu memandang bulan yang penuh itu semakin dia merasakan seperti ada aliran energi yang masuk ke tubuhnya. Tubuhnya yang terasa dingin kini mulai sedikit terasa hangat dengan energi yang mulai mengalir ke seluruh aliran darah di tubuhnya.
Anak itu menatap tangannya yang tampak bercahaya di bawah pantulan sinar rembulan dan terlihat berkilauan. Sesaat kemudian tiba-tiba dia merasakan matanya menjadi panas tanpa sebab.
Karena semakin lama semakin panas dia pun penasaran dan ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi pada matanya. Orion menutup kembali tirai jendela yang tadi di bukanya lalu berjalan ke sebuah cermin besar yang ada di ruangan itu.
“Apa ini... ?”
__ADS_1
Anak itu melihat dirinya berbeda pada pantulan cermin. Dia melihat matanya berubah dari coklat menjadi merah.
“Ah... mataku... apa yang terjadi dengan mataku ?” tanyanya bingung sambil menyentuh kelopak matanya yang mengira jika mata merahnya itu karena iritasi atau mungkin radang mata.
Dia lalu berjalan ke meja dimana dimana ibunya menaruh obat-obatan di sana. Dia membuka satu laci dan menemukan tetes mata yang dicarinya lalu segera meneteskan tetes mata itu pada matanya yang masih terasa perih.
Sesaat kemudian rasa pedih di matanya itu telah hilang dan dia kembali berjalan ke cermin besar yang ada di ruangan itu untuk melihat kembali keadaan matanya. Namun dia masih terkejut saat melihat matanya masih berwarna merah seperti sebelumnya.
“Aah... ada apa ini... apa yang sebenarnya terjadi dengan mataku ? kenapa masih merah meskipun aku sudah menetesi dengan obat tetes mata ?” tanyanya yang bingung saat matanya belum kembali ke warna aslinya.
“Apa aku tanya ibu saja...” gumam anak itu lalu berjalan ke tempat tidur.
“Ibu.... bangun... mata ku sakit...” ucapnya membangunkan ibunya. Namun Putri Zoya tidak mendengar panggilannya dan masih tidur pulas.
“Mungkin ibu kecapekan... apa yang harus ku lakukan kalau begitu ?”
Setelah masuk kamar mandi anak itu langsung mengambil air dan memasukkan ke wajahnya. Dia lalu melihat wajahnya dari cermin yang ada di kamar mandi itu dan mendapati matanya masih merah dan belum berubah.
“Apa mungkin aku harus membasuhnya lagi? Mungkin mataku bisa kembali normal seperti sebelumnya.” ucapnya kembali mengambil air dan membasuhkan ke mukanya.
Anak itu kembali membasuhkan air ke mukanya dan mengulangi beberapa kali sampai wajahnya dan matanya tidak panas.
Beberapa saat kemudian setelah berulang kali membasuh muka dengan air dia kembali berkaca dan melihat matanya yang tadi memerah sudah sedikit memudar.
“Ah... berarti aku harus membasuh muka ku lagi...”ucap anak itu kembali membasuh mukanya dengan air.
Satu jam kemudian dia keluar dari kamar mandi karena sudah lelah berulangkali membasuh mukanya dengan air. Ia kembali bercermin di cermin yang ada di ruangan dekat tempat tidur dan melihat warna matanya yang sudah semakin pudar walaupun masih sedikit samat tampak merah.
__ADS_1
Dia duduk di tempat tidur dan menatap ibunya yang masih tertidur. Dia pun merebahkan dirinya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sekarang mulai merasa kedinginan lagi. Beberapa menit kemudian setelah dia mencium aroma bantal yang biasa dipakai tidur akhirnya dia pun kembali terlelap.
Pagi hari Putri Zoya bangun, dia melihat Orion masih tidur.
“Tidak biasanya dia bangun kesiangan.” Putri Zoya turun dari tempat tidur dan menarik selimut yang menutupi tubuh Orion.
“Sayang... bangun... sudah hampir terlambat. Apa kau tidak pergi sekolah ?” tanyanya menepuk-nepuk pelan bahu putrinya.
Orion membuka mata mendengar panggilan ibunya dan segera duduk. Dia ingat semalam matanya terasa perih dan merah.
“Ah... mataku...” ucapnya sambil menyentuh kedua matanya meskipun dia sudah tidak merasakan perih lagi di kedua matanya itu.
Putri Zoya yang tampak cemas mendengarkan ucapan putrinya itu segera membuka tangan Orion untuk melihat mata anak itu.
Sang putri melihat mata anak itu tidak kenapa-napa dan normal seperti biasanya. Tidak radang ataupun memerah.
“Ibu lihat matamu tidak sakit. Apa kau merasakan pedih di matamu ?” tanyanya yang masih tampak khawatir.
Orion tidak mempercayai ucapan ibunya barusan. Dia bangun dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju ke arah cermin. Betapa terkejutnya dia saat melihat matanya yang sudah kembali berwarna coklat seperti sebelumnya.
“Ah... syukurlah kalau mataku sudah kembali seperti biasanya.” gumamnya sambil bercermin.
Putri Zoya mengikuti Orion ke depan cermin karena masih merasa khawatir pada anak itu.
“Ibu... mataku sudah sembuh...” ucapnya sambil tersenyum lalu segera bersiap untuk berangkat sekolah.
Putri Zoya merasa bingung saja kapan anak itu sakit mata ? Sedangkan semalam sebelumnya anak itu baik-baik saja. Lalu dia segera masuk ke dapur dan tidak memikirkan ucapan Orion karena dia harus segera menyiapkan sarapan untuk putrinya itu sebelum berangkat sekolah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...