
Semakin lama emosi massa yang berkumpul di depan rumah nenek Hera itu semakin melonjak hingga tak bisa di bendung lagi. Salah satu orang memprovokasi lagi dan membuat suasana semakin ricuh.
“Bakar saja rumah ini...!” teriak salah satu warga dan membuat yang lainnya langsung bergerak.
Satu orang maju dan bersiap lemparkan api untuk membakar rumah itu yang membuat nenek Hera angkat bicara karena merasa tak terima rumahnya akan dihanguskan.
“Berhenti...! Kalian semua jangan bakar rumahku. Rumahku hanya ini jika kalian membakarnya aku akan tinggal di mana ?!” tanyanya tak terima.
“Kau melindungi dan tinggal bersama keturunan setan itu. Jadi kau pantas mendapatkan hukuman dari kami semua... !” teriak salah satu warga lainnya yang marah.
Putri Zoya yang merasa dirinya adalah penyebab semua ini pun maju ke depan dan menenangkan warga yang sedang mengamuk itu.
“Tolong semua tenang dulu... ! Jangan bakar rumah nenek Hera. Jika kalian tidak suka pada ku jangan limpahkan kesalahan kalian pada nenek !” ucap sang putri menenangkan massa yang masih mengamuk itu.
“Dasar kau setan ! Semua ini karena ulah mu dan kau masih berani bicara seperti itu ? Kau yang memintanya sendiri ya... jangan salahkan kami.” teriak warga lainnya yang semakin mengamuk.
Para massa itu semakin menjadi-jadi mendengar Putri Zoya angkat bicara dan mereka pun semakin gelap mata. Putri Zoya yang melihat kemarahan warga tak bisa dibendung lagi kembali angkat bicara.
“Aku sama sekali tidak melukai anak-anak kalian. Apa kalian melihat ada bekas luka di tubuh mereka ? Atau kalian langsung percaya saja pada omongan anak kecil. Atas dasar apa kalian menuduh aku keturunan setan ? Apa aku pernah melukai kalian ?” ucap sang putri memperjelas agar keadaan tenang kembali.
Beberapa warga diam dan mereka sekarang saling mempertanyakan kebenaran berita itu. Seorang warga yang melihat massanya dilanda kebingungan dan ragu akan berita itu kembali memprovokasi agar mendapatkan kembali dukungan untuk melaksanakan misinya yaitu membakar rumah nenek Hera.
“Hey wanita bermulut manis dasar Setan kau ! Mana ada maling yang mau mengakui perbuatannya ?” ucap seorang warga yang sengaja memancing emosi lagi agar tercipta kericuhan.
Massa yang tadinya akan bubar kembali lagi tersulut emosinya dengan perkataan salah satu warganya.
__ADS_1
“Bakar saja wanita setan itu... !” teriak salah satu warga di tengah suasana yang memanas. Dan Hal itu membuat warga yang lain setuju dengan salah satu usulannya itu.
“Ya bakar saja dia... ayo kita bakar wanita setan itu sekarang... !!” teriak warga lainnya yang ikut terbakar emosinya. Setelah mendengar pernyataan itu mereka semua maju dan bersiap membakar wanita setan itu.
Sang putri yang terdesak akhirnya tak bisa membela diri lagi. Dia hanya bisa mengajukan satu penawaran lagi untuk massa yang masih mengamuk itu.
Tunggu... ! Yang kalian incar sebenarnya adalah aku. Aku akan pergi dari sini dan tak akan pernah menampakan diri lagi di sini. Tapi kalian jangan bakar rumah ini dan jangan pernah mengganggu nenek Hera lagi.”
Massa berhenti setelah mendengar ucapan sang putri mereka kembali ragu dan akhirnya mereka berunding sebentar membicarakan masalah itu.
“Bagaimana menurutmu... ?” tanya salah satu warga.
“Kalau kita main hakim sendiri kita juga salah...” ucap warga lain.
“Menurutku yang penting wanita setan itu sudah pergi dari tempat ini, itu sudah cukup.” tambah seorang warga.
Dan mereka pun akhirnya sepakat untuk mengambil keputusan setelah melakukan diskusi singkat dengan para warga.
“Baiklah kami tidak akan membakar ataupun mengganggu nenek Hera lagi. Tapi kau dan anakmu harus pergi dari tempat ini hari ini juga !!” teriak salah satu massa menyampaikan hasil keputusan mereka.
“Ya benar kau dan anak mu itu pergi saja desa kami hari ini juga !!!” teriak semua warga kompak.
Namun nenek Hera tidak setuju dengan keputusan para warga itu yang mau mengusir Putri Zoya dan Orion yang tidak bersalah dari rumahnya.
“Nak, aku tidak setuju kau pergi dari sini bersama Orion. Jika kalian pergi dari sini kalian akan tinggal dimana?” tanya pada sang putri dengan rasa iba dan khawatir pada mereka berdua.
__ADS_1
“Tidak bisa nenek... jika kami masih tinggal disini maka para masa itu akan tetap marah dan mungkin tidak hanya membakar rumah ini saja namun akan melukai nenek.” jelas sang putri pada sang nenek yang sebenarnya berat hati meninggalkan rumah itu.
Para massa yang berkumpul di depan rumah nenek Hera itu pun akhirnya pergi setelah tercapai kesepakatan di antara mereka dengan Putri Zoya.
Keadaan kembali tenang dan sepi setelah semua warga pergi dari sana. Orion kecil yang ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah akhirnya keluar setelah melihat hanya ada nenek dan ibunya di luar.
“Ibu... nenek... !” Orion berlari dan menghampiri nenek serta ibunya dengan tubuh yang masih gemetar.
“Tak apa jangan takut sayang... suasana sudah tenang sekarang. Mereka sudah pergi dari sini dan tak ada yang akan mengganggu kita lagi.” jelas sang putri sambil memeluk putrinya yang masih ketakutan itu untuk menenangkan dirinya.
Mereka bertiga pun masuk ke rumah. Di dalam rumah, sang putri segera berkemas membawa barang-barang yang akan dibawanya pergi.
Sementara itu nenek Hera merasa sedih sekali melihat Putri Zoya yang berkemas dan akan segera meninggalkan rumahnya saat itu juga. Baru sebentar dia bertemu dengan mereka berdua yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri sekarang harus berpisah lagi dan kembali kesepian lagi.
“Nak... apa kalian harus pergi dari rumah ini sekarang juga ? Bagaimana jika besok saja kalian berangkat dan hari ini beristirahatlah dulu di sini...” ucap nenek Hera meminta mereka untuk menginap lagi satu malam di rumahnya. Namun sang putri tetap pada pendiriannya dan menolak permintaan nenek itu dengan berat hati. Karena dia tak mau pada masa itu datang lagi dan semakin marah yang akan berbuat nekad.
Setelah semua barang yang akan dibawanya siap, sore itu juga Putri Zoya dan Orion pergi dari rumah nenek sebelum hari semakin gelap dan mungkin mereka akan kesulitan mencari rumah baru untuk mereka tinggali nanti.
“Nenek terima kasih selama ini nenek sudah mau menampung kami dan berbaik hati pada kami. Tanpa bantuan ini kami tidak tahu menjadi seperti apa. Maaf kami belum bisa membalas budi baik nenek dan malah merepotkan seperti ini.” ucap sang putri pada nenek sebelum pergi meninggalkan rumah itu.
Mereka berpelukan sebagai salam terakhir perpisahan mereka.
“Jaga diri kalian baik-baik jangan lupakan nenek.”
Nenek Hera mengantar kepergian putri Zoya dan Orion sampai ke depan rumah. Dia melihat sang putri berjalan meninggalkan tempat itu sambil menggandeng tangan putri kecilnya sampai sosok mereka tak tampak lagi dan dia masuk ke rumah dengan meneteskan air mata kesedihan.
__ADS_1
BERSAMBUNG...