
Keesokan harinya keempat anggota tim terpilih kembali berkumpul di Aula Bulan Kembar untuk mengadakan pertemuan kembali.
Saat mereka masuk pengawal Bruno sudah duduk di aula lebih dulu dan menyambut kedatangan mereka.
“Bagaimana dengan pertemuan kita kali ini ? Apakah diperlukan untuk melakukan diskusi kembali ? atau kita langsung eksekusi saja ?” tanya pengawal Bruno itu pada keempat anggota tim yang hadir.
Keempat anggota tim saling berpandangan.
“Bagaimana Pangeran Galen apakah sudah siap beraksi hari ini ?” tanya Krish pada pangeran itu.
“Ya pangeran bagaimana dengan persiapan mu ?” tanya anggota tim lainnya yang hadir pada Pangeran Galen.
“Ah... aku siap kapan saja di minta bergerak.” jawabnya gugup karena dia sebenarnya sama sekali tidak siap mengemban misi itu.
“Baik jika semuanya sudah siap terutama Pangeran Galen kita bisa mulai bergerak sekarang.” ucap pengawal Bruno mengakhiri diskusi kali itu.
Namun saat pengawal Bruno akan melangkahkan kaki, satu anggota lainnya menghentikan langkahnya.
“Tuan Bruno bagaimana kita menjalankan misi hari ini ? Terus terang saja sebenarnya aku masih bingung dengan tugasku. Apa Apa yang harus kulakukan saat Pangeran Galen bergerak ?” tanya Arvin utusan dari Istana Angin Timur.
Pengawal Bruno pun kembali ke tempatnya dan menjelaskan lagi.
“Baiklah akan ku jelaskan lagi supaya semuanya mengerti dan jelas pada tugasnya masing-masing. Pangeran Galen sebagai pion utama maju ke depan. Sementara tiga pion lain sebagai pelindung tetap siap siaga membantu pion utama kapan saja dibutuhkan.” ucap pengawal Bruno menjelaskan lagi pada tim itu.
“Lalu disaat pion utama bergerak bagaimana posisi kami bertiga ?” tanya Danie utusan dari Istana Pasir Besi.
“Sudah ku jelaskan berulang kali pada kalian. Jadi saat pion utama bergerak, kalian bertiga yang mengawasi dari belakang atau stand by dari kejauhan agar tidak mengganggu prosesi itu.” jelas Bruno lagi menambahkan.
“Oh ya sebaiknya tim ini kita beri nama dan juga kode untuk memudahkan kita berlima saling berkomunikasi.” ucap Bruno lagi menambahkan lalu berpikir sejenak.
“Karena ini merupakan tim rahasia maka tim ini kuberi nama tim siluman, sedangkan kode sandinya adalah bulan darah.” ucap Bruno lagi kepada semua anggota yang ada di sana.
Setelah tidak ada pertanyaan dia menyatakan diskusi kali ini ditutup dan pergerakan misi dimulai sekarang.
__ADS_1
Semua tim meninggalkan Aula Bulan Kembar dan mulai bergerak.
“Aku harap kalian segera memberikan kabar padaku meskipun itu hanya sedikit saja kabar yang kalian dapatkan. aku sangat mengandalkan kalian semua.” ucap Bruno berjalan ke luar gerbang istana bersama tim siluman.
Keempat tim siluman itu mulai bergerak meninggalkan pengawal Bruno yang masih berdiri di luar gerbang istana mengantar kepergian mereka.
“Ayo kita berangkat sekarang...” ucap Arvin pada ketiga orang lainnya lalu melompat ke udara dan melesat.
Tiga anggota tim lainnya ikut melompat ke udara dan melesat mengejar rekan mereka.
“Tujuan pertama kita berarti ke tempat dimana para werewolf tinggal.” ucap Krish di tengah perjalanan dan melakukan diskusi ringan bersama tiga rekannya.
“Ya tentu saja. kita harus segera kembali sebelum malam tiba dan melaporkan pada Tuan Bruno.” ucap Danie menambahkan.
“Menurut kalian siapa yang lebih baik memeriksa keadaan di sana ?” tanya Danie lagi pada yang lainnya.
Karena para orang tua itu biasanya mengajukan Pangeran Galen untuk bergerak duluan maka sebelum mereka menyuruh nya dia berinisiatif mengajukan dirinya sendiri agar tidak dicap sebagai pecundang yang takut pada manusia serigala.
“Ehm.... senior... maksud ku tetua, biar aku saja yang menuju ke perkampungan werewolf.” ucapnya menawarkan diri.
“Nak... maksud ku Pangeran Galen Kau tidak perlu menyelidiki perkampungan werewolf. Itu bukan ranah mu sekarang.” ucap Krish melarang sang pangeran untuk bergerak duluan dengan pemikiran karena masih muda dan belum mumpuni jika harus berhadapan langsung dengan para werewolf jika sesuatu yang buruk terjadi, selain itu tidak mudah berurusan dengan para werewolf
itu.
“Pangeran Galen menurutku kau lebih baik nanti mengurus saxion yang lemah daripada werewolf yang tak bisa di prediksi.” ucap Krish lagi menambahkan.
Pangeran Galen tampak tidak suka mendengar ucapan dari perwakilan istana Bintang Kehidupan itu yang terkesan seolah meremehkan dirinya dan menganggap dirinya lemah serta tak bisa menghadapi manusia serigala yang kuat. Namun dia tak bisa menolaknya dan memilih setuju saja dengan pendapat itu.
“Kalau begitu siapa yang akan ke perkampungan werewolf ?” tanya Pangeran Galen pada mereka bertiga.
Karena tak ada yang mengajukan diri, maka Arvin majukan dirinya sendiri.
“Bagaimana jika aku saja ?” ucapnya mencairkan suasana yang sedikit tegang.
__ADS_1
“Ya aku setuju...” jawab ketiga anggota lainnya.
Ketiga anggota tim siluman berhenti di satu titik untuk memantau sementara Arvin terus maju menuju ke lokasi perkampungan werewolf.
“Kita menyebar saja...” ucap Krish pada dua anggota lainnya yang setuju dengan usulannya.
Walaupun masih di satu tempat ketiga anggota tim itu saling berpencar menyamarkan diri dengan menunggu di pepohonan ada tidak di jalanan di tempat itu menunggu kabar selanjutnya.
Sementara itu Arvin melesat cepat di udara. Dia melewati hutan yang sangat lebat dan luas yang ada di wilayah perbatasan negeri amulet dan sampailah dia di negeri manusia.
“Huft.... ternyata masih di wilayah anubis.” ucapnya melihat hutan yang kembali terhampar di depannya.
Lelaki itu menapakkan kakinya di tanah sekedar untuk mengisi rongga dadanya dengan udara yang melimpah dan segera kembali melompat ke udara dan melesat melewati hutan belantara itu jalan yang ditempuh nya masih jauh.
Di tengah jalan dia sempat berhenti karena mendengar suatu keramaian. Dia melihat ada banyak anubis yang berkumpul di suatu tanah kosong.
“Hmm.... darah segar... menggiurkan sekali...” gumamnya berhenti di tengah jalan melihat para anubis itu dari atas pohon yang membuat darahnya menjadi bergejolak.
Namun dia kembali teringat pada misinya menuju ke perkampungan werewolf.
“Sayang sekali aku hanya bisa melihat...” ucapnya menatap para anubis itu lalu kembali melompat ke udara dan melesat secepat kilat.
Setelah melewati hutan lebat itu akhirnya dia pun tiba di daerah perbatasan di mana di sana tinggal sekelompok anubis yang membaur dengan para werewolf.
“Bukankah itu werewolf.... kenapa anubis itu bisa akrab begitu dengan mereka ? Apa mereka tidak takut menjadi santapannya ?” gumamnya dari kejauhan mengawasi penduduk yang mendiami tempat perbatasan itu.
Arvin yang sebelumnya sudah menggunakan bubuk ajaib untuk menyamarkan aroma kental amulet dan merubah dirinya menjadi salah satu penghuni daerah itu mengikuti lelaki yang merupakan werewolf kembali ke tempat tinggalnya yang ada di balik dinding pembatas.
“Aldri apa kau merasa di ikuti anubis ?” tanya salah satu werewolf pada temannya sambil menoleh ke belakang dan ternyata tidak ada siapa-siapa.
Aldri ikut menoleh ke belakang dan tidak menemukan siapapun di belakang mereka.
“Tidak ada siapa-siapa di belakang kita. Mungkin kau terlalu banyak menghisap darah tadi.” ucap Aldrin pada temannya sambil tertawa.
__ADS_1
Mereka terus berjalan menuju rumah mereka, sementara itu Arvin muncul dari balik pohon yang ada di jalanan yang telah mereka lewati dan terus memasang mata pada mereka dari kejauhan.
BERSAMBUNG....