Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 79 Sisi Lembut Orion


__ADS_3

Setibanya di kantin Orion memesan tiga minuman dingin setelah itu dia segera kembali ke tempatnya tadi. Betapa terkejutnya dia saat melihat dua temannya itu sekarang sedang berkelahi.


Dia pun segera berlari menghampiri mereka berdua dan melerai nya.


“Ariel... ! Galen...! Apa-apaan kalian ini ?” teriak Orion histeris lalu berdiri di tengah mereka berdua dan mendorong kedua tubuh lelaki itu sampai jatuh terjerembab ke tanah.


Ariel yang wajahnya bengkak setelah kena pukulan Galen berdiri. Begitu juga dengan Galen yang matanya terlihat bengkak ikut berdiri dan kembali mendekati Ariel tanpa mempedulikan keberadaan Orion dan kembali melancarkan pukulan pada lelaki itu.


Melihat Galen dan Ariel yang kembali berseteru dan akan melanjutkan perkelahian mereka, darahnya semakin mendidih dan membuat kesabarannya hilang.


“Galen... ! Ariel... ! kalian ini kenapa ? Hentikan ini semua... ! Ku bilang hentikan...!” teriak Orion keras karena melihat Ariel yang tak mengindahkan perkataannya dan sudah melayangkan pukulan ke dada Galen.


Karena merasa kesal dengan tingkah temannya yang kekanakan itu, dia pun pergi dari sana dan meninggalkan mereka berdua.


“Orion... tunggu... !” teriak Ariel meminta Gadis itu untuk berhenti. Namun Orion tetap saja terus berjalan meninggalkan mereka.


“Dasar kau... ! Ini semua salah mu... puas kau sekarang ?!” ucap Galen dengan nada keras lalu meninggalkan Ariel.


Galen berjalan cepat mengejar Orion yang jalan menuju gerbang pintu keluar akademi.


“Orion...tunggu...!!” teriak Galen yang sekarang berjalan di samping gadis itu. Dia menarik tangan Orion tapi gadis itu menampiknya dan malah mendorongnya.


“Orion... dengarkan aku...” ucap Galen kembali menarik lengan gadis itu.


“Tak ada yang perlu kau jelaskan. Kenapa kau seperti anak kecil saja ? Apa sebenarnya masalah kalian berdua ? Aku benci kalian berdua tidak akur seperti itu.” jawabnya sambil melepaskan tangan Galen.


“Orion... dengarkan aku... ya aku mengaku salah karena meladeni temanmu itu. Lain kali hal seperti ini takkan terjadi lagi.” bujuk Galen untuk meredam amarah gadis itu.


Mendengar kata permintaan maaf yang meluncur dari bibir Galen, hatinya pun menjadi lunak.


“Hah... baiklah tapi jika sampai hal itu terulang lagi. Aku takkan pernah mau berteman dengan mu lagi.” ucap gadis itu menoleh ke arah Galen yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Orion mengambil jalan pulang menuju ke arah rumahnya dengan Galen yang masih mengikutinya.


“Aku mau pulang, kenapa kau mengikuti ku ?” tanyanya saat menoleh kebelakang dan lelaki itu masih berjalan di sana.


“Aku ingin mengantarmu pulang agar tahu rumahmu.” jawabnya singkat.


“Tapi...” balas Orion berbalik dan menatap Galen yang mendapat luka memar di wajahnya sambil mengangkat bahu.


Galen membalasnya dengan tersenyum mendengar isyarat yang artinya gadis itu mengizinkan dirinya boleh mengantar sampai ke rumahnya.


Sementara itu dari kejauhan Ariel yang berlari menuju jalan pulang melihat Galen berjalan bersama Orion. Dia berbalik dan mengambil jalan lain untuk menghindari pertikaian dengan Galen lagi agar Orion tak kembali marah padanya.


Beberapa saat kemudian mereka berdua tiba di depan rumah Orion. Galen menatap rumah itu meskipun sebenarnya dia sudah sering melihat rumah itu sebelumnya.


“Jadi di sini rumahmu...” ucap Galen berhenti tepat di depan pintu rumah Orion.


Orion membuka pintu dan mengajak lagi itu masuk ke dalam rumahnya.


“Masuklah sebentar...” ajaknya mempersilahkan Galen yang masih diam di tempat untuk masuk.


Beberapa saat kemudian gadis itu kembali sambil membawa minuman dan memberikannya pada Galen. Lalu dia kembali lagi ke dalam dan saat keluar dia membawa semangkuk es batu beserta handuk kecil.


Orion duduk di samping Vallen setelah meletakkan es batu dan handuk kecil itu di meja.


“Untuk apa es batu ini... ?” tanya Galen saat melihat gadis itu membawa semangkuk es batu dan menaruhnya dalam pangkuan.


“Kau diam saja jangan bergerak.” pinta Orion pada Galen agar tetap duduk tenang.


Dia lalu mengambil beberapa potong es batu dan membungkusnya dengan handuk lalu menaruh handuk itu di atas luka memar di sekitar area mata Galen.


“Hiss...” ucap lelaki itu menahan rasa sakit di sekitar area matanya.

__ADS_1


“Orion kau tak perlu melakukan hal itu padaku. Ini hanya luka memar biasa dan besok akan segera sembuh.” ucapnya menolak sambil menarik tangan Orion dari mukanya.


“Sudah ku bilang pada mu untuk diam sebentar. Ini tak akan lama, tahan, agar wajah mu tidak semakin bengkak nanti.” ucapnya bersikeras dan menyingkirkan tangan kalian dari mukanya.


Galen pun membiarkan gadis itu merawat lukanya. Dia hanya sesekali merintih menahan rasa sakit sambil menatap gadis itu dari dekat dengan rasa bersalah.


“Apa yang kau lakukan padaku ini... jika kau tahu sebenarnya aku hanyalah memata-matai diri mu, apa kau masih akan sebaik ini pada ku ?” batin lelaki itu yang bisa merasakan sisi lembut dari Orion.


Sementara itu di tempat lain, Krish yang mendapat laporan dari Pangeran Galen segera melaporkan hal itu pada pengawal Bruno.


Setelah menerima laporan itu, Bruno meneruskannya pada Raja Agastya. Bruno menghampiri sang raja yang sedang duduk di singgasana.


“Lapor Yang Mulia Raja, ada laporan dari tim siluman mengenai penyusup saat itu.” ucapnya sambil memberi hormat.


“Katakan...” balas Raja Agastya tak sabar mendengarnya.


“Menurut laporan dari tim siluman, saxion itu menyusul kemari hanya ingin bertemu dengan pangeran Diaz, Yang Mulia. Sedangkan di tempat tinggal werewolf sama sekali tak ada pergerakan untuk menyerang kita. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya ?” tanya Bruno setelah menjelaskan panjang lebar.


Raja Agastya tampak diam sebentar dan berpikir.


“Hmm... jadi putrinya Pangeran Diaz ingin bertemu dengan ayah nya ya ? Dan werewolf itu menjadi sekutunya ? Hahaha....” ucap Raja Agastya tertawa lebar mendengar laporan itu.


“Tetap lakukan pemantauan pada Putri Pangeran Diaz. Kita lihat apa yang akan dilakukannya ? Jika dia melakukan tindakan yang membahayakan negeri ini habisi dia langsung di tempat.” ucap Raja Agastya menambahkan.


“Baik Yang Mulia...perintah dari Raja Agastya akan langsung kami tidak lanjuti.” balas Bruno lalu undur diri dari hadapan sang raja menuju ke Aula Bulan Kembar.


Setibanya di sana, dia menghubungi anggota tim siluman yang tidak bertugas di lapangan. Dia menginstruksikan pada tiga anggota tim siluman sesuai apa yang diperintahkan oleh raja Agastya melalui gelombang infrasonik yang di kirimnya pada tiga orang itu.


“Pekerjaan kita santai kalau hanya memantau saja.” ucap Krish pada dua anggota lainnya saat ada di markas yang dia bangun di luar istana selama menjalankan misi itu.


“Kau benar... menurutku cukup Pangeran Galen saja yang melakukan tugas ini. Baiklah nanti akan segera ku hubungi pangeran dan menyampaikan perintah dari tuan Bruno.” jawab Danie sambil tersenyum.

__ADS_1


Ketiga anggota tim siluman tampak bersantai dengan meneguk arak yang ada di meja depan mereka dan minum bersama.


BERSAMBUNG....


__ADS_2