Darah Campuran

Darah Campuran
Eps.26 Tempat Tinggal Baru


__ADS_3

Hari berikutnya saat sinar matahari pagi menerobos masuk ke rumah dan kicauan burung merdu bersahutan di luar, Orion kecil bangun dari tidurnya.


Dia melihat ibunya masih belum sadarkan diri dan wajahnya sudah tak lagi pucat seperti sehari sebelumnya.


Gadis itu turun dari tempat tidur dan memegangi tangan ibunya.


“ Ibu... bangun sudah pagi... Tolong ibu bangunlah dan buka matamu...” ucap anak itu sambil memegangi tangan ibunya yang masih merasa khawatir dan mencemaskan kondisi ibunya itu.


Sayup-sayup Putri Zoya mendengarkan suara dari Orion kecil yang memanggilnya. Dia mulai menggerakkan jari tangannya lalu membuka matanya.


“Orion... sayang apakah itu kau Nak ?” ucapnya yang mulai bisa melihat dengan jelas dan melihat Orion kecil nampak khawatir sekali pada dirinya.


“Aku senang Ibu sudah bangun. Aku takut jika Ibu tidak bangun dan meninggalkan aku sendiri.” melihat ibunya yang tersenyum dan masih tampak lemah.


“Ibu tak akan pernah meninggalkanmu nak. Ini dimana Orion dan siapa yang menyelamatkan ibu ?” tanyanya pada putrinya setelah sadar bahwa dia ada di suatu ruangan yang dia kenal.


“Ah ibu kita ada di rumah nenek Hera. Nenek Hera yang menyelamatkan Ibu semalam dan membawa kesini.” ucapnya menjelaskan pada ibunya yang baru sadar.


Saat itu nenek Hera masuk ke ruangan dan membawakan minuman hangat untuk mereka berdua. Dia merasa senang saat melihat wanita yang ditolongnya sudah sadar.


“Syukurlah kau sudah sadar, nak. Semalaman putrimu menangis dan menunggui mu.” ucap nenek itu sambil menaruh segelas teh hangat ke meja di dekat tempat tidur.

__ADS_1


Putri Zoya berusaha untuk bangun dan mengucapkan terima kasih pada nenek yang telah menolong dirinya itu, namun dia merasakan tubuhnya masih sakit untuk digerakkan.


“Sudah nak jangan paksakan dirimu nenek tahu kau belum sembuh benar.”


Putri Zoya pun kembali merebahkan dirinya di tempat tidur sembari tersenyum pada nenek itu.


“Terima kasih banyak nenek sudah membantu kami. Dan maaf, kami merepotkan nenek.” jawabnya merasa sungkan dan berhutang budi pada nenek itu.


“Tak perlu sungkan seperti itu padaku nak. Anggap saja aku sebagai ibumu sendiri. Nenek belum tahu namamu dan juga tempat tinggal mu...” ucapnya sambil duduk di kursi dekat sang putri berada.


Putri Zoya menjadi bingung akan menjelaskan identitasnya apakah dia harus memberi tahukan nama aslinya atau tidak karena dia tak ingin dikenal sebagai seorang putri. Setelah berpikir dan mempertimbangkannya, Putri memutuskan untuk memberitahukan nama aslinya karena mungkin saja nanti itu tidak tahu statusnya sebagai seorang putri di tempat yang sangat terpencil itu jauh dari keramaian kota.


“Panggil aku Zoya nenek, jika boleh kami akan menginap di sini beberapa hari sampai luka ku sembuh dan nanti kami akan mencari tempat tinggal baru untuk kami...” jawabnya menjelaskan keadaan dirinya yang sekarang tak punya tempat tinggal untuk bernaung.


“Kalian berdua tinggallah disini bersamaku. Aku tinggal di sini seorang diri sedangkan Putri ku sudah tinggal bersama suaminya di luar kota dan tak mungkin kembali ke sini. Aku akan menganggap kalian sebagai putri dan cucuku.” ucapnya tersenyum lebar melihat mereka berdua dan berharap mereka menyetujui tawarannya.


Putri Zoya dan Orion saling berpandangan. Mereka merasa senang sekali mendengar tawaran dari nenek Hera dimana mereka harus mencari tempat tinggal baru. Bagaikan mendapat durian runtuh di siang bolong, sang Putri pun menerima tawaran itu dengan senang hati.


“Benarkah kami berdua boleh tinggal di sini? Terima kasih banyak nenek Hera. Kami berhutang budi pada nenek.” ucapnya sembari tersenyum kembali pada nenek karena merasa senang sekaligus bersyukur tak perlu susah-susah mencari tempat tinggal baru.


Sementara itu di lain tempat di negeri para amulet sementara itu pagi-pagi sekali pangeran Diaz melesat dengan cepat menuju ke tempat ketua Dewan Konstitusi Vampir berada.

__ADS_1


Dia berjalan dengan cepat memasuki kantor sang ketua dan tanpa permisi menerobos masuk ke dalam ruangan itu yang membuat ketua Buana menjadi terkejut sekaligus geram dengan tindakan yang dilakukan oleh pangeran dia saat itu.


“Pangeran Diaz ada perlu apa Pangeran sampai datang ke kantor ku sepagi ini ?” ucapnya saat melihat Pangeran Diaz yang masuk dengan wajah muram dan amarah yang siap meledak.


“Ketua Buana tidak usah basa-basi lagi. Aku tahu ketua yang sudah melakukan semua ini.” ucapnya dengan nada semakin tinggi dan emosi yang membuncah.


Ketua Buana tidak tahu pada apa yang dimaksud oleh pangeran dan itu membuatnya bingung.


“Sudah cukup pura-puranya ketua Buana ! Aku tahu ketua Buana yang sudah mengirimkan pasukan khusus untuk melenyapkan istri dan anakku. Bukankah di awal ketua sedang bilang jika istri dan anakku pergi dari negeri amulet berarti mereka sudah menjalani hukuman. Tapi apa yang ketua lakukan pada mereka? Kenapa ketua Buana mengingkari putusan yang telah kau buat sendiri ?!” ucapnya dengan marah dan menghampiri ketua Buana.


Wajah ketua Buana terlihat syok mendengar pernyataan yang dilontarkan Pangeran Diaz padanya. Bagaimana bisa Pangeran itu sampai mengetahui pasukan khusus yang dia kirim untuk menyiapkan istri dan anaknya. Sedangkan pasukan khususnya itu bergerak tanpa meninggalkan bukti yang bisa dilacak.


“Pangeran Diaz aku mohon jaga ucapan pangeran ! Aku tidak pernah melakukan apa yang Pangeran tuduhkan itu padaku. Apa Pangeran punya buktinya ?” ketua Buana berkelit dan meminta bukti nyata dari sang pangeran.


Pangeran Diaz melemparkan satu kantong serbuk ajaib pada ketua Buana yang dia temukan di sekitar rumah tempat istrinya itu hilang. Namun ketua Buana terus membantah bahwa dirinya tidak menyuruh pasukan khusus untuk melenyapkan istri dan anaknya. Hal itu memicu kemarahan pangeran Diaz yang tak bisa ditahan nya lagi.


“Kau pantas mendapatkan ini, terimalah ini ketua Buana !” pangeran Diaz sudah tak bisa menahan amarahnya lagi dan meluapkan nya dengan kekerasan.


Pangeran Diaz menyerang ketua Buana dan melukai tubuh ketua Dewan Konstitusi Vampir itu.


Petugas Dewan Konstitusi lainnya yang ada di ruangan lain mendengar adanya keributan yang berasal dari ruang ketua dewan. Mereka pun segera masuk ke ruang ketua Buana dan mendapati Pangeran Diaz sedang menyerang ketua Buana.

__ADS_1


Kelima petugas yang masuk ke rumah ketua dewan konstitusi vampir langsung bergerak tanpa diperintah. Mereka dengan cepat meringkus Pangeran Diaz yang mengamuk di ruangan sang ketua. Dan keadaan saat itu semakin bertambah ricuh.


BERSAMBUNG....


__ADS_2