Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 35 Runtuhnya Dewan Konstitusi


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu sejak pencarian terakhir yang di lakukan Pangeran Diaz. Tetapi dia masih sering mencari dan belum menyerah.


Saat itu dia mencari sendiri dan memulai pencarian dari tempat terakhir dimana istrinya terluka. Sudah jauh dia berjalan dan akhirnya dia berhenti sebentar sekedar untuk mengisi rongga dadanya dengan udara.


“Ini kan tempat yang beraroma obat kapan lalu ? Ada seseorang di sana.” ucapnya berhenti di sebuah rumah yang pernah dia periksa sebelumnya dan melihat ada seseorang yang duduk di depan rumah itu.


Entah kenapa hati kecilnya berkata bahwa dia ingin bertanya pada orang itu. Dia pun berjalan pelan dan mendapati seorang wanita yang duduk itu ternyata seorang nenek.


Nenek Hera yang saat itu duduk melihat ada seorang pemuda yang datang menghampirinya. Dia langsung berdiri dan menatap sosok lelaki tampan yang terlihat pucat dengan pakaian bangsawan.


“Ya tuan... apa ada yang bisa ku bantu?” tanya nenek Hera saat lelaki itu berhenti di depannya.


“Begini nek sebenarnya aku mencari istri dan anakku. Aku sudah lama mencarinya dan belum menemukan mereka. Mungkin saja mereka melewati tempat ini dan nenek pernah melihat mereka...” jelas Pangeran Diaz mengungkapkan maksud dan tujuannya mendatangi nenek itu.


“Hilang... bagaimana ciri-ciri mereka mungkin aku pernah melihat mereka ?” tanya nenek Hera padanya.


“Istriku Putri Zoya seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan dan seorang anak kecil bernama Orion berusia delapan bulan... emm maksud ku tiga tahun.” jawabnya pada sang nenek dan menjelaskan ciri-ciri lainnya kedua orang yang dicarinya itu.


Nenek Hera mencoba mengingat-ingat seseorang dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh lelaki itu. Semua ciri-ciri yang disebutnya sama persis dengan Zoya serta Orion yang tinggal di rumahnya sebelumnya.


“Tuan apakah yang tuan sebutkan tadi adalah seorang wanita yang terluka korban perampokan ?” melihat lelaki itu mengangguk.


“Apakah nenek pernah melihat Zoya dan Orion ?” tanyanya lagi.


“Mereka ada di sini sebelumnya... aku menyelamatkan dia saat terluka parah di tengah hutan itu.”jawabnya sedih mengingat lagi dua orang itu yang sekarang sudah tak bersamanya.

__ADS_1


Pangeran Diaz nampak lega dan tersenyum mendengar penjelasan sang nenek. Akhirnya pencariannya membuahkan hasil kali ini.


“Nenek tolong izinkan aku masuk... aku ingin bertemu dengan mereka. Aku sangat rindu sekali pada mereka.” ucapnya sangat senang dan berjalan melangkah masuk ke rumah itu.


Nenek Hera bingung mau menjelaskan apa dan tak bisa mencegah lelaki itu masuk ke rumahnya.


“Zoya sayang... Orion... aku datang. Sayang keluarlah...” panggilnya saat dia ada di dalam rumah sang nenek. Namun tak ada jawaban dan juga tak ada yang keluar setelah dia memanggil.


Nenek Hera segera masuk ke rumah dan menghampiri lelaki itu lalu berkata dengan sedih.


“Maaf... Mereka berdua memang pernah tinggal di sini. Tapi satu bulan yang lalu mereka pergi dari sini.” jelas nenek sambil menatap iba lelaki itu yang seketika raut wajahnya berubah sedih sekali.


“Apa.... kenapa mereka pergi dari sini Nek ? Dan sekarang mereka ada di mana tolong beritahu aku dimana keberadaan mereka, aku akan jemput mereka.” ucapnya.


Nenek Hera kembali menggeleng dan terlihat sedih menatap lelaki itu.


“Apa yang sebenarnya terjadi nek tolong katakan dengan jelas pada aku akan aku mengerti...” ucapnya memohon karena semakin tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya.


“Ceritanya panjang silakan tuan duduk dulu...” jawab nenek Hera. Pangeran Diaz duduk dan mendengarkan cerita darinya.


Setelah mendengar ceritanya, Pangeran Diaz semakin terlihat sedih dan terpukul mengetahui istri dan anaknya diperlakukan seperti itu oleh warga di tempat itu. Dia yakin pasti istrinya itu ketahuan oleh warga saat menghisap darah binatang dikarenakan haus tanpa kehadiran dirinya.


“Hah... sayang kenapa aku kehilangan jejak mu lagi...” sang pangeran membuang nafas berat karena kembali kehilangan harapannya bertemu dengan istrinya serta putrinya yang lama sudah ia nantikan.


Pangeran Diaz berdiri dan melihat tempat tidur di dekatnya tempat duduk.

__ADS_1


“Apakah istriku biasa tidur di situ nek ?” tanyanya yang di jawaban dengan anggukan oleh nenek itu.


Dia lalu berdiri dan mengambil bantal yang ada di tempat tidur itu. Dia mencium aroma istrinya yang masih tersisa di bantal itu menghirup aroma khas itu sambil memeluk bantal itu sekedar untuk mengobati rasa rindunya yang mendalam pada istrinya.


“Terima kasih nenek sudah merawat istri dan putriku sebelumnya...” Pangeran Diaz menaruh kembali bantal itu di tempatnya dia berpamitan pada Nenek. Sebelum pergi dia bertanya kembali ke arah mana istrinya pergi. Namun sayang tak ada petunjuk lagi, Karena nenek itu tidak tahu pasti ke mana istri dan putrinya pergi. Dia hanya menunjukkan arah jalan terakhir yang dilewati istri dan putrinya.


Pangeran Diaz segera melanjutkan pencarian lagi. Dia menyusuri jalan yang ditunjuk oleh nenek. Sudah lama dia berjalan namun lagi-lagi pencariannya kali ini tetap tak membuahkan hasil.


“Zoya.... aku gagal melindungi mu. sayang... kembalilah padaku...” teriak sang pangeran saat berhenti di tengah jalan sambil berteriak dan terjatuh ke tanah karena tak kuasa menahan rasa sedih yang begitu mendalam.


“Ini semua karena ulah Dewan Konstitusi bajingan itu ! Jika bukan karena dia aku tak akan berpisah seperti ini dengan istriku. Ya benar aku harus meminta pertanggungjawaban darinya atas semua perbuatannya yang telah dia lakukan pada Zoya dan Orion.” ucap sang pangeran berdiri lagi dengan emosi yang membuncah.


Dia lalu terbang melesat dan kembali ke tempatnya. Sesaat kemudian dia tiba di kantor Dewan Konstitusi Vampir.


Petugas penjaga kantor Dewan Konstitusi yang saat itu berjaga di depan langsung menghalangi Pangeran Diaz ingin masuk dengan paksa. Namun sayang, dengan sekali serangan saja sepuluh penjaga itu langsung roboh dan tak bisa mencegah Pangeran Diaz yang masuk dengan amarah yang tak terbendung.


“Ketua Buana... ! Di mana kau... keluar kau ketua Buana... !” teriak Pangeran Diaz saat memasuki ruangan dewan konstitusi.


Ketua Buana sangat terkejut mendengar suara yang familiar di telinganya itu. Dia tak menyangka hari yang akan mengancam dirinya akhirnya datang Juga. Dia tidak mengira Pangeran Diaz akan kembali datang secepat itu padanya.


Tepat saat dia berdiri pangeran dia sudah ada di depannya, dan hanya dengan menatapnya saja tubuh ketua Dewan Konstitusi Vampir itu gemetar.


“Pangeran Diaz apa yang membawamu kemari...?” tanyanya gugup dan menahan ketakutannya.


“Tidak usah basa-basi lagi ketua Buana ! Sudah jelas kedatanganku kemari untuk menuntut balas pada semua perbuatan yang telah kau lakukan pada istri dan putriku !” ucap sang pangeran marah dengan nada tinggi.

__ADS_1


Dia maju mendekat dan menarik kerah baju ketua Buana. Sementara itu ketua Buana menunggu para petugasnya datang untuk menyelamatkan dirinya dari amukan sang pangeran yang siap meledak.


BERSAMBUNG....


__ADS_2