Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 47 Depresi


__ADS_3

Putri Zoya terperanjat saat Orion bisa masuk ke sana padahal dia sudah mengunci pintu itu sebelumnya.


Dengan wajah dan tangan berlumuran darah, seekor kelinci di tangannya terlepas saat melihat putrinya menatapnya dengan tercengang.


“Ibu.... apa yang terjadi ?” ucapnya menatap kelinci mati yang dijatuhkan oleh ibunya itu sambil menutup bibirnya karena terkejut melihat darah di wajah dan di tangan ibunya, serta kelinci yang mati itu.


“Apakah ibu... yang melakukan hal itu pada kelinci ini ?” ucapnya sambil menunjuk kelinci yang sudah tak bernyawa dan tergeletak di lantai dekat kaki ibunya.


Putri Zoya diam tenggorokannya tercekat. Dia tidak bisa berbicara dengan lancar dan menjelaskan semua pada putrinya itu. Dia tidak menyangka putrinya bisa mengetahuinya secepat itu dan tentu saja dia belum siap akan semua hal.


Dia takut putrinya itu tidak bisa menerima identitas dirinya, dia juga takut bila harus menceritakan identitas asli Orion saat ini.


“Jadi bukan brankas uang ataupun lemari uang yang ada di ruangan ini seperti yang kukira selama ini... ???” ucapnya tidak bisa menerima apa yang di lihat ya saat ini.


“Ahh... apakah ibu benar menghisap darah kelinci ini sampai kering?” tanya gadis itu lagi yang masih belum mendapat jawaban dari ibunya.


“Apa yang ibu lakukan... kenapa Ibu menghisap darah kelinci ini... ?” tanyanya yang masih tidak percaya dan tidak yakin ibunya melakukan hal itu di belakangnya.


“Jadi itu sebabnya tempat ini selalu terkunci rapat dan ada siapapun yang boleh masuk ke sini ?” tambahnya lagi yang menuntut ibunya mengucapkan sepatah dua patah kata untuknya dengan penjelasannya itu.


Putri Zoya mengambil tisu yang ada di meja dekat dengan dirinya. dia langsung membersihkan sisa darah yang ada di bibir dan di tangannya dengan tisu itu.


Dia melambaikan tangannya untuk meraih tangan Orion tapi gadis itu langsung berlari pergi dan keluar ruangan itu.


“Tunggu nak... Ibu bisa jelaskan semuanya padamu... sekarang...” berteriak memanggil putrinya.


Orion sempat berhenti dan menoleh ke ibunya namun dia yang kecewa dan tidak bisa menerima hal itu kembali berlari cepat meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


“brak...” Gadis itu membanting pintu keras dan tanpa menoleh ke belakang berlari keluar dari rumah makan itu.


Dia berjalan ke arah jalan pulang menuju ke rumah dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Entah apa yang dipikirkannya saat ini yang jelas dia belum bisa menerima kondisi ibunya yang seperti itu.


Apa yang sebenarnya terjadi sampai ibunya harus menghisap darah seekor binatang? siapa sebenarnya ibunya ? Apakah ibunya bukan manusia? Apakah ibunya seorang setan?


Anak itu jadi teringat kembali dengan kejadian beberapa tahun yang lalu saat masih ada di rumah nenek Hera. Anak kecil dan warga di sana mengatai ibunya dan dirinya keturunan setan.


“Jadi apa yang diucapkan warga saat itu benar... ? jadi aku... aku adalah anak setan ?” ucapnya berhenti di sebuah pohon yang ada di dekatnya.


Kakinya terasa lemas dan rasanya dia tak kuat untuk berjalan saat ini. Ia merasa otot kakinya seketika tak bisa di gerakkan.


“bruk...” Anak itu terjatuh karena tidak kuat menahan berat tubuhnya dan bersandar pada pohon yang ada di belakangnya.


Anak itu mulai menitikkan air mata merasakan kesedihan yang dialaminya saat ini. Tak ada yang menghiburnya saat itu dan dia membenamkan kepalanya pada kedua kakinya untuk melepaskan dan menumpahkan semua rasa sedihnya.


Setelah satu jam dia menangis dan sekarang dia sudah merasa tenang dia kembali berdiri dan merasakan otot kakinya sudah bisa untuk digerakkan. dia kembali berjalan pulang ke rumah dengan langkah kaki yang gontai menyadari status identitasnya sebagai seorang keturunan setan.


Gadis itu segera masuk ke dalam dan menuju ke kamar mandi.


Dia memutar kran shower dan dan duduk di bawah shower yang mengguyur tubuhnya dengan deras.


Lama gadis itu berada di bawah guyuran shower. Meski badannya sudah menggigil kedinginan namun dia enggan untuk keluar dari kamar mandi itu. Selama pikirannya belum dingin dia tidak akan beranjak pergi dari guyuran shower dingin yang bisa mendinginkan kepalanya dan juga hatinya yang masih terasa panas.


Ia tak mengira kenapa Ibunya merahasiakan identitas itu dan menyembunyikan hal itu darinya selama bertahun-tahun lamanya. Apa ibunya itu tidak tahu bagaimana perasaannya ? Bagaimana hancurnya dirinya saat mengetahui kenyataan yang pahit itu?


Dua jam berikutnya dia keluar dari kamar mandi itu setelah berganti dengan pakaian yang tidak basah lalu membenamkan dirinya ke tempat tidur dengan tumpukan bantal yang menutupi kepalanya karena tidak bisa lagi berpikir jernih.

__ADS_1


Satu jam berikutnya itu sudah tertidur karena lelah menangis.


Malam itu Putri Zoya berlari dan berhenti di depan rumahnya untuk mengejar Orion yang mungkin saat ini sedang depresi mengetahui kondisi ibunya saat ini.


Pintu rumah itu masih terbuka dan rumah itu masih gelap dengan penerangan yang belum dinyalakan dan dia segera menyalakan lampu untuk mencari keberadaan putrinya.


“Orion... ?!” ucapnya memanggil putrinya itu sambil mencari ke seluruh isi rumah.


Dia mendengar suara shower yang masih menyala di kamar mandi dan segera menuju ke sana.


“Anak itu...” ucapnya merasa sedih melihat anaknya mungkin menjadi depresi setelah melihat dirinya seperti itu lalu mematikan shower yang masih menyala itu.


“Orion...” panggilnya kembali mencari gadis itu dan menemukan putrinya sudah berbaring di tempat tidurnya.


“Kau sudah tidur rupanya...” ucapnya saat melihat putrinya itu sudah tidur dengan mata yang terlihat bengkak.


Dia menjadi sedih melihat kesedihan yang terlihat jelas di wajah putrinya itu yang tidak bisa menerima kenyataan dirinya saat ini. Tak terasa air mata mulai menitik dari kedua pelupuk matanya.


“Maafkan ibu nak... bukan maksud Ibu merahasiakan semua ini darimu. Ibu terpaksa melakukan semua ini karena tidak ada kehadiran Ayahmu di sisiku untuk menghapus rasa dahaga ku selama ini...” ucapnya sambil membasuh air mata yang masih menetes di pipinya.


Dia melihat tubuh anak itu menggigil kedinginan tanpa selimut.


“Seandainya kau tahu... betapa ibu menderita tanpa kehadiran ayah mu di sini...” gumamnya sambil menutupi tubuh Orion dengan selimut lalu pergi dari sana dan menuju ke dapur untuk membuat minuman yang bisa meredakan rasa sedihnya.


Setelah ibunya pergi, anak itu berbalik dan menghapus air mata yang menetes keluar dari sudut matanya mendengar ucapan dari ibunya barusan.


“Apakah ayah... yang melakukan semua ini dan membuat ibunya merasa menderita ?” pikir anak itu.

__ADS_1


Karena mendengar derap langkah kaki yang masuk ke kamarnya, dia segera menarik selimut itu sampai menutupi kepalanya dan memaksa memejamkan matanya kembali.


BERSAMBUNG....


__ADS_2