Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 123 Penolakan Raja Edwin


__ADS_3

Raja Edwin menatap Galen yang menatapnya dengan tersenyum lebar dengan menggandeng seorang gadis yang tidak dikenalnya.


“Ayah... aku mencari mu kemana-mana...” ucap Galen saat berhenti di depan Ayahnya.


“Ya ada sedikit pekerjaan hari ini.” jawabnya menatap Galen dan sesekali menatap gadis yang ada di samping putranya.


Galen yang mengerti maksud ayahnya segera angkat bicara dan memperkenalkan Orion pada ayahnya.


“Ayah... ini Orion...gadis yang pernah ku ceritakan beberapa waktu yang lalu pada ayah.” ucap Galen memperkenalkan Orion pada ayahnya. Sementara gadis itu tampak gugup dan tidak menyangka akan bertemu dengan ayah Galen.


Galen menatap Orion dan menganggap ada tangan kekasihnya sambil tersenyum tipis.


“Orion... ini ayah ku... Raja Edwin.” ucap Galen memperkenalkan Orion pada Galen.


Orion yang sama sekali tidak pernah masuk ke istana dan tidak tahu peradatan di istana terlihat semakin gugup, tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Namun dia teringat kembali jika pengawal di istana memberi hormat pada Galen saat memasuki istana dan dia pun melakukan hal yang sama.


“Salam Raja Edwin...” ucap Orion memberi salam pada ayahnya Galen seperti yang di lakukan oleh dua pengawal di luar istana tadi.


“Ya...” jawab Raja Edwin membalas salam dari Orion degan senyuman. Lelaki itu memperhatikan dan mengamati sosok gadis yang menjadi pilihan putranya dan tampak tersenyum lagi setelah melihat Orion dengan jelas dari dekat.


“Gadis ini cantik sekali... pantas jika bersanding dengan Galen.” batin Raja Edwin yang terpesona pada kecantikan Orion yang tergolong di atas rata-rata.


“Kalau boleh tahu, kau berasal dari keluarga mana, Orion ?” tanya Raja Edwin pada Orion ya ingin tahu keluarga dan latar belakang gadis itu.


Orion tampak terkejut dan kelengkapan mendapat pertanyaan dari ayah Galen dan harus memberitahu identitasnya sebagai keturunan saxion.


“Aku adalah putri dari...” ucap Orion terhenti dan menelan ludah untuk melanjutkan perkataannya.


Galen yang tahu jika gadis itu sedang gugup menyambung ucapan Orion.


“Ayah... Orion berasal dari kerajaan Bulan Dingin dan dia adalah putri dari Pangeran Diaz.” ucap Galen menjelaskan identitas Orion membantu ayahnya.


Mendengar Galen menyebut nama istana Bulan Dingin, tampak lelaki itu tersenyum lebar karena gadis itu berasal dari keluarga terpandang sepertinya dirinya bahkan berada di atasnya selain itu juga merupakan kerjaan paling berkuasa di negeri amulet.

__ADS_1


“Ehm... Pangeran Diaz... ?Ah putri dari Pangeran Diaz rupanya...” ucap lelaki itu saat tersadar jika gadis itu bukan putri dari Raja Netra melainkan cucunya dan seketika lelaki itu terkejut.


“Bukankah Pangeran Diaz menikah dengan seorang manusia ? Jadi gadis ini merupakan saxion yang selama ini menjadi kontroversi ?” batinnya lagi setelah menyadari status Orion.


Seketika raut muka Raja Edwin berubah dingin pada Orion setelah mengetahui identitas gadis itu.


“Galen... Orion... aku masih ada urusan yang harus segera ku selesaikan. Kalian bicaralah di sini atau melihat-lihat di sekitar istana.” ucap Raja Edwin tiba-tiba beralasan untuk meninggalkan mereka berdua lalu segera berjalan menuju ke ruangannya dengan tergesa-gesa setelah berpamitan pada mereka berdua.


Setelah melihat kepergian ayahnya, Galen mengajak Orion berjalan-jalan dan di sekitar istana itu.


“Orion kau masih tampak tegang sedari tadi..” ucap Galen pada Orion mengajak gadis itu duduk di sebuah taman setelah berkeliling di istana.


Tampak Orion menghirup nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa tegangnya.


“Ya... aku memang sedikit gugup bertemu dengan ayah mu. Kau tahu aku khawatir ayahmu mempermasalahkan status ku sebagai keturunan campuran.” ujar Orion menatap Galen


Galen berdiri dari tempat duduknya dan berpindah di samping Orion.


Karena hari semakin panas Galen mengajak Orion untuk menunggu di suatu ruangan agar tak terkena terik matahari secara langsung yang bisa membakar kulit.


“Orion kau tunggu sebentar di sini aku akan mencari pelayan untuk membuatkan mu minuman dulu.” ujar Galen setelah mengantar Orion masuk ke ruangan dan meninggalkannya.


“Galen kau tak perlu repot-repot seperti itu. Aku tidak ingin sendirian di sini.” ucap Orion berdiri dan mengikuti Galen berjalan keluar dari ruangan.


“Sayang aku hanya sebentar saja dan aku akan segera kembali...” balas Galen meminta Orion untuk duduk sebentar lalu segera pergi mencari pelayan.


Di tengah jalan setelah Galen bertemu dengan seorang pelayan dan menyuruhnya membuatkan minuman untuk Orion dia melewati ruangan ayahnya.


“Galen... kemari sebentar nak...” ucap Raja Edwin memanggil Galen setelah melihat sekelebat bayangan nya melewati ruangannya.


Galen berhenti dan berbalik lalu masuk ke ruangan ayahnya.


“Ya... ada apa ayah memanggilku bukannya tadi ayah bilang masih sibuk ?” ucapnya bertanya saat berdiri tepat di samping ayahnya.

__ADS_1


Raja Edwin menaruh beberapa laporan kemeja sebentar dan beralih menatap Galen.


“Galen... ini mengenai gadis yang kau bawa tadi ke sini.” ucapnya memulai pembicaraan dengan raut muka yang terlihat serius.


“Apa kau yakin dengan pilihanmu itu ?” tanya Ayah Galen lagi dan berharap lelaki itu menjawab sesuai apa yang diharapkan olehnya.


“Ya ayah... aku yakin sekali dengan dia... aku sudah... maksud ku aku serius dengan Orion. Ku harap ayah memberikan restu pada hubungan kami berdua.” jawab Galen dengan mata berbinar-binar dan tampak senang, tak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh ayahnya.


“Galen jika kau hanya bermain-main saja dengan gadis itu Ayah menyetujuinya. Tapi jika kau serius dan berniat untuk menjadikan gadis itu sebagai istrimu ayah tidak setuju. Bukankah dia keturunan yang di kutuk oleh para amulet di negeri ini ? Aku cepat juga tahu bagaimana kok bisa kenal dengan dia...” ucap Raja Edwin panjang lebar menjelaskan ngapain ada di pikirannya pada Galen demi kebaikan anak itu sendiri.


“Tidak ayah... bukankah selama ini ayah selalu mendukung pilihanku....” ucap Galen yang tampak kecewa sekali karena ternyata ayahnya tidak mendukung dirinya.


Galen pun keluar dari ruangan ayahnya dan kembali ke ruangan tempat Orion menunggunya dengan wajah sedih.


Sementara itu di lain tempat tampak Pangeran Diaz yang sudah sampai di negeri amulet dan berjalan masuk ke istana.


“Salam Pangeran Diaz...” ucap para pengawal yang berada di luar istana menyambut kedatangan Pangeran Diaz.


“Ya salam...” jawabnya singkat sambil tersenyum lalu segera masuk ke istana.


Tampak di dalam istana Raja Netra dan Ratu Bonita tampak duduk bersebelahan dan membahas suatu hal.


“Ratu Bonita... aku rasa aku sudah lama memerintah dan memegang kendali atas kerajaan ini. Dan aku sudah merasa lelah duduk di singgasana ini...” ucap Raja Netra pada istrinya.


“Sayang...kenapa kau bilang begitu ? Apa kau lelah ?” tanya Ratu Bonita saat melihat raut muka suaminya yang tampak sedikit lelah.


“Bukan... maksud ku aku ingin turun dari singgasana ini dan salah satu putra kita menggantikan posisiku.” jawab Raja Netra menjelaskan pada istrinya. Seketika Ratu Bonita tampak terkejut pada apa yang diucapkan oleh suaminya barusan.


“Ya... menurutku kau bisa saja menyerahkan kekuasaan mu pada putra kita tapi tidak saat ini, tunggulah waktu yang tepat sayang...” jawab Ratu Bonita sambil meminta pada dayang yang berada di sebelahnya untuk mengipasi dirinya karena merasa gerah.


Tak berapa lama kemudian masuklah Pangeran Diaz dan menghadap ayah dan ibunya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2