
Hari-hari berlalu, Pangeran Diaz setiap malam mengunjungi Putri Zoya dan Orion di negeri para anubis itu. Dia datang dan pergi tanpa sepengetahuan dari warga setempat. Selain itu warga sekitar yang ada di sana tidak mengetahui identitas Putri Zoya. Mereka sama sekali tidak mengetahui jika penghuni baru itu adalah seorang vampir.
Di sana Putri Zoya berpenampilan sederhana seperti warga setempat dengan menanggalkan pakaian bangsawan khas keluarga kerajaan.
Di pagi hari dia juga beraktivitas selayaknya manusia biasa. Dia juga berbelanja ke pasar yang berlokasi tak jauh dari rumah yang saat ini dia tinggali. Dia membeli sayuran, buah dan kebutuhan lainnya.
Putri Zoya juga mencoba berbaur dengan warga setempat meski tidak terlalu dekat dengan mereka.
Sedangkan Orion kecil merasa lebih senang tinggal di rumah sederhana itu daripada tinggal di villa mewah milik ayahnya yang banyak peraturan dan banyak larangan untuk dirinya.
Hari-hari di tempat mereka bermukim ia jalani dengan senang. Di pagi hari Orion kecil sering ikut bermain dengan anak-anak kecil yang seumuran dengannya.
“Ayo kita main petak umpet.” ajak seorang gadis kecil pada Orion dan anak-anak lainnya yang ada tak jauh dari tempat tinggal Orion.
"Ayo kita suit... yang kalah akan menghitung dan mencari lainnya yang bersembunyi.” tambah seorang anak kecil lainnya.
“Ayo suit....batu...gunting... kertas...”
Semua anak melakukan suit termasuk Orion. Karena baru pertama kalinya anak itu bermain petak umpet, dan pertama kali baginya mengenal suit dia kalah dan bertugas menunggu markas.
“Ayo semuanya sembunyi... Orion hitung sampai sepuluh ya.” ucap salah satu anak dan Orion pun mulai menghitung.
“Satu...dua...tiga...sepuluh...” ucap anak itu mulai menghitung sambil menutup matanya, sedangkan yang lainya bersembunyi.
Setelah selesai menghitung dan tak ada suara, Orion kecil mulai membuka mata dan mencari keenam teman bermainnya yang bersembunyi.
Ternyata mudah saja bagi anak itu menemukan satu per satu temannya yang bersembunyi. Dengan penciumannya yang tajam dia bisa mengetahui keberadaan satu per saru temannya itu dengan tepat, tentu saja dia tidak menyadari kemampuan nya itu.
Putri Zoya kembali dari berbelanja dan melihat putrinya yang ceria bermain bersama anak-anak lainnya dan menghampirinya, karena di rasa sudah lama putrinya itu bermain.
__ADS_1
“Orion... ayo kita pulang dulu, besok bisa main lagi nak.” panggilnya sambil menggandeng tangan putrinya itu. Anak itu terlihat enggan karena masih ingin bermain lebih lama lagi. Dengan berat hati dia pun mengikuti ibunya masuk ke rumah.
“Dadah semuanya... aku pulang dulu. Besok kita main lagi ya...” ucapnya sambil melambaikan tangan pada temannya.
Tanpa ada yang tahu, satu petugas utusan dari Dewan Konstitusi Vampir ada di dekat mereka dengan menyamar sebagai warga setempat dan mengawasi dari kejauhan. Mereka menggunakan bubuk ajaib yang bisa menyamarkan aroma mereka sebagai amulet. Jadi identitas mereka tidak akan di ketahui oleh vampir jenis lain.
“Ternyata mereka membaur dengan para anubis di sini...” batin petugas utusan Dewan Konstitusi dari kejauhan yang masih mengawasi gerak-gerik mereka.
Malam harinya, Pangeran Diaz datang ke rumah itu untuk menemui istri dan putrinya.
“Ayah...!!” teriak Orion saat melihat kedatangan ayahnya dan langsung minta gendong padanya.
“Bagaimana putri ayah hari ini ?” tanyanya sambil mencium kening putrinya itu.
“Baik ayah... aku senang tinggal di sini.” ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Sayang... ada kabar apa...” tanya Putri Zoya sambil memeluk suaminya itu.
Mereka bertiga lalu mengisi waktu mereka bersama. Pangeran Diaz menunggu Orion kecil yang minta di temani main.
Hari semakin larut dan Orion kecil sudah mengantuk, sang ayah membaringkan putri kecilnya itu ke tempat tidurnya.
Pangeran Diaz keluar dari kamar Orion dan langsung menggendong istrinya yang saat itu menunggunya di luar, masuk ke kamar.
Pangeran Diaz dan Putri Zoya berbincang-bincang di tempat tidur sambil melepas rindu mereka.
“Sayang bagaimana Dewan Konstitusi Vampir di sana ? Apakah mereka masih memberi mu hukuman ?” tanyanya sambil menyentuh wajah Pangeran Diaz.
“Mereka tidak pernah muncul di hadapan ku setelah putusan itu. Kau tak usah khawatir, Zoya.” balasnya sambil membelai rambut istrinya.
__ADS_1
“Sayang apa menurut mu Dewan Konstitusi sudah tidak mengambil tindakan lagi ? Maksud ku mungkin saja dia masih mengawasi kita...” tambah sang putri yang merasa khawatir.
Pangeran Diaz diam sejenak dan berpikir bahwa apa yang di takutkan istrinya itu tak akan terjadi.
“Zoya... hal itu tak akan terjadi. Aku akan bisa merasakan jika ada amulet yang mengintai kita, tapi aku tidak merasakan kehadiran mereka di villa maupun disini.” jawabnya menenangkan istrinya yang takut tanpa alasan.
Pangeran Diaz lalu menarik tali baju sang putri yang langsung terlepas dan memperlihatkan bagian tubuh yang menonjol. Dia tak kuasa lagi menahan darahnya yang panas dan haus.
Pangeran membenamkan kepalanya pada dada istrinya dan terus menciumnya yang membuat sang putri mendesah dan tak kuasa menahan darahnya yang mendidih. Dia melucuti pakaian sang pangeran dan memberikan ciuman di sekujur tubuhnya.
Pangeran menarik putri ke atas tubuhnya dan mendekapnya erat. Sang putri terus mendesah saat tubuh mereka menyatu. Mendengar ******* itu Pangeran semakin kencang menggoyang yang membuat istrinya merintih dan mencium bibirnya.
Sebelum fajar tiba, Pangeran Diaz membangunkan istrinya lagi lalu kembali melakukan ritual suami-istri sebelum dia pergi.
Pagi hari setelah matahari terbit, putri membangunkan Orion kecil dan mengajaknya berbelanja serta berkeliling di sekitar tempat tinggal mereka.
Sementara itu di luar seorang amulet datang dan mengawasi rumah itu dari kejauhan.
Satu hari sebelumnya, ketua Buana berbicara dengan seorang anggota Dewan Konstitusi di ruangannya.
“Ada apa ketua Buana memanggil ku ?” tanya anggota Dewan Konstitusi itu.
“Aku minta bantuan mu sekali lagi. Kau tahu aku sebenarnya tidak ingin membebaskan keluarga Pangeran Diaz dari hukuman. Tapi karena Pangeran tak tersentuh, aku tak bisa memberlakukan hukuman itu padanya. Tapi untuk istri dan anaknya... mereka tetaplah pembawa bencana bagi amulet. Habisi mereka dan jangan sampai Pangeran Diaz mengetahuinya.” perintahnya panjang lebar pada orang yang di tunjuk nya untuk melakukan eksekusi.
“Baik ketua Buana, perintah di laksanakan.” jawab orang itu lalu segera pergi dari ruangan Dewan Konstitusi.
Satu jam berikutnya utusan kiriman Dewan Konstitusi itu mulai bergerak. Tanpa suara dia berhasil menyelinap dan masuk ke rumah yang di tempati Putri Zoya.
Saat itu sang putri keluar dari dapur dan berjalan ke ruang depan.
__ADS_1
“Argh...!” teriak Putri Zoya saat melakukan perlawanan pada penyusup yang menyerangnya.
BERSAMBUNG....