Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 146 Kedatangan Shirein


__ADS_3

Siang harinya Galen keluar dari ruang dimensi lukisan bersama Orion. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju ke istana Bulan Dingin.


“Galen apakah ada amulet lain yang tahu tentang ruang dimensi lukisan ?” tanya Orion di tengah jalan.


“Ku rasa hanya kau yang mengetahuinya. Aku yang menciptakan tempat itu. Dan aku sering ke sana di saat aku tak ingin ada seseorang yang mengganggu ku.” balas Galen sambil tersenyum lebar.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di istana Bulan Dingin. Galen melepas tangan Orion.


“Galen kau tak ingin duduk dulu... ?” tanyanya yang sebenarnya masih ingin bersama lelaki itu.


“Sayang... aku harus kembali ke istana. Besok kita bisa bertemu lagi.” jawab Galen sambil menarik tangan Orion dan mencium punggung tangannya.


Orion mendekatkan dirinya lalu memeluk Galen erat seakan esok dia tak pernah bertemu dengannya. Galen mencium bibir Orion sebelum dia keluar dari istana.


“Aku pergi dulu...” ucap Galen berpamitan setelah mengakhiri ciuman dan memeluknya lagi sebentar.


Galen keluar dari istana Bulan Dingin menuju ke istana Cawan Suci.


Di istana Cawan Suci Raja Edwin mengeluarkan ramuan peluntur rasa yang diberikan oleh dokter kerajaan padanya. Lelaki itu kemudian memanggil pelayan kerajaan.


“Yang Mulia Raja... ada apakah Raja Edwin memanggil ku ?” tanya jawab seorang pelayan wanita yang segera menemuinya setelah mendapat perintah dari William.


Raja Edwin berdiri Dia kemudian menghampiri pelayan itu dan memberikan sebuah botol kaca bening padanya.


“Tolong kau campurkan ini ke dalam minuman Pangeran Galen dan berikan padanya nanti.”


“Baik Yang Mulia...” pelayan itu menerima ramuan peluntur rasa kemudian segera pergi dari ruangan itu dan kembali ke tempatnya untuk menyiapkan minuman spesial bagi Galen.


Raja Edwin kembali duduk ke kursinya. Dia lalu memikirkan sebuah cara agar Galen segera menyukai wanita lain.


“Benar... aku harus melakukan sesuatu.” batinnya.


Lelaki itu kemudian berjalan keluar dari ruangannya untuk mencari William dan bertemu di lorong.


“William...ada ingin ku bicarakan dengan mu.” ucap lelaki itu mendekat.


“Baik... ada apa Raja Edwin ?” jawabnya singkat.


Raja Edwin kemudian mengutarakan maksudnya dan coba perintahnya pada ajudan kepercayaannya itu.

__ADS_1


“Baik Yang Mulia... perintah akan segera dilaksanakan...” jawab lelaki itu kemudian segera keluar dari istana dan pergi ke suatu tempat.


Galen tiba di istana Cawan Suci. Dia masuk ke istana dan di tengah jalan berpapasan dengan ayahnya.


“Kau dari mana nak ?” tanya Raja Edwin berhenti saat berpapasan dengannya.


“Oh ayah... aku hanya menghirup udara segar saja.” jawabnya bohong karena ayahnya pasti tak suka jika dia berkata jujur sudah bertemu dengan Orion.


“Kau tampak gerah... ikutlah ayah sebentar ke ruangan ayah, kita bicara di sana.” ucap Raja Edwin mengajak Galen.


Galen tak menjawab dan berjalan mengikuti ayahnya tanpa rasa curiga atau pikiran buruk.


Mereka sudah berada di ruangan Raja Edwin dan duduk berhadapan.


“Ya ayah... apa yang ingin ayah bicarakan padaku ?” tanya Galen pada ayahnya karena dia sebenarnya ingin merebahkan diri sebentar di kamarnya.


Tak berapa lama kemudian seorang pelayan segera datang ke ruangan itu membawakan mereka minuman untuk mereka berdua setelah sebelumnya pelayan itu melihat Galen datang.


“tok... tok...” pelayan wanita itu mengetuk pintu ruangan Raja Edwin dan masuk ke dalam menyajikan dua cangkir minuman. Satu cangkir untuk Raja Edwin dan satu jengkel untuk Pangeran Galen.


“Terima kasih...” ucap Raja Edwin pada pelayan wanita tadi.


“Kita hanya akan mengobrol santai di sini. Ayo ambil cangkir mu.” tambah lelaki itu yang tak sabar ingin Galen segera meminumnya.


“Ku kira ada sesuatu yang serius ayah....” jawab Galen sambil menghela nafas panjang.


Dia pun mengambil cangkir yang ada di hadapannya. Dia sempat melihat cangkir itu sebelum meminumnya. Entah kenapa rasanya ada bisikan dari hatinya yang melarangnya untuk meminumnya.


“Kurasa tak ada yang aneh dengan minuman ini.” batinnya saat melihat dan mencium aroma nya yang sama sekali tidak mencurigakan. Dia pun menenggak sampai habis satu cangkir kemudian menaruhnya kembali ke meja.


Raja Edwin tampak tersenyum puas melihat Galen menghabiskan minuman berisi ramuan itu.


“Galen... Ayah punya beberapa misi untukmu. Apa kau mau jalankan beberapa masa kecil untuk ayah ?” ucapnya pada Galen asal daripada tak ada yang mereka bicarakan lagi.


Galen memegang kepalanya karena tiba-tiba dia merasa pusing hebat tanpa sebab.


“Ayah.... maaf mengenai hal itu kita bisa bicara kan lagi nanti. Bolehkah aku kembali ke kamarku karena aku merasakan kepalaku pusing sekali...” ucap Galen yang merasa tak kuat dengan kepalanya yang terasa berat.


Sekali lagi Raja Edwin tersenyum dalam hati saat melihat Galen yang mengeluh sakit.

__ADS_1


“Kurasa ramuan itu mulai bekerja sekarang...” batinnya terus menetap dan melihat Reaksi yang terjadi.


“Ya nak... baiklah Lebih baik kau istirahat saja dulu.” jawabnya.


Galen segera keluar dari rumah ayahnya dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


“hiss...kenapa tiba-tiba aku merasa pusing hebat seperti ini dan merasakan kantuk yang hebat setelah minum tadi ?” gumam Galen berpikir dan mencari sebabnya. Namun dia tak bisa berpikir dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Ramuan itu bekerja dan membuat Galen segera tertidur pulas. Saat dia tertidur semua rasa dan memori bersama Orion terhapus dari pikirannya.


Sore harinya Galen bangun dari tidur. Dia duduk dan merasakan kepalanya sudah tidak pusing seperti sebelumnya.


“Ternyata dengan tidur rasa pusing tadi sudah hilang.” batinnya dan merasakan tubuhnya lebih segar daripada sebelumnya. Dia pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke depan.


Selama berjalan dia melihat beberapa pelayan yang berlalu lalang di sebelahnya dan tampak sibuk seperti ada tamu yang datang ke istana.


“Kenapa para pelayan ini tampak sibuk...? Sebenarnya siapa yang datang ke sini ?” batin Galen penasaran.


Galen tidak bertanya pada para pelayanan terlihat sibuk itu dan memutuskan untuk melihat sendiri apa ada tamu besar yang datang ke istana.


Dia berjalan mengikuti para pelayan itu masuk ke sebuah ruangan. Setelah dia hampir sampai di ruangan itu Galen berhenti.


Terdengar suara percakapan di sana antara ayahnya dengan seorang wanita.


“Ah sudahlah bukan urusanku... siapa pun tamu yang datang tak ada hubungannya denganku.” batinnya setelah mendengar percakapan ayahnya.


Galen berjalan kembali menuju ke depan dan melewati ruangan tempat ayahnya berada bersama tamunya.


“Itu kan Galen...” batin Raja Edwin yang tak sengaja melihat lelaki itu saat menoleh ke samping kiri dan melihat ke luar.


Raja Edwin berdiri dan jalan keluar dari ruangan itu lalu memanggil Galen.


“Galen...” Galen menoleh dan menatap ayahnya.


“Nak kesini sebentar...” panggilnya lagi.


Galen pun berbalik dan jalan menuju ke ruangan tempat ayahnya berada sekarang.


Sesampainya di depan ruangan, Raja Edwin segera mengajaknya masuk ke dalam.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2