
Melihat Galen yang diam saja dan terlihat menahan rasa sakit, Orion mendekati Galen.
“Galen...bagaimana dengan mu, apa kau bisa berdiri ?” tanya Orion saat melihat lelaki itu memegang pinggangnya.
“Kurasa tak apa...” jawabnya sembari tersenyum.
“Terima kasih sudah menolong ku dan maaf sudah merepotkan mu. Ayo kita pulang.” ucap gadis itu mengajak Galen segera pergi dari tempat itu.
Galen hanya mengangguk. Dia lalu mencoba berdiri dan merasa kesakitan ketika menggerakkan pinggangnya.
“Argh... !”
Mendengar Galen yang berteriak kesakitan Orion berjongkok dan membantunya berdiri.
“Ada apa dengan pinggang mu ?” tanyanya lagi menjadi khawatir saat melihat lelaki itu masih memegangi pinggangnya.
Setelah Galen berdiri gadis itu menahan tubuhnya dan mengangkat sedikit bajunya untuk melihat bagian pinggang lelaki itu.
“Astaga... !” pekiknya saat melihat luka lebam yang lumayan besar di pinggang Galen dan sedikit goresan di sana.
Orion menurunkan lagi baju Galen lalu segera berjalan sambil memapah lelaki itu. Galen merangkul bahu Orion untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Aku akan merawat luka mu di rumah. Tapi sebaiknya nya aku mengantarmu pulang.” ucap Orion setelah berpikir jarak ke rumah Galen lebih dekat daripada dengan jarak ke rumahnya.
Sebenarnya Galen tidak mau ada orang yang mengetahui tempat tinggalnya saat ini. Namun karena dia terpaksa dengan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri seperti itu dia pun menurut saja pada kata Orion.
“Ya baiklah...” jawabnya singkat.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke arah tempat tinggal Galen berada. Beberapa saat kemudian mereka pun sudah memasuki jalanan dimana tempat tinggal Galen.
“Galen aku aku hanya tahu jalan menuju rumahmu saja, tapi aku tidak tahu di mana rumahmu tepatnya.” tanyanya di tengah jalan sambil menatap rumah yang berjajar di sebelah kiri dan kanannya.
“Sebentar lagi kita sampai. Rumahku ada di ujung jalan sana.” ucap Galen menunjuk sebuah rumah yang dikelilingi oleh pagar hitam di depannya.
__ADS_1
Sesampainya mereka berdua di depan rumah Galen, Orion sempat terdiam sesaat menatap rumah itu.
“Jadi ini benar rumah Galen ?” batinnya sambil mengamati rumah yang pernah dia datangi sebelumnya.
Galen yang ingin segera masuk ke rumah memberikan kunci pagar pada gadis itu agar segera membukanya.
Setelah menerima kunci dari Galen Orion langsung membuka pagar dan kembali memapahnya masuk ke rumah. Di dalam rumah Orion berhenti dan akan membantu kalian duduk di ruang tamu, namun lelaki itu menolaknya.
“Orion... lebih baik kau antar aku ke kamarku saja agar aku bisa berbaring di sana.” ucapnya pada gadis itu yang mengangguk dan menurut saja pada apa yang di katakan nya.
Setelah mereka sampai di kamar, Orion membantu Galen untuk berbaring di tempat tidurnya. Namun tanpa sengaja Galen yang masih memegang bahu Orion tak sengaja menarik tubuh gadis itu yang membuatnya jatuh di atas tubuhnya.
Kembali wajah mereka berdekatan seperti sebelumnya. Rambut panjang Orion menyapu pipi Galen dengan lembut. Di mana lelaki itu mencium aroma harum dari balik rambut gadis itu.
Dia pun juga bisa merasakan nafas Orion yang terasa hangat meniup mukanya. Sesaat dia bisa merasakan desiran aneh pada dirinya saat mereka berdekatan seperti itu.
“Ah... maaf....” ucap Galen sambil terus menatap gadis itu yang masih berada di atas tubuhnya.
“Apa kau punya es di rumah ? Di mana kau menaruhnya, biar ku ambilkan.” tanya gadis itu yang tak ingin berlama-lama berada di kamar seorang lelaki dan ingin segera merawat Galen agar segera bisa pulang.
“Es... ? Sebenarnya aku... ah tolong temani aku ke sana untuk mengambilnya.” ucapnya yang tampak bingung karena tak ada es di rumahnya.
Orion menawarkan agar dirinya saja yang mengambil itu. nama Entah kenapa Garden bersikeras untuk mengambilnya sendiri sehingga dia pun menuruti permintaannya.
Orion kembali memapah Galen dan menunggunya di depan sebuah ruangan. Sementara itu Galen berjalan dengan terseok-seok sambil menahan rasa sakit lalu mengambil air yang ada di sana. Dia pun menggunakan sihir es untuk merubah air itu menjadi es batu.
Sementara itu di luar ruangan Orion yang masih menunggu Galen mengedarkan pandangan ke ruangan. Matanya tertuju pada sebuah kantong hitam yang tergeletak di meja tak jauh dari tempatnya. Karena penasaran gadis itu mengambil kantong hitam itu.
“Serbuk apa ini...” gumamnya setelah membuka isi kantong dan terdapat sebuah serbuk putih yang tak berbau setelah dia menghirupnya.
Karena mendengar suara langkah Galen yang akan keluar dari ruangan itu dia pun segera menaruh kembali kantong hitam yang tadi dipegangnya kemeja.
Galen keluar dari ruangan dan Orion langsung memapahnya begitu melihatnya. Lelaki itu baru tersadar jika sebelumnya dia menaruh bubuk ajaib di sana.
__ADS_1
“Aku lupa mengembalikan bubuk ajaib itu ke tempatnya. Semoga saja Orion tidak melihatnya dan aku harus segera mengambilnya.” batinnya menatap kantung hitam itu.
Saat berjalan tanpa sepengetahuan Orion, Galen mengambil bubuk ajaib itu dan segera memasukkan ke saku celananya dengan cepat.
Beberapa saat kemudian mereka sampai ke kamar.
“Galen lepaslah bajumu...” pintanya pada Galen dan lelaki itu langsung melepas bajunya. Terlihat bentuk tubuhnya yang menawan yang membuat muka gadis itu menjadi merona merah saat melihatnya.
“Lebih baik kau tengkurap saja.” pinta Orion.
Galen yang saat itu sudah telentang segera membalikkan badannya.
Orion mengambil es yang ia letakkan di sampingnya lalu menaruhnya di atas luka memar di pinggang Galen.
“Galen tahan sebentar...” ucapnya saat mendengar lelaki itu berteriak kesakitan.
Setelah selesai merawatnya, Orion membersihkan beberapa luka goresan di sekitar pinggang Galen dan memasangkan perban pada pinggangnya.
“Kau bisa duduk ? Aku akan pakaikan baju mu...”
Galen segera duduk dan Orion yang sekarang berdiri di depannya memakaikan baju Galen. Tangannya sempat bergetar saat menyentuh dada bidang Galen secara tidak sengaja.
“Galen aku sudah selesai merawat mu. Aku mau pulang sekarang. semoga kau lekas sembuh.” ucapnya setelah selesai memakaikan baju Galen.
“Ya.. terima kasih. Tapi maaf aku tak bisa mengantarmu sampai ke depan.” ucap lelaki itu masih duduk.
Orion mengangguk pelan dan kembali tersenyum kecil setelah mengucapkan terima kasih padanya lalu segera keluar dari rumah itu. Dia pun berjalan menyusuri jalanan kembali ke rumahnya.
Sementara itu Galen sekarang sudah rebahan di tempat tidur. Pikirannya kembali melayang kenapa dia bisa sampai melakukan tindakan diluar kendalinya saat melihat Orion yang dalam bahaya meskipun Ya sudah berusaha menutup mata pada apa yang terjadi pada Gadis itu sebelumnya.
Kali ini dia memejamkan matanya dan kembali teringat pada setiap sentuhan jemari Orion saat merawat lukanya tadi. Entah kenapa dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sendiri saat itu dan membuatnya tidak bisa tidur meskipun dia merasa ngantuk.
BERSAMBUNG....
__ADS_1