
Beberapa bulan berlalu dan Orion tetap menjalani aktivitas seperti biasanya tanpa adanya kendala yang berarti.
Suatu hari di sekolah ada sesi pengukuran tinggi badan untuk semua murid. Di sekolah tempat Orion memang sering dilakukan pengukuran tinggi badan maupun berat badan. Hal itu dilakukan untuk memantau kesehatan para siswa sekolah itu untuk meminimalisir siswa yang terkena malnutrisi.
Jika terdapat siswa yang kekurangan gizi, pihak sekolah akan memberikan bantuan untuk para siswanya yang kekurangan gizi agar bisa belajar dengan optimal tanpa perlu merisaukan nutrisi.
Satu persatu anak maju untuk melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.
“Orion...” petugas kesehatan memanggil nama Orion dan gadis itu langsung maju untuk melakukan pengukuran berat dan tinggi badan.
Anak itu segera naik ke timbangan dan langsung turun setelah petugas mencatat berat badannya. Setelah itu dia merapat ke dinding di mana ada mistar pengukur tinggi badan
“130 cm...” ucap petugas itu setelah mengukur tinggi badan Orion dan nampak lagu pada hasilnya.
Petugas itu lalu kembali mengukur tinggi badan Orion dan ternyata hasilnya tetap. Dia merasakan ada yang aneh pada anak itu. Menurutnya anak itu tumbuh lebih cepat daripada anak lainnya.
“Orion... kau tumbuh di atas rata-rata nak, mungkin kau hipernutrisi. Tapi apa itu lebih bagus daripada malnutrisi.” ucap petugas itu pada Orion yang sambil tersenyum lalu memanggil nama anak lain untuk maju ke depan dan melakukan pengukuran lagi.
Orion yang duduk lagi kembali ke tempat duduknya. Dia melihat ke sekitar dan menatap temannya yang ada dalam kelas itu. Dia menatap satu persatu temannya yang berdiri saat dilakukan pengukuran dan benar apa yang dikatakan petugas kesehatan sebelumnya bahwa tinggi badan teman-temannya di bawah tinggi badannya.
Dia jadi memikirkan apa yang diucapkan oleh petugas itu barusan. Apa benar dia hipernutrisi ? Padahal dia makan sehari tiga kali sama seperti anak lainnya dan porsinya juga sedikit tidak terlalu banyak. Sedangkan untuk menunya menurutnya juga sama dengan menu yang dimakan temannya.
“Lalu kenapa aku tumbuh lebih cepat daripada mereka ?” gumamnya sendiri sambil terus memperhatikan dan mengamati temannya.
Anak itu masih memikirkan hal itu dan baru menyadari dia berbeda dari teman-temannya.
Siang hari setelah pelajaran usai dia bertemu dengan Ariel di luar kelas. Mereka kemudian berjalan bersama menuju ke rumah.
“Ariel apa menurutmu aku berbeda dengan yang lainnya... ?” tanya anak itu sambil terus berjalan.
__ADS_1
“Apa maksudmu...” tanyanya bingung pada maksud Orion.
“Aku baru menyadarinya setelah dilakukan pengukuran tinggi badan tadi. Ternyata aku tumbuh lebih cepat daripada yang lainnya. Apakah menurutmu aku ini aneh... ?” ucapnya memperjelas apa yang di tanyakan nya.
“Ah... menurutku itu normal karena kau...”
Ariel tidak melanjutkan perkataannya karena dia baru teringat jika sebelumnya Ibu Zoya pernah bilang padanya untuk tidak memberitahukan identitas asli Orion yang merupakan seorang vampir.
Orion merasa ada yang aneh kenapa temannya itu tidak meneruskan ucapannya dan terlihat gugup saat dia memperhatikan wajahnya.
“Karena apa... aku tidak tahu karena kau tidak melanjutkan kalimat mu.” ucapnya merasa ada yang aneh dan disembunyikan oleh temannya itu darinya.
Ariel diam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat. Karena rasa ingin tahu anak itu sangat tinggi. Jika dia tidak jelas pasti akan terus bertanya sampai dia jelas.
“Em... itu... maksudku kau memang tinggi seperti ibumu. Mungkin ayahmu lebih tinggi lagi makanya kau punya tinggi di atas rata-rata.” jawabnya menjelaskan dan segera mengalihkan pandangan dari anak itu dan segera berjalan cepat foto menghindari Pertanyaan selanjutnya yang mungkin akan dilontarkan lagi oleh Orion.
Beberapa bulan berlalu dan anak itu melihat perubahan tinggi badannya saat berkaca. Dia melihat rok yang biasa dipakainya sekarang jadi lebih pendek saat dia mengenakannya. Itu artinya tinggi badannya bertambah.
Dia yang merasa aneh menanyakan hal itu pada ibunya. Saat itu ibunya sedang menyiangi bunga-bunga di teras.
“Bu... ada yang ingin kutanyakan pada ibu..” ucap anak itu keluar dari rumah dan menghampiri ibunya.
“Ya sayang... apa yang mau kau tanyakan ?” jawab ibunya sambil menaruh penyiram bunga yang dipegangnya ke meja.
“Ibu... aku baru sadar jika rok yang sekarang ku pakai semakin pendek.” ucapnya sambil menunjukkan rok yang dipakainya sekarang tingginya selutut.
“Ah iya sayang... Itu artinya kau tumbuh dan semakin besar, nak.” jawabnya singkat dan tak mengerti arah pembicaraan Orion.
Anak itu cemberut mendengar jawaban ibunya tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
__ADS_1
“Bu Zoya...”
Mendadak seorang ibu-ibu datang ke rumah Orion dan mencari ibunya.
Putri Zoya menoleh saat melihat ada Bu Manda, tetangga beberapa blok rumah datang menemuinya.
Wanita itu melihat Orion yang masih berdiri di dekat ibunya dan menatapnya seolah terkejut.
“Orion kan ya... kau sudah besar sekarang. Maksudku kau tumbuh dengan cepat dan lebih cepat besar daripada anak lainnya. Atau cuma perasaanku saja ya...” ucap wanita itu sambil mengamati anak itu yang terlihat berbeda.
Orion hanya tersenyum saja lalu menatap kearah ibunya. Orang lain saja bisa tahu tapi kenapa ibunya tidak ?
Putri Zoya nampak gugup mendengar pertanyaan dari bu Manda. Dia tidak menyangka ada anubis yang menyadari pertumbuhan putrinya yang cepat. Dia kemudian mengalihkan perhatian agar wanita itu tidak terus membahas masalah itu dan meminta Orion untuk masuk ke dalam rumah.
“Ada keperluan apa Bu Manda datang ke sini...?” tanyanya mencoba mengalihkan perhatian sambil menatap Orion yang masih berdiri di dekatnya.
“Oh iya jadi lupa... ini bu tolong di bikin kan masakan untuk tiga hari ke depan untuk acara syukuran apa bisa?” tanyanya pada ibunya Orion.
Sedangkan Orion tak melewatkan kesempatan itu dan dia langsung masuk ke dalam rumah.
Sejak tinggal di sana, Putri Zoya terbiasa membuat masakan banyak untuk dimakan bersama dengan teman-teman Orion. Dan mereka bilang masakannya enak. Dan setelah itu banyak para tetangga yang pesan kue atau makanan pada putri Zoya.
“Tentu saja bisa Bu Manda...menu apa yang dipesan dan berapa jumlahnya ?” tanyanya kembali setelah mempersilahkan wanita itu duduk dan mengambil catatan.
“Ya begini bu....” Bu Manda menjelaskan detail pesanannya pada Putri Zoya. Mereka membahas pesanan itu.
Tak berapa lama kemudian Bu Manda berpamitan setelah memesan. Putri Zoya berdiri sambil memegang catatan pesanannya tadi. Dia menatap punggung wanita itu yang pergi sambil berpikir bahwa dia harus segera melakukan sesuatu sebelum yang lainnya menyadari kalau putrinya memang berbeda dari mereka.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1