
Orion duduk di sudut kamar setelah mengunci pintunya. Matanya mulai berair dan buliran bening keluar dari matanya membasahi pipinya.
“Tidak... yang di katakan oleh Ibu barusan pasti salah... tak mungkin itu... dan pasti benar ayah memang sengaja meninggalkan kami...” ucap gadis itu membenamkan kepalanya di kakinya.
Di ruang tamu tampak Pangeran Diaz yang terlihat cemas dan sedih karena apa yang diharapkannya tak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
“Sayang... bagaimana ini... apa yang bisa kulakukan untuk membuat Orion bisa menerima ku ?” tanya Pangeran Diaz yang tampak bingung. Dia berjalan bermaksud untuk menyusul Orion namun ia menghentikan langkahnya karena khawatir putrinya judul akan semakin membencinya.
“Aku yang salah... maaf aku akan meluruskan masalah ini. Aku akan bicara dengannya nanti dan pasti putri kita bisa mengerti.” ucap Putri Zoya menarik tangan suaminya sambil menyentuh bahunya.
Pangeran Diaz memegang tangan istrinya lalu tersenyum lalu mengajaknya duduk.
“Jangan khawatir sayang... Orion memang masih labil di usia segitu jadi wajar saja dia seperti itu... biarkan dia sendiri dulu.” ucap Putri Zoya lagi lalu mencium pipi suaminya.
“Sudah... jangan kau pikirkan. Jika kau lelah beristirahatlah dulu. Ayo sayang...” Putri Zoya menarik tangan suaminya lalu menariknya mengikuti masuk ke sebuah kamar kosong yang ada di sana.
Putri Zoya duduk di samping Pangeran Diaz dan menemaninya sebentar.
“Sayang tunggulah di sini sebentar, aku akan ambilkan minuman teh camomile agar mood mu membaik tidak lagi bersedih.” ucap Putri Zoya berdiri meninggalkan Pangeran Diaz. Namun lelaki itu menarik tangannya dan obatnya tetap berada disampingnya.
“Aku tak butuh teh pemulih mood sayang, yang ku butuhkan adalah kau. Aku membutuhkan mu untuk terus berada di sampingku.” ucapnya lagi lalu membawa putri Zoya dalam pelukannya lalu merebahkan istrinya ke tempat tidur.
Pangeran Diaz mencium bibir istrinya kemudian beralih ke lehernya.
“Sayang aku belum menutup pintunya...” ucap Putri Zoya sambil melihat pintu kamar yang masih terbuka.
“Serahkan saja pada ku sayang...” ucap Pangeran Diaz yang kemudian menatap pintu yang terbuka itu dan menggunakan sedikit kekuatannya untuk menutupnya.
“klik...” pintu tertutup dan mereka berdua kembali melanjutkan aktivitasnya dengan tenang.
“Sayang... kau tahu... aku haus sekali...” ujar Pangeran Diaz terus mencium bibir istrinya. Sementara Putri Zoya menggerakkan tangannya untuk melepas baju yang menghalangi mereka.
__ADS_1
Entah siapa yang memulai duluan, terdengar suara ******* Pangeran Diaz dan Putri Zoya yang saling menyambung setelahnya.
Satu jam kemudian Pangeran Diaz menarik tubuhnya dan berbaring di samping istrinya. Putri Zoya yang masih belum puas mencium kembali bibir suaminya dan menggesekkan tubuhnya yang membuat lelaki itu darahnya kembali memanas.
“Sayang... kau masih seperti yang dulu...” ucap Pangeran Diaz sambil tersenyum dan menari tubuh istrinya ke atas tubuhnya.
“Aku akan melunasi semua hutang ku padamu sayang...” ucap sang putri yang kembali mendesah panjang setelah menggoyangkan pantatnya berirama.
Satu jam berikutnya putri Zoya merebahkan diri di kasur dan menarik suaminya ke atas tubuhnya. Pangeran Diaz menggenggam erat tangan istrinya lalu menggerakkan tubuhnya berirama yang membuat istrinya terus mendesah dan memeluknya erat.
Tak beberapa lama kemudian Pangeran Diaz kembali berbaring di samping istrinya.
“Kita istirahat sebentar dulu sayang, nanti kita lanjutkan lagi...” bisik Pangeran Diaz di telinga sang putri. Putri Zoya mengangguk dan tersenyum mereka berdua lalu tertidur pulas. Putri Zoya memeluk erat suaminya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Beberapa saat kemudian Orion yang merasa lelah menangis keluar dari kamar. Dia berjalan ke ruang tamu dan melihat di sana kosong.
“Ibu dan ayah tak ada di sini...” gumam Orion lalu berbalik dan mencari ke tempat lain.
Orion tiba di depan kamar khusus untuk tamu. Dia memegang handle pintu dan menariknya pelan.
“klak...” pintu yang tidak terkunci itu terbuka. Orion lalu mengintip ke dalam dan melihat ada ibu dan ayahnya yang sedang tertidur pulas di balik selimut dengan baju yang masih berserakan di lantai.
Tampak ibunya yang tidur dengan tersenyum sambil memeluk erat ayahnya.
“klak...” Orion kembali menutup pintu perlahan dan berlari ke luar rumah jangan menitikkan air mata setelah melihat ibunya yang tampak sama sekali tidak membenci ayahnya.
Pangeran Diaz bangun setelah mendengar ada suara dan hendak memeriksanya. Namun Putri Zoya menariknya kembali tetap tidur disampingnya.
“Sayang jangan pergi... kau butuh mengembalikan energi mu untuk memuaskan dahaga kita.” gumam Putri Zoya masih terpejam dan memeluknya lebih erat yang membuat Pangeran Diaz tak beranjak dari tempatnya dan melanjutkan tidurnya.
Malam harinya Putri Zoya manja suaminya dan oriental di ruang makan setelah ia selesai menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Pangeran Diaz dan Putri Zoya duduk bersebelahan sedangankan Orion duduk di depan mereka berdua.
“Ayo kita makan...” ucap Putri Zoya selama ambilkan makanan untuk suami dan putrinya.
“Sayang... biar ku ambil sendiri dagingnya kau tak perlu melayaniku seperti ini. Kau makanlah dulu.” ucap Pangeran Diaz pada istrinya saat wanita itu mengambilkan beberapa daging lagi ke piring sang suami.
Sementara itu Orion hanya melihat kemesraan mereka berdua saja dan merasa diabaikan.
“slash...” Orion memotong daging dengan kasar lalu memakannya sambil menatap ayah dan ibunya yang masih bermesraan.
“Ting...” setelah memakan beberapa sendok, Orion memutuskan untuk pergi dari sana karena tak nafsu makan.
“Orion sayang... kau mau kemana Nak ?” tanya Pangeran Diaz saat melihat gadis itu berdiri dari kursi setelah meletakkan piring nya.
“Maaf... aku sudah kenyang...” jawabnya singkat nanti segera pergi dan ruang makan dan masuk ke kamarnya.
“klik...”gadis itu kembali mengunci pintu kamarnya dan merebahkan diri di tempat tidur.
Melihat hal itu Pangeran Diaz dan Putri Zoya ikut beranjak dari tempat makan lalu menuju ke kamar Orion.
“Orion... kenapa kau tiba-tiba pergi seperti ini ?” tanya Pangeran Diaz di depan pintu kamar. Orion tidak menjawab dan pura-pura tidak mendengar suara ibunya.
“Orion... keluarlah kita bicarakan baik-baik.” ucap Putri Zoya namun Orion masih tak menjawab juga dan malah mengambil bantal untuk menutupi kepala dan menutup telinganya dengan kedua tangannya.
“Orion... kau sudah salah paham. Selama ini Ibu melarang untuk bertanya tentang ayahmu bukan karena Ibu benci, tapi karena ibu tak mau menjadi sedih setelah mengingatnya. Satu hal yang terpenting Ayah tidak meninggalkan kita. Keadaanlah yang membuat kita seperti ini. Kau tahu amulet tidak disarankan menikah dengan anubis, apalagi harus merubah manusia menjadi amulet tidak murni yang merupakan larangan keras meskipun hal itu dilakukan terpaksa karena....” Putri Zoya menjelaskan panjang lebar kejadian yang sebenarnya pada Orion dari balik pintu. Karena menurutnya sekarang sudah saatnya bagi Orion untuk mengetahui hal itu.
Orion masih mendengar dengan jelas semua yang dikatakan oleh ibunya meskipun dia sudah menutup telinganya. Namun dia masih tidak mengucapkan sepatah kata apapun pada mereka dan tidak membukakan pintu.
Putri Zoya tampak menghembuskan nafas berat pada perilaku putrinya. Dia pun mengajak pangeran Diaz yang tampak sangat kecewa pergi dari sana.
BERSAMBUNG....
__ADS_1