
Berapa hari berlalu setelah Pangeran Diaz kembali dari istana Bulan Dingin. Tampak lelaki itu setiap malam termenung di rumah saat semua tertidur lelap.
Suatu malam Pangeran Diaz bangun dari tidurnya karena merasa gerah di cuaca panas. Dia menoleh ke samping dan mendapati istrinya masih tidur.
“Aku tak boleh membangunkan mu...” batinnya lalu berjalan keluar kamar dan menuju ke dapur. Di sana dia menyeduh teh untuk meredakan rasa gerahnya.
Pangeran Diaz duduk sambil meminum teh buatannya dan menatap kosong ke luar jendela.
“Apa yang harus kulakukan... jika aku gantikan posisi ayah aku bisa dengan mudah mengganti aturan dan membawa Zoya serta Orion ke negeri amulet. Tapi... aku pengen menjadi raja. Berat bebannya...” batin Pangeran Diaz berpikir dan mempertimbangkan tawaran dari ayahnya.
Sementara itu Putri Zoya yang sebelum tidur pindah posisi dari terlentang menjadi miring.
“Rasanya longgar disini...” batin wanita itu saat bergeser dan merentangkan tangannya di tempat tidur masih dalam kondisi memejamkan mata.
Karena merasa tempat tidur itu semakin longgar dia pun membuka mata dan benar saja dia mendapati suaminya tak ada di sampingnya.
“Pergi ke mana kau malam-malam begini sayang...” batin Putri Zoya seketika bangkit dari tidurnya dan duduk. Dia mengedarkan pandangan tugas kita untuk mencari suami namun tak ada di ruangan itu.
Putri Zoya pun keluar dari kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Dia mencari ke ruang depan dan tak menemukannya.
“Dimana ya....” gumam Putri Zoya yang masih mencari pangeran dia dan kini dia berjalan menuju ke dapur.
“Sayang... kenapa malam-malam begini kau ada disini... apa kau lapar ?” tanya wanita itu pada suaminya. Pangeran Diaz menggeleng dan membuat istrinya duduk menghampirinya.
Putri Zoya melihat suaminya dari dekat dan baru menyadari jika lelaki itu sedang memikirkan sesuatu.
“Sayang... apa ada yang kau pikirkan ?” tanya Putri Zoya duduk di sebelah Pangeran Diaz.
“Tidak ada...” jawab Pangeran Diaz yang lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
“Sayang... kau tidak bisa membohongiku. Kau tahu jika kau ada masalah atau menyimpan sesuatu dariku. Coba ceritakan saja...” ucap Putri Zoya memegang tangan suaminya.
Pangeran Diaz menatap dalam mata istrinya sambil tersenyum pahit.
__ADS_1
“Sayang... katakan... aku akan selalu mendukungmu.” ucapnya lagi sambil membesarkan hati lelaki itu.
“Benar kau akan mendukung ku... ?” ucap Pangeran Diaz lagi sambil menggenggam tangan istrinya yang tampak mengangguk.
“Sayang... kau masih ingat ucapan terakhir kali tentang rencana ku mengajak kalian berdua kembali ke negeri amulet ?” ucap lelaki itu tiba-tiba yang membuat Putri Zoya mengerutkan dahinya.
“Huft.... bagaimana jika menurutmu aku menjadi raja menggantikan ayah ?” ucap Pangeran Diaz lagi yang membuat istrinya semakin bingung dan tampak shock.
“Apa... bukannya selama ini kau tak ingin menjadi raja, sayang...” ucap wanita itu menggeser duduknya supaya lebih dekat.
“Kau tahu jika aku menjadi raja maka aku bisa merubah peraturan dan tentu saja aku bisa membawa kalian berdua kembali ke sana.” jelas Pangeran Diaz pada istrinya.
Putri Zoya masih diam dan mencerna semua ucapan dari Pangeran Diaz dan mencoba mencari solusi.
“Sayang menurutku tak ada salahnya jika kau menggantikan posisi ayah. Cepat atau lambat kau juga pasti akan segera menggantikan posisi itu...” jawab Putri Zoya yang membuat ngelihat terkejut dan tak percaya pada apa yang barusan diucapkan oleh wanita itu.
“Sayang... kau... kau minta aku udah setuju jika aku menggantikan posisi ayah ?!” tanyanya dengan mata terbelalak tak menyangka jika istrinya malah mendukungnya menjadi raja.
“Itu artinya... kau setuju kembali ke negeri amulet ?” tanya lelaki itu dengan mata berbinar menatap istrinya.
Sekarang justru Putri Zoya yang tampak tidak siap menjawab pertanyaan suaminya.
“Sayang... bukannya aku tak mau kembali ke negeri amulet. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana status ku... apa mereka mau menerima ku ?” jawab Putri Zoya Setelah lama terdiam dan menundukkan kepala menatap lantai.
“Semua masalah mu akan teratasi saat aku menggantikan posisi ayah.” jelas Pangeran Diaz menatap istrinya yang tampak ragu.
“Sayang... kita pikirkan itu nanti. Sekarang aku masih mengantuk. Ayo kita kembali tidur.” ucap Putri Zoya mengajak Pangeran Diaz kembali ke kamar.
Pagi hari berikutnya di Istana Cawan Suci.
Tampak Raja Edwin terlihat sibuk di istananya. Dimana salah satu ajudan kepercayaannya membawa banyak gulungan yang merupakan pesanan dari Raja Edwin sebelumnya.
“Permisi Yang Mulia Raja Edwin. Ini pesanan yang tuan minta sebelumnya.” ucap ajudan itu saat masuk ke ruang kerja rajanya dan membawa tumpukan gulungan yang banyak jumlahnya.
__ADS_1
“Ya... coba berikan padaku...” ucap Raja Edwin memerintahkan pada ajudan kepercayaannya.
Ajudan kepercayaan raja dan Segara membawa gulungan yang berjumlah sekitar ratusan dan menyerahkan pada lelaki itu.
Raja Edwin menerima golongan itu dan membuka salah satunya. Terdapat lukisan gadis cantik di sana dan tertulis sebuah nama di bagian bawah potret itu beserta asal kerjaannya.
“Bagaimana menurutmu dengan ini... ?” tanya Raja Edwin menunjukkan lukisan seorang putri pada ajudan kepercayaannya.
Ajudan itu menetap lukisan yang ditunjukkan oleh raja Edwin dan tak berani memutuskan.
“Ampun yang mulia raja... putri yang Raja Edwin tunjukkan pada ku cantik dan Pangeran Galen pasti akan menyukainya.” jawab ajudan itu memuji kecantikan lukisan seorang putri.
“Hmm... biar aku lihat potret-potret lainnya dulu. Barangkali ada yang membuatmu tertarik hanya dengan sekali melihatnya.” balas Raja Edwin.
Ajudan kepercayaan Raja Edwin kemudian menyerahkan gulungan dan membukanya satu persatu, menunjukkan pada Raja Edwin agar bisa memilih yang terbaik untuk Pangeran Galen.
“Kurasa bukan ini...” ucap Raja Edwin saat melihat lukisan seorang putri lalu menutup kembali gulungan itu dan membuka gulungan yang lain.
“Ini juga bukan...” celetuk Raja Edwin. menyerahkan gunungan yang sebelah dilihatnya pada ajudannya untuk menaruhnya terpisah dengan gulungan yang belum dilihatnya.
“Semua putri dalam lukisan ini cantik rupawan, tapi aku belum menemukan satu yang tampak berbeda dari yang lainnya.” ucap Raja Edwin pada ajudan nya sambil menghela nafas panjang.
Ajudan kepercayaan Raja Edwin itu pun membuka gulungan dengan seizin dari rajanya.
“Raja mungkin ini...gadis ini tampak berbeda dari putri lainnya.” jawab ajudan menunjukkan beberapa lukisan putri pada Raja Edwin.
“Boleh juga...” ucap Raja Edwin setelah melihat lukisan yang ditunjukkan oleh ajudan kepercayaannya.
“Aku jadi bingung sekarang harus memilih yang mana yang sesuai dengan kriteria Galen...” keluh Raja Edwin lalu menaruh kembali gulungan yang dipegangnya kemeja.
“Ku rasa aku akan melihatnya lagi nanti. Kau boleh pergi sekarang.” ucapnya pada ajudan kepercayaannya agar segera angkat kaki dari ruangannya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1