
Pangeran Galen mencoba merebahkan badannya di tempat tidur. Dia menimbang-nimbang lagi keputusannya. Di satu sisi dia ingin kembali ke istana namun bebas dari semua tugas yang diberikan oleh ayahnya. di lain sisi dia sudah mulai menikmati hidup ditengah para anubis.
Senyum Orin berkali-kali terlintas dalam pikirannya meskipun dia tidak memikirkan gadis itu. Entah kenapa senyum gadis itu berbeda dari senyum para gadis lain yang pernah dia temui.
“Baiklah sudah ku putuskan. Takkan kubiarkan gadis itu tersenyum dengan lega. Aku harus tetap mengawasinya.” ujarnya lalu duduk.
Tanpa pikir panjang dia pun segera keluar dari kamarnya setelah mengambil bubuk ajaib yang memang sudah hampir habis.
“tap... tap... tap...”
Pangeran Galen berjalan menuju ke luar istana dan melewati ruang pribadi ayahnya. Dia berhenti saat melihat ayahnya duduk sendiri di ruangan itu.
Mendengar suara derap langkah kaki yang masuk ke ruangannya Raja Edwin menoleh dan mendapati Pangeran Galen sudah berdiri di sampingnya.
“Ayah... aku mau kembali menjalankan misi ku. Setelah semuanya selesai aku akan kembali ke istana ini.” ucapnya berpamitan pada ayahnya.
Tanpa banyak bicara lagi Pangeran Galen keluar dari ruang pribadi ayahnya.
“Tunggu... bermalam lah sehari di sini apa kau tidak rindu pada kediaman mu ini ?” tanya sang ayah berdiri dan berjalan menyusul Pangeran Galen.
Pangeran Garden berhenti dan berbalik menghadap ayahnya.
“Maaf... masih banyak yang harus kulakukan di sana ayah...” jawabnya menjelaskan pada Raja Edwin.
“Baiklah kalau begitu. Segeralah kembali jika misi mu sudah selesai nak.” ucap Raja Edwin tampak kecewa karena putranya menolak permintaannya.
Pangeran Galen kembali berjalan meninggalkan istana Cawan Suci. Dia melesat dengan cepat ke udara menuju ke markas tim siluman berada.
Sesampainya dia di markas tim siluman, dia mendapati hanya ada Danie yang stand by di sana.
“Dimana yang lainnya... ?” tanya Pangeran Galen setelah memasuki markas itu dan melihat ada banyak botol anggur kosong di meja.
__ADS_1
Danie yang setengah tertidur di kursi setelah minum sampai mabuk bersama dua anggota tim siluman lainnya menoleh ke samping mencari dua anggota lainnya yang sudah tak ada di sana.
“Mungkin mereka ada urusan mendadak pangeran. Ngomong-ngomong ada apa pangeran datang ke markas ?” tanya Danie yang kemudian membenarkan posisinya duduknya.
Pangeran Galen duduk disebelah Danie untuk meluruskan sebentar punggungnya yang terasa kaku.
“Hah... lalu bagaimana kelanjutan misi kita ?”
“Pangeran sebenarnya misi itu belum berakhir. Tapi kau tahu sendiri. Kami malas melanjutkan misi ini. Lebih baik kami mengurusi sesuatu yang lebih penting daripada ini. Menurutku pangeran lebih baik bersenang-senang saja di negeri anubis itu sekedar menyampaikan laporan ringan untuk tuan Bruno.” ucap Danie memberi saran.
“Apa kau bilang... ?” ucapnya dengan raut muka yang kesal. Pangeran Galen merasa ketiga anggota tim siluman lainnya itu memanfaatkan dan mempermainkan dirinya. Mereka lari dari tanggung jawabnya dan menyerahkan semua tugas pada dirinya.
Karena kesal Pangeran Galen berdiri dan keluar dari markas itu. Raut mukanya terlihat menahan amarah.
“Baik aku akan melakukan tugas ini sendirian. Dari awal aku sudah tahu kalian semua tidak serius pada misi ini. Tapi jika nanti ada apa-apa kalian semua harus ikut menanggungnya !” ucapnya tanpa menoleh ke belakang dan melompat ke udara lalu melesat dengan cepat kembali ke negeri anubis.
Danie yang sedari tadi duduk kini berdiri setelah mendengar ucapan dari Pangeran Galen yang membuat raut mukanya berubah menjadi pucat dan ketakutan.
Pagi itu Orion berjalan sendiri ke taman. Dia duduk di tempat yang teduh sambil meminum segelas minuman yang dibelinya dari kantin. Tak beberapa lama kemudian Ariel datang dan duduk di sebelahnya.
“Sedang Apa kau disini... ?” tanya Ariel sambil menatap ke sekeliling mengedarkan pandangan dan mencari sosok Galen. Dia kemudian tersenyum setelah melihat lelaki itu tak ada di sekitarnya.
“Ah... aku hanya mencari udara segar saja di sini...” ucapnya sambil menghirup udara di sekitar yang sering terasa di pagi hari.
Beberapa saat kemudian karena kelas akan dimulai mereka berdua pun pergi dari taman itu dan kembali ke kelas mereka masing-masing.
Orion sempat melihat ke sekitar sebelum masuk ke kelasnya. dia merasa aneh saja hari ini dia tidak bertemu dengan Galen.
Siang harinya saat jam istirahat pun Orion tak melihat keberadaan Galen disekitarnya. Sedangkan Ariel nampak senang karena hari ini tak ada yang mengganggu dirinya.
Sampai saat jam pulang pun Orion tidak melihat keberadaan Galen dan membuatnya khawatir.
__ADS_1
“Kenapa dari tadi aku tidak melihat Galen... apakah terjadi sesuatu padanya ? Mungkinkah lukanya semakin parah ?” Batin gadis itu bertanya-tanya.
Setelah berpisah di tengah jalan dengan Ariel, Orion kembali ke rute jalanan yang biasa di lewati Galen. Dia pernah sekali melihat lelaki itu melewati jalan yang saat ini dilewatinya.
“Aku tidak tahu pasti di mana tempat tinggal Galen. Tapi pasti salah satu rumah di sini adalah rumah lelaki itu.” ucapnya lirih berhenti di tengah jalan di mana di samping kiri dan kanan jalan itu berjejer banyak rumah.
Gadis itu terus berjalan menyusuri jalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Mengira-ngira dengan feeling-nya rumah Galen. Dia melihat satu rumah berukuran kecil di ujung jalan dan satu-satunya rumah yang terdapat pagar di depannya lalu berhenti di depan rumah itu.
“Mungkin saja ini adalah tempat tinggal Galen karena dia tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Sebaiknya ku coba saja...” ucap gadis itu sembari memegang pagar hitam yang mengelilingi rumah itu.
Dia mencari tombol atau bel di sekitar pagar namun tidak menemukannya. Dia pun akhirnya Mengambil koin dari sakunya dan mengetuk kan tiga kali ke pagar itu.
“teng... teng... teng...”
Orion menunggu beberapa saat setelah mengetukkan koin ke pagar, namun tak ada yang menjawab atau pun keluar dari dalam rumah itu.
“Apa mungkin aku salah rumah ya... sebaiknya aku pergi saja kalau begitu.” ucapnya lirih lalu berbalik dari rumah itu dan berjalan meninggalkan rumah itu kembali ke rumahnya.
Galen yang sedang tidur di kamarnya terbangun setelah mendengar ada seseorang yang mengetuk pagarnya.
“Ah jam berapa ini... ?” ucapnya duduk sambil melihat jam dinding yang menunjukkan hari sudah siang.
“Yah... aku bangun kesiangan setelah semalam begadang... Oh ya siapa yang mencari ku barusan ?” gumamnya lalu keluar dari kamarnya.
Dia merasa heran ada seseorang yang mencarinya dan mengetahui tempat tinggalnya. Karena sebelumnya dia tak pernah memberitahukan tempat tinggalnya pada siapapun.
Sesampainya di depan rumah dia tak melihat siapapun yang ada di depan rumahnya. Dia berjalan ke pagar dan mencium aroma yang di kenalnya.
“Orion... ? Kenapa gadis itu ke sini... dan bagaimana dia bisa tahu kalau tempat tinggal ku di sini ?” tanya anak itu yang merasa terkejut.
Tanpa pikir panjang dia membuka pagar dan keluarga jalanan dia mencari sosok gadis itu namun tak ada siapapun disana hanya aroma jadi gadis itu yang masih tertinggal di udara.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....