Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 48 Marah


__ADS_3

Keesokan harinya di pagi hari Putri Zoya melihat Orion yang sudah bangun. Dia lalu berjalan mendekati anaknya itu yang masih duduk di tempat tidur.


Orion yang melihat kedatangan ibunya masih merasa jengkel serta marah pada ibunya itu tidak mengindahkan kehadiran Ibunya dan bersikap cuek pada wanita itu.


“Sayang... kau sudah bangun... bagaimana tidurmu semalam? duduk di tepi tempat tidur putrinya dan membelai rambutnya.


Gadis itu menarik tangan ibunya yang menyentuh rambutnya. Dia masih marah melihat ibunya dan tidak ingin berbicara dengan wanita itu saat ini.


“Sayang... Ibu tahu kalau kau masih marah pada ibu. Tak apa kau memang pantas marah pada ibu.” memegang kedua tangan gadis itu untuk menjelaskan semua hal padanya.


Namun lagi-lagi gadis itu melepaskan tangan ibunya dari tangannya dan dia membuang pandangan ke samping kanan tidak mau menatap wajah ibunya.


“Sayang... tolong dengarkan Ibu dulu... ibu akan jelaskan semuanya padamu.” kembali meraih tangan Orion dan memegang nya. Dan kali ini gadis itu tidak menampik tangan ibunya lagi meski masih merasa kesal pada wanita itu yang menyembunyikan identitas mereka berdua dari dirinya.


“Orion... kau adalah keturunan amulet, nak dan kau spesial berbeda dengan orang pada umumnya.” jelas ibunya itu pada gadis itu.


Namun Orion sepertinya tidak senang mendengar hal itu. Dia menutup telinganya saat Ibunya kembali bercerita padanya.


“Sudah ibu... jangan diteruskan. Jangan dilanjutkan lagi... aku tidak mau mendengarnya. Aku bukan anak setan seperti yang anak kecil dulu bilang padaku saat kita masih di rumah nenek Hera.” ucapnya dengan nada keras pada ibunya yang membuat raut mukanya seketika menjadi sedih dengan penolakan yang di lakukan putrinya.


“Kita bukan setan, sayang... kita adalah amulet.” jelasnya lagi pada putrinya itu yang nampak semakin kesal.


Orion segera bangkit dari tempat tidur dan pergi meninggalkan ibunya yang masih ingin melanjutkan ceritanya.


“Orion... tunggu... !” teriak ibunya saat gadis itu berlari ke arah pintu.


Sang putri mengejar gadis itu dan berjalan cepat ke arah pintu.


“Kriek....” Orion membuka pintu.

__ADS_1


Tepat saat pintu terbuka area sudah berdiri di depan pintu itu.


Gadis itu hanya menatap Ariel saja dan berlalu melewati anak itu. Tak lama kemudian dia juga melihat ibu Zoya yang berlari dan melewatinya lalu berhenti saat melihat putrinya sudah berlari jauh dari rumah itu.


“Ariel... ” ucapnya baru sadar saat kembali dan melihat Ariel yang datang menjemput putrinya untuk berangkat bersama ke kampus.


“Ibu Zoya ada apa dengan Ariel ?” tanyanya pada ibu gadis itu yang sempat melihat Orion seperti ada masalah dengan ibunya.


“Hah... Ariel... masuklah dulu dan duduk sebentar sambil menunggu anak itu kembali, ibu akan jelaskan padamu.” mengajak dan mempersilahkan anak lelaki itu masuk ke dalam rumahnya.


Anak lelaki itu lalu masuk ke dalam dan duduk di kursi berhadapan dengan ibu Zoya.


“Jadi sebenarnya ada apa ibu kenapa dia berlari seperti itu ? Apakah ibu Zoya ada masalah dengan Orion ?” tanyanya penasaran sebenarnya ada masalah apa antara mereka berdua sampai gadis itu terlihat marah seperti itu pada ibunya.


“Ariel... Orion melihat ku saat aku sedang menghisap darah kelinci di ruangan khusus di rumah makan... dan setelah itu dia marah padaku. Meskipun Ibu sudah jelaskan padanya bahwa kami adalah keturunan amulet. Tapi dia tak mau mendengarnya dan tak bisa menerimanya dan sampai sekarang dia masih marah sama ibu....” jelasnya panjang lebar pada anak lelaki yang duduk di depannya itu dan sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.


“Ariel... Ibu tahu kau dekat dengan Orion. Tolong bantu ibu untuk membujuknya agar tidak marah pada ibu. Dan tolong kau berikan pengertian pada dia tentang amulet. Karena gadis itu mengira amulet adalah keturunan setan...” jelasnya memohon dan berharap anak itu bersedia membantunya saat ini.


“Baik Ibu Zoya... nanti aku akan mencoba bicara pada anak itu dan memberinya pengertian.” jawabnya sambil tersenyum menatap wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


“Terima kasih Ariel, ibu mengandalkan mu.” ucapnya tersenyum lalu berdiri karena harus segera bersiap dan berangkat ke rumah makan


Ariel segera keluar dari rumah dan mencari Orion yang masih belum kembali.


“Orion... kau dimana ? Kita sudah hampir terlambat tidak masuk hari ini?” panggil anak itu sambil menyisir jalan dan mencari keberadaan gadis itu.


Sesaat kemudian dia melihat gadis itu duduk di kursi yang terbuat dari besi berukir di bawah pohon yang teduh di suatu taman.


“Kau di sini rupanya... aku sudah mencari mu kemana-mana tadi.” duduk di sebelah gadis itu sambil menaruh tasnya ke kursi.

__ADS_1


Orion hanya menoleh sebentar pada anak lelaki itu tanpa berkata sepatah kata pun, karena dia sedang tidak mood.


“Hei... aku sudah dengar cerita dari ibu Zoya tentang kejadian kemarin.” Gadis itu kembali menatap anak lelaki itu yang kelihatannya mau menghibur dirinya seperti biasanya.


“Orion... kau tahu tentang amulet ?” tanyanya pada gadis itu yang masih tak mau bicara dan memilih menggeleng untuk menjawabnya.


“Kau bilang pada ibumu jika amulet itu adalah setan bukan?”


“Kau salah... amulet bukanlah setan melainkan seorang vampir.” ucap anak itu kembali menjelaskan pada gadis itu.


“Vampir ? Jadi makhluk seperti itu ada... ?” tanya yang tak percaya pada sosok mitologi dan isapan jempol itu.


“Ha ha ha... kau sendiri buktinya...” jawabnya singkat.


Orion masih diam berpikir mendengar pernyataan dari Ariel barusan yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang vampir.


Mengetahui hal itu tidak membuatnya merasa senang. Dia masih tidak bisa menerima jati dirinya sebagai seorang vampir yang berarti identik dengan penghisap darah manusia.


“Ah... sama saja apa bedanya vampir dengan setan ? Jika mereka sama-sama menakutkan dan menghisap darah manusia ?” sanggah gadis itu yang merasa sebal seolah temannya itu mengunggulkan sosok vampir.


“Jadi aku harus menghisap darah manusia untuk bertahan hidup ?” tanyanya memastikan lagi setelah mengingat ibunya yang semalam menghisap darah binatang.


“Itu hanya dongeng anak kecil. Amulet tidak menghisap darah manusia mereka menghisap darah binatang saat merasa haus saja.” jelasnya pada gadis itu.


“Jadi selama ini kau sudah tahu kalau aku adalah seorang amulet ? Itu berarti kekuatan yang ku punya selama ini bukanlah kekuatan yang diberi oleh Paman Fredy? Melainkan kekuatanku sendiri sebagai vampir?” ucapnya yang merasa kesal dan marah pada anak lelaki itu.


“Sialan... !! Kau sudah menipuku selama bertahun-tahun...!!” ucap gadis itu yang merasa di tipu mentah-mentah oleh werewolf dan memukuli lengan Ariel yang di diam saja di pukul gadis itu dan malah tersenyum.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2