Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 100


__ADS_3

" Maafkan Ayah Hana, seandainya kejadian di masa lalu tidak terjadi. Dan seandainya Ayah masih bersama dengan Bundamu, pastinya kehidupanmu tidak sepahit tinggal jalankan sekarang." ucap Yuda yang merasa bersalah.


" Sudah Ayah, semuanya juga sudah terjadi. Dan percuma saja menyesali semuanya, karena itu hanya akan membuang waktu saja." jelas Hana dengan tersenyum.


" Walaupun dia tampak sedang tersenyum, tetapi sebenarnya tersimpan banyak luka yang mendalam. Dia sangat pandai menyembunyikannya, tetapi aku masih bisa melihatnya dari sorot matanya." batin Lucky.


" Mengapa kau memperhatikanku, apakah ada yang salah?" tanya Hana dan Lucky pun langsung membuang wajahnya.


" Aku tidak sedang memperhatikanmu." jawabnya yang berbohong.


" Kamu yakin dengan perkataanmu, awas loh nanti sampai jatuh cinta sama aku." ucap Harna dengan tersenyum.


" Kalau itu sih sudah dari dulu, tetapi aku tidak berani merebut mu dari Dafa. Karena aku tahu, sesuatu yang berhasil kita dapatkan karena merebutnya pasti akan pergi dengan sangat mudah atau lebih tepatnya direbut oleh orang lain." batin Lucky.


" Idih, amit-amit aku suka sama kamu. Emosi aja saat di dekat kamu udah syukur, karena kalau dekat kamu rasanya aku meledak aja." ucap Lucky yang sebenarnya menutupi kebenarannya.


" Kamu yakin dengan perkataan kamu?" tanyanya.


" Tentu saja aku yakin, lagian untuk apa aku bimbang. Itu semua juga tidak ada gunanya, lagian aku memang nggak mungkin suka sama kamu. Aku itu adalah orang yang memegang prinsip, dan prinsipku mengatakan seseorang yang sudah dipegang hatinya oleh orang lain tidak boleh direbut." jelasnya dan Marcel dan juga Yuda pun mengangguk.


" Itu baru anak Papa, jangan pernah merebut seseorang yang sudah dimiliki oleh orang lain. Karena dia akan dengan mudah juga pergi meninggalkanmu, lebih baik cari seseorang yang memang sudah tidak memiliki hati kepada orang lain. Jadikanlah ia sebagai bidadari yang akan selalu bersama denganmu." ucap Marcel.


" Ternyata putramu ini memiliki prinsip yang sama sepertimu." ucap Yuda.


" Itu tentu, karena walaupun aku jarang bertemu dengan mereka. Aku selalu mengajarkan mereka, agar jangan bermain-main dengan hati perempuan." ucapnya yang menyombongkan diri.

__ADS_1


" Terserah mu, kau tadi bilang aku terlalu sombong. Eh ternyata sekarang kau yang sombong." ucap Yuda dengan menggelengkan kepalanya.


" Papa dan Ayah itu sama, jadi nggak usa di bahas lagi. Kalau begitu Hana pulang dulu, lain kali kita bahas lagi." ucapnya yang kemudian langsung pergi meninggalkan ruang Yuda.


Ketiganya memperhatikan kepentingan Hana, setelah Hana pergi mereka pun berkumpul kembali. Karena mereka bertiga memiliki rencana yang ingin di lakukan.


" Apakah kau bawa semua keperluan?" tanya Marcel.


" Semuanya sudah ada di mobil." jawab Lucky.


" Bagus kalau begitu, secepatnya kita harus menjalankan rencana." ucap Yuda dengan tersenyum.


" Tunggu dulu Om, apakah Om tidak ingin memberitahu Kak Wildan terlebih dahulu?" tanya Lucky untuk memastikan.


" Ya sudah kalau memang begitu Om, kalau begitu kita atur saja rencananya kapan akan dimulai. Semakin cepat kita memulainya, maka akan semakin bagus pula hasilnya." jawab Lucky.


" Yang dikatakan oleh Lucky benar, karena kita juga tidak memiliki banyak waktu. Jadi lebih baik kita merencanakannya dalam waktu dekat, karena itu akan menghemat waktu kita juga." jelas Marcel.


" Kamu tenang saja Marcel, aku akan segera membicarakannya dengan Wildan. Dan aku jamin rencana kita akan berjalan dalam waktu dekat, dan aku juga tidak akan membuat perjuanganmu dan juga Lucky menjadi sia-sia." jelasnya dan keduanya pun tersenyum.


...----------------...


Kini Hana sudah sampai di rumahnya, dan dia pun langsung menemui bundanya. Ia pun menceritakan pertemuannya dengan Marcel, dan Marcel yang telah mengangkatnya menjadi putrinya. Mawar cukup terkejut mendengar hal tersebut, dia tidak menyangka kalau putrinya ini bisa sangat dekat dengan Marcel.


" Bunda tidak sedang salah dengarkan?" tanya Mawar untuk memastikan.

__ADS_1


" Salah dengar mengenai apa Bunda?" tanya Hana yang tidak mengerti.


" Kamu dekat dengan Marcel, dan bahkan ia sampai mengangkat mu menjadi anaknya. Ini sungguh sulit untuk dipercaya, si Marcel yang cuek itu bisa kayak gitu sama kamu sayang." ucap Mawar dengan menggelengkan kepalanya.


" Bunda nggak salah ngomong, kayaknya om Marcel nggak cuek deh. Bahkan ia minta aku untuk memanggilnya dengan sebutan papa, ya walaupun awalnya agak canggung. Tetapi aku suka menyebutkannya, rasanya aku seperti mendapatkan kehangatan." jawab Hana dengan tersenyum.


" Tak kusangka dia bisa sedekat Itu dengan Marcel, dan sepertinya dia juga sangat nyaman ketika bersama dengan Marcel. Apa mungkin aku iyakan saja apa yang dikatakannya tadi ya, lagian istrinya Marcel juga sudah tidak ada. Jadi kalaupun aku bersama dengan Marcel, Itu semua tidak ada masalah." batin Mawar dengan menatap Hana yang sedang tersenyum.


" Bunda lagi mikirin apa, kenapa Bunda senyum-senyum?" tanyanya yang penasaran.


" Bunda nggak lagi mikirin apa-apa kok sayang, ngomong-ngomong kamu laper nggak?" tanyanya yang mengalihkan pembicaraan.


" Bicara mengenai laper, tiba-tiba aja Hana baru teringat kalau Hana belum makan." ucapnya.


" Ya ampun sayang, jadi kamu belum makan siang?" tanya Mawar dengan menggelengkan kepalanya.


" Habisnya tadi Hana baru matahari suatu hal, dan hal itu harus segera Hana sampaikan ke Ayah. Jadi karena langsung pergi ke kantor Ayah, dan ketika di sana malah ketemu sama Papa Marcel." jelasnya dengan menundukkan kepalanya karena tidak berani melihat sorot mata Mawar yang sangat tajam.


" Ya udah kalau begitu, sana cepat kamu makan. Nggak usah mikirin lagi tentang Gina, Bunda nggak mau gara-gara dia kamu jadi sakit sayang." ucap Mawar.


Hana pun segera pergi menuju meja makan, ia pun makan dengan sangat lahap. Mawar yang melihat Putrinya makan dengan sangat lahap, iya pun tersenyum dengan sangat gembira. Ia sangat senang karena putrinya bahagia, dan itu semua karena Marcel. Kini pikirannya sedang berkecambuk, ia sedang memikirkan apa yang dikatakan Hana tadi.


Hana pun kini memperhatikan Mawar, ia pun menyadari kalau Bundanya tersebut sedang melamun. Kini ia menjadi penasaran dengan alasan lamunan sang Bunda, tetapi ia tidak berani untuk mempertanyakannya. Dan dia pun hanya diam membisu, kemudian mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan oleh sang Bunda.


Tiba-tiba saja lamunan keduanya pun terhenti, karena semua ketukan pintu yang cukup kuat. Mawar pun segera keluar untuk membukakan pintu, dan ternyata yang ada di depan adalah Wildan Putra sebelumnya. Ia pun langsung mempersilahkan Wildan untuk masuk, kemudian menyantap makanan.

__ADS_1


__ADS_2