
Ibu dekan menyapa kak Zahra, dan kemudian ia meminta kami memperkenalkan diri satu persatu. karena ia ingin mengenal kami, dan prodi yang kami ambil.
'' Hai Zahra, ini anggota kamu?'' tanya ibu dekan.
'' Iya Bu.'' ucapnya dengan tersenyum.
'' Kalau begitu ibu boleh tau nggak nama kalian?'' tanya Bu dekan.
Mereka pun satu-persatu memperkenalkan diri, kini giliran Luhana yang memperkenalkan diri.
'' Saya Luhana Clarissa, dari prodi pendidikan Matematika Bu.'' ucapnya dengan tersenyum.
'' Luhana Clarissa, ibu boleh bicara sebentar dengan mu?'' tanya Bu dekan, Luhana tidak menjawab. Ia hanya memandangi Zahra saja.
'' Ya sudah sana Luhana, nanti kalau uda siap kamu silakan hubungi saya. Untuk tau dimana keberadaan saya dan juga teman-teman kamu ya!'' ucap Zahra, Luhana hanya mengangguk. Dan kemudian rombongan pergi meninggalkan Luhana bersama dengan ibu dekan.
'' Ayo Luhana ikut saya masuk ke ruang dekan.'' ucap ibu dekan dan kemudian langsung pergi ke arah ruang dekan, Luhana hanya mengkorinya di belakang.
'' Ayo silakan duduk.'' ibu dekan mempersilahkan Luhana untuk duduk, kemudian keduanya berbincang. Dibedakan mulai mengingat masa lalunya dengan sahabatnya dulu, dan kini ia mencurigai kalau luhana adalah anak dari sahabatnya itu.
'' Luhana, saya boleh tanya-tanya sedikit dengan kamu?'' tanyanya meminta persetujuan, Luhana tidak menjawab ia hanya mengangguk saja.
'' Kalau begitu, saya boleh tahu siapa nama ibu kamu?'' tanyanya memulai percakapan.
__ADS_1
'' Nama ibu saya Mawar Bu.'' ucapnya, sontak ibu dekan kaget setelah mendengar nama itu.
'' Ternyata tebakan saya benar, kamu Ternyata anaknya Mawar. Bagaimana keadaan Mawar saat ini? Saya sangat merindukannya, sudah lama saya tidak menemuinya.'' ucapnya dengan masih terkaget.
'' Ibu kenal dengan ibu saya?'' tanyanya yang masih penasaran.
'' Tentu, ibu kamu itu teman saya semasa kuliah.'' ucapnya dengan penuh senyuman.
'' Wah saya tidak menyangka, Ternyata Ibu temannya ibu saya.'' ucapnya dengan penuh senyuman.
'' kalau begitu, kamu tenang saja ya. ibu akan menjaga kamu, sama seperti Ibu menjaga anak ibu. karena kamu adalah anak dari sahabat ibu, itu artinya kamu juga anak ibu.'' ucapnya dengan mengelus rambut Luhana, Luhana merasa sangat bahagia kemudian memeluk ibu dekat.
'' Terima kasih ibu, Kalau boleh tahu nama ibu siapa ya? nanti akan saya sampaikan ke ibu saya.'' tanyanya dengan tersenyum.
'' Baik bu, nanti akan saya sampaikan pada ibu saya.'' ucapnya dengan tersenyum bahagia.
'' Kalau begitu saya boleh minta nomor telepon kamu?'' tanyanya dengan ekspresi penuh harapan.
Luhana pun akhirnya menuliskan nomor teleponnya di sebuah kertas yang ada di meja, dan kemudian menyerahkannya kepada Ibu dekan. Setelah itu ia pun pamit untuk pergi, karena ia tidak mau tertinggal dari teman-temannya. Dan itu akan sangat merepotkan baginya, bila sewaktu-waktu dia tersesat.
Ia pun membuka pintu ruangan dekan dengan perlahan, kemudian ia melambaikan tangannya kepada Ibu dekan. Dan dalam sekejap Ia pun menghilang dari pandangan Ibu dekan, Ia pun segera menelepon Zahra. Untuk mengetahui keberadaan teman-temannya, dan tidak butuh waktu lama Zahra pun mengangkat teleponnya. Setelah mengetahui posisi di mana teman-temannya, Ia pun langsung pergi ke tempat tujuan.
Setelah ia sampai, semuanya menatap ke arahnya. Ia pun merasa heran, dan bertanya-tanya. Mengapa teman-temannya seperti aneh melihatnya, dan ia ingin mengetahui apa penyebabnya.
__ADS_1
Ia pun hendak bertanya kepada Zahra, tetapi tiba-tiba saja Wildan pun datang. Dan kini ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Wildan tiba-tiba meminta semua anggota untuk berbaris di lapangan. Ia memendam dendam kepada Wildan, Wildan selalu membuatnya emosi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Zahra pun segera mengarahkan semua anggotanya ke lapangan. Dan kini Wildan memberikan pidato singkat di podium, tetapi kini ia tidak sendiri. Karena ia didampingi oleh Faldo, yang merupakan Gubernur mahasiswa di FKIP.
Sontak semuanya kaget, dan mereka menjadi penasaran. Mengapa presiden mahasiswa, kini berada di podium fakultasnya bersama dengan gubernur mahasiswa tingkat fakultasnya. Banyak pertanyaan muncul di dalam otak para mahasiswa tersebut, mereka sampai bingung harus mengutarakan yang mana terlebih dahulu.
'' Hai semuanya, Kalian pasti heran kan. kenapa saya bisa ada di fakultas kalian, dan bahkan saya kini bersama dengan gubernur kalian.'' ucapnya di atas podium.
'' Saya hanya ingin memberitahukan, kalau ada perubahan jadwal untuk esok hari. yang seharusnya esok kalian masih ada di fakultas, tapi karena sesuatu yang mendesak. Kalian besok akan di kumpulkan di auditorium, untuk mendengarkan pidato dari bapak rektor kita.'' jelas Wildan dan membuat semuanya kaget.
'' Kalian semua tenang saja, tidak akan ada yang dibahas. Di sana hanya akan membahas tentang keseluruhan universitas, bukan perorangan seperti di fakultas. Dan itu hanya sebentar, Karena setelah itu kalian akan dikembalikan ke fakultas. Dan kemungkinan akan diserahkan kepada prodi setelah itu, ini adalah perubahan yang tidak bisa dipungkiri. Ini semua juga bukan kami rencanakan, semuanya tiba-tiba saja terjadi. Dan tidak ada yang bisa menghindarinya, tetapi proses ini tidak akan mengganggu proses mpls yang sedang dilaksanakan.'' jelasnya meyakinkan semua mahasiswa yang sedang panik.
Semuanya yang awalnya panik, kini perlahan-lahan mulai merendah. Dan semua hal negatif yang mereka pikirkan, perlahan-lahan juga telah menjauhi pikirannya. Semuanya kini tampak tenang, dan berusaha untuk menyesuaikan diri dalam kegiatan esok hari esok hari.
'' Baik apakah semuanya sudah mengerti? dan ingat besok kita akan kumpul di auditorium. Dan sebelum jam 09.00 pagi, kita semua sudah harus kumpul di universitas ini.'' ucapnya memperingati.
Semuanya menjawab iya, dan tidak perlu waktu lama. Wildan pun segera pergi meninggalkan lapangan, dan kini yang berada di podium adalah Faldo. Yang merupakan Gubernur mahasiswa di FKIP, Ia pun mencoba untuk mengingatkan kembali kepada anggotanya.
'' Baik apakah semuanya sudah mengerti, kalau masih ada yang tidak mengerti saya akan mengulanginya kembali.'' ucap Faldo dan dijawab mengerti dengan serentak oleh para mahasiswa.
'' Baik karena semuanya sudah mengerti, sekarang silakan kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda. Dan saya berharap, kita bisa menyelesaikan kegiatan ini sesuai dengan jadwal.'' ucapnya kembali.
Semua mahasiswa pun kembali pergi melanjutkan kegiatannya, kini teman satu tim Luhana kembali menatapnya dengan sinis. Luhana yang tidak mengetahui apa-apa Ia pun kembali panik, Ia pun mulai bertanya kepada temannya. Sebenarnya apa yang ia lewatkan, hingga teman-temannya itu menatapnya dengan sinis.
__ADS_1