
Hana pun segera membuka surat tersebut, dan alangkah senangnya ia ketika membacanya.
...----------------...
Assalamualaikum Hana
Perkenalkan aku Intan
Aku nggak tau kau suka apa, tetapi aku berharap kau menyukainya. Maaf ya, seharunya aku memberikan ini langsung kepada mu. Tetapi aku masih belum berani bertemu dengan mu secara langsung, insyaallah ketika aku sudah siap kita akan bertemu.
Salam cinta dari Intan
Assalamualaikum
...----------------...
" Tampaknya kau sedang senang, memangnya apa tulisannya?" tanya Arfi yang penasaran.
" Kau nggak boleh tau." ucapnya yang langsung menyembunyikan surat tersebut dan kini Arfi menjadi penasaran.
" Jangan-jangan dari Dafa ya, tapi kok bisa sama cewek itu." ucap Arfi dengan berfikir sangat keras.
" Memang bukan dari Dafa." jawabnya kemudian langsung pergi meninggalkan Arfi.
Arfi yang sudah sangat penasaran, ia berlari mengejar Hana. Kini ia sudah sangat ingin mengetahui isi dari surat tersebut, walaupun ia tau surat itu tidak terlalu penting. Keduanya pun melakukan kejar-kejaran, hingga tanpa mereka sadari ada yang memvidio keduanya kemudian mengirimkannya kepada Dafa.
...----------------...
" Lihat saja tingkah pacarmu ketika kau tidak di kampus." tulis pesan anonim tersebut.
" Apa sih yang ia kirim." ucap Dafa yang penasaran.
Dafa pun akhirnya membuka vidio tersebut, ia sangat bahagia karena sahabatnya bisa dekat dengan kekasihnya. Ia kini menjadi penasaran dengan orang yang mengirimkan vidio tersebut, ia menebak orang tersebut ingin menghancurkan hubungannya dengan Hana. Ia pun langsung menelpon Hana, ia sengaja menggunakan suara yang keras.
" Hana." ucapnya dengan suara keras.
" Me-mengapa kau manggilku seperti itu?" tanyanya yang tersentak.
" Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya masih dengan keras.
" Lihat sekitar, ada yang ingin menghancurkan hubung kita." pesan Dafa dari WhatsApp.
" Apa maksud dari pesan Dafa ya?" batinnya yang kebingungan.
" Kenapa nggak kau jawab?" bentaknya dengan kuat lagi.
" Hei Dafa, bisa tidak kau jangan marah-marah. Hana sedang sama aku." ucap Arfi yang sudah terpancing emosi mendengar omongan Dafa.
__ADS_1
" Mampus kalian, aku akan menghancurkan hingga kalian." ucapnya kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Aku sedang berbicara dengan Hana, kembalikan handphonenya ke Hana!" perintahnya dan akhirnya Arfi pun langsung menyerahkan handphone kepada Hana.
" Sudahlah jangan marah-marah, aku sudah tau orangnya. Dan dia sudah pergi." jawab Hana dan Arfi pun menjadi bingung.
" Apa maksudmu Hana?" tanyanya yang tidak mengerti.
" Kita bahas itu nanti, kalau ada yang denger bisa bahaya." ucap Hana dengan sedikit berbisik.
" Yauda, kalian hati-hati ya. Takutnya ia berulah kembali, aku takut terjadi sesuatu padamu. Jadi diri baik-baik ya, dan buat Arfi, aku titip Hana ya." ucapnya dan keduanya pun mengangguk.
" Iya, aku akan jaga diri." jawab Hana.
" Kalau soal jaga Hana, aku sih nggak masalah. Hanya saja aku masih belum mengerti dengan maksud pembicaraan mu." ucapnya yang memang tidak mengerti.
" Aku akan jelaskan lewat chat nanti malam." jelas Dafa.
" Yauda aku tunggu ya." jawabnya kemudian sambungan telepon pun terputus.
" Hana, kau bisa jelaskan?" tanya Arfi.
" Aku nggak bisa jelaskan, lebih baik kau tanya langsung aja sama Dafa!" ucapnya dan Arfi pun mengangguk, walaupun saat ini dia sedang penasaran.
Hana langsung pergi meninggalkan Arfi disaat ia masih bingung dengan situasi yang terjadi, setelah ia tersadar. Ia pun langsung mencari keberadaan Hana, tetapi kini Hana sudah menjauh dari pandangannya. Dan niatnya untuk membaca surat yang membuat Hana bahagia menjadi batal.
" Semoga kau bahagia selalu." ucapnya dengan menatap kepergian Hana.
...----------------...
" Sudah, semuanya sudah beres." jawab Kalisa.
" Thanks ya Sa, kalau nggak ada kau. Aku nggak tau harus bagaimana, hehehe." ucap Intan dengan tertawa dan menepuk pundak Kalisa.
" Makasih sih makasih, tapi nggak mukul juga kali. Sakit tau, kau mau juga ku pukul." ucap Kalisa yang kesal dengan menatap Intan sinis.
" Jangan dong, aku minta maaf." ucapnya dengan menyatukan kedua tangannya.
" Untung kau itu sahabatku, kalau kau bukan sahabatku udah habis ku buat." ucap Kalisa dan keduanya pun langsung tertawa.
" Tampaknya kalian sangat bahagia?" tanya Nasyifa yang memperhatikan keduanya.
" Ih kepo." ucap Kalisa.
" Udahlah, kalian ini kalau jumpa kayak tikus dan kucing." keluh Intan.
" Habisnya dia buat sensi." ucap Kalisa.
__ADS_1
" Mana ada ya, yang benar itu kau yang buat sensi." ucap Nasyifa yang tidak terima.
" Sudah-sudah, kalian berdua nggak pernah ada yang mau ngalah. Buat kepala jadi pusing aja." ucap Intan yang sudah bosan dengan situasi.
" Ayo masuk, dosen datang." ucap seorang mahasiswa dengan berlari, dan kini mereka langsung duduk di kursi mereka masing-masing.
" Selamat siang." ucap dosen itu dengan ramah.
" Siang pak." jawab semuanya serentak.
" Mari kita lanjutkan perkuliahan kita." ucapnya dengan tersenyum, tetapi justru membuat para mahasiswa menjadi tegang karena perubahan sikap dosen tersebut.
...----------------...
" Bunda, uda siap semaunya?" tanya Wildan yang baru sampai di rumah Dafa.
" Sudah kak, sekarang tinggal pindah aja." jawab Mawar dengan tersenyum.
" Kalau begitu ayo bunda, kebetulan rumahnya nggak jauh dari sini." ucapnya dengan membawa tas milik Mawar.
" Alhamdulillah kalau begitu, bunda jadi senang dengarnya." jawabnya, kemudian mereka pun segera pergi menuju motor Wildan.
Wildan membawa motor dengan sangat perlahan, ia takut bundanya akan marah jika ia balapan. Dan juga takut bila terjadi sesuatu di jalan, ia baru bertemu dengan bundanya. Karena itu ia sangat tidak ingin kehilangan sang bunda, dan ia rela melakukan apapun demi kebahagiaan bunda dan juga adiknya.
Tak terasa mereka sudah tiba di rumah baru, Mawar tampak senang melihat rumah tersebut. Walaupun tidak besar, tetapi rumah itu kelihatan sangat nyaman. Dengan pekarangan yang terbilang besar, membuat Mawar ingin menanam sesuatu untuk penghias pekarangan rumahnya.
" Rumahnya bagus, pekarangannya juga lumayan besar." ucap Mawar dengan melihat sekeliling.
" Sesuai dengan keinginan bunda, rumah tidak terlalu besar. Tetapi memiliki pekarangan, karena bunda dan Hana sangat menyukai bunga." ucapnya dengan tersenyum.
" Kau memang selalu tau apa yang bunda inginkan, terimakasih ya kak." ucapnya dengan mengelus bahu Wildan.
" Untuk bunda dan Hana, pastinya akan selalu Wildan kasih yang terbaik." jawabnya dengan tersenyum.
" Kau memang hebat, kau sangat menyayangi Hana." ucapnya dengan berderai air mata.
" Ya namanya Hana ada adikku bunda, pastinya aku sangat menyayangi Hana." jawabnya dengan tersenyum.
" Yang kau katakan memang benar, seandainya adikmu yang satu masih ada. Pastinya hidup kita akan bertambah bahagia." batin Mawar dengan berderai air mata.
" Bunda kenapa menangis, nggak boleh ada air mata yang mengalir di wajah bunda. Bunda hanya boleh tersenyum, jadi jangan nangis lagi ya bunda." ucapnya dengan menghapus air mata Mawar, dan kini Mawar pun mengangguk.
# Hai teman-teman, nafras up ya. Maaf ni, nafras lagi sibuk. Biasalah karena masuk ajaran baru, nafras akan usahakan untuk up terus. Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Naura Abyasya
2. Rela Walau Sesak
__ADS_1
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna