
" Eh maaf, ummi ganggu ya?" tanya ummi yang membuat mereka bingung harus mengatakan apa.
" iya."
" Nggak."
Jawab keduanya yang berbeda, dan membuat ummi menjadi bingung. Tapi sebenarnya ummi tau kalau Hana tidak masalah, tetapi Dafa menjadi marah padanya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi, karena melihat wajah putranya yang sangat masam.
" Ummi mau kemana?" tanya Hana yang melihat ummi Dafa ingin keluar.
" Ummi tiba-tiba teringat sesuatu, jadi kalian lanjut aja ya." ucap ummi.
" Eh ummi, jangan gitu dong." ucapnya dengan tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara telepon, dan ternyata telepon Hana yang berbunyi. Ia tampak kebingungan, karena yang menelponnya adalah bundanya. Ummi yang melihat itu akhirnya mendekati Hana.
" Siapa yang telpon?" tanya ummi.
" Bunda tante." ucapnya yang masih bingung.
" Kalau gitu angkat la." ucap ummi.
" Hana takut dimarahin sama bunda." ucapnya dengan jujur.
" Oh iya ini uda sore ya." ucap ummi dan dalam sekejap Dafa pun juga menjadi takut.
" Yauda kalau gitu, sini ummi yang angkat." ucapnya dengan memberikan tangannya, kemudian Hana pun langsung menyerahkan telponnya pada ummi. Dengan sigap ummi pun langsung mengangkat telepon itu.
" Halo mawar, apa kabar?" ucapnya langsung ketika mengangkat.
" Aku lagi nggak salah denger kan, ini beneran kau Anggun." ucap Bunda Mawar yang tidak percaya.
" Iya ini aku Mawar." jawabnya dengan santai.
" Gimana bisa, Kau kenapa bisa ketemu dengan anakku?" tanya bunda mawar yang merasa heran.
" Ya bisalah, namanya juga jalur jodoh." ucap ummi Anggun dan membuat Bunda Mawar terheran.
__ADS_1
" Jalur jodoh, maksudnya apa nih aku nggak ngerti." ucapnya ya bingung.
" Dafa itu anakku." ucapnya dan Bunda mawar pun sontak saja terkaget.
" Apa, Wow ini di luar dugaan." ucap Bunda mawar yang masih tidak percaya.
" Yah ini memang di luar dugaan, niatnya sih aku mau jodohin sama anak pertama aku. Nggak tahunya malah ketemu sama anak bungsu aku." ucap ummi Anggun dan membuat Bunda Mawar hanya tertawa saja.
" Ya udahlah mau gimana lagi, ini semua sorotan takdir. Yang penting janji kita tetap terlaksana." balas Bunda Mawar yang merasa sangat bahagia.
" Iya juga ya, ya udahlah itu memang jalannya takdir. aku kangen nih sama kamu, aku pengen ketemu bisa nggak?" ucap umi dan membuat Bunda sangat bahagia.
" Sama aku juga kangen, sekarang ini aja. kebetulan karena si Hana lagi di sana, gimana kalau kamu yang antar dia ke rumah." ucap Bunda dan ummi hanya mengangkut saja.
" Eh iya juga ya, ya udah si Hana Aku yang antar ke rumah." ucap ummi yang langsung menjawab tanpa memikirkan anaknya.
" Ya udah kalau gitu aku tunggu di rumah ya, aku jadi penasaran sama wajahmu Setelah sekian lama." ucap Bunda yang memang sangat menantikan kehadiran ummi Anggun.
" Sama aku juga penasaran sama wajah kamu, masak yang enak ya. Aku udah kangen banget sama masakanmu, ya walaupun udah sempat terobati dengan masakan Hana." ucap ummi yang tanpa sadar keceplosan.
" Ya mau gimana lagi, gara-gara ulah anak sulungku anak bungsuku jadi sakit." jawabnya dengan ada juga tidak suka.
" Eh Si Daffa sakit?" tanya bunda.
" Iya dia sakit." jawab ummi dengan malas.
" Dikunciin tadi sama si Bayu, nggak tahunya gitu dibukain pintu udah pingsan." ucap ummi dengan jujur.
" Memang dikunci di mana, sampai bisa sakit?" tanya bunda yang sudah sangat penasaran, Iya sangat curiga dengan alasan Dafa sakit.
" Dikunciin di gudang tadi." ucap ummi dengan jujur.
" Ngapain dikunciin di gudang?" tanya bunda yang sudah sangat penasaran.
" Niat awalnya sih biar si Hana sama Dafa nggak bareng, karena aku mau melakukan inspeksi." ucapnya dengan jujur dan tidak memikirkan apa yang dia katakan.
" Apa inspeksi, wah-wah berarti anakku baru kau sidang." ucap Bunda yang sudah mulai curiga.
__ADS_1
" Awalnya sih iya mau ke sidang, tapi begitu melihat wajahnya. Aku jadi teringat dengan dirimu, gagal deh nyidangnya. Hehehe." jawab umi sambil tertawa dan sontak saja Hana dan juga Dafa menjadi penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh uminya dan juga bunda.
" Wah suara Alhamdulillah kalau gitu, ternyata ada untungnya juga putri bungsu kuning mirip denganku. Kalau nggak udah habis ya di sini sama kau, mana kau galak bener pula." jawab Bunda tanpa rasa berdosa.
" Ih dasar dirimu ya Mawar, selalu aja buat aku marah. Tapi kali ini nggak apa-apa deh, asal kita benar-benar jadi besan hehehe." ucap ummi kemudian langsung mematikan sambungan telepon, karena ia tahu kalau Mawar pastinya akan marah.
" Nah handphone mu, ayo sekarang ummi antar pulang." ucap ummi dengan mengembalikan handphone Hana, dan kemudian menarik lengan Hana untuk diantar pulang.
" Ummi Hana mau dibawa ke mana?" tanya Dafa yang masih terbaring lemas.
" Ya mau ummi antar pulang lah." ucap umi dengan santai dan tampak tidak memperdulikan putranya itu.
" Ummi biar Dafa aja yang antar, ummi di rumah aja. Nanti ummi capek lagi." ucap Dafa dengan wajah memohon.
" Kau yang mau antar Hana, kau aja masih lemas. Lagian ummi mau ketemu sama bundanya Hana." jawab ummi tanpa basa-basi dan membuat dapat terheran.
" Ummi kenal sama Bunda Mawar?" tanya Dafa yang tampak kebingungan.
" Kenal dong, Bundanya Hana Ini sahabatnya ummi." jawab ummi dengan tersenyum.
" Jangan bilang kalau yang mau Bunda jodohin sama Kak Bayu itu Hana?" tanya Dafa dan membuat Hana dan juga Bayu yang baru saja hadir tersentuh.
" Eh kalau ngomong jangan macam-macam ya, aku tuh udah punya pacar." ucap Bayu dengan sedikit emosi.
" Orang tadi ummi bilang Hana anak sahabatnya, kan pikiranku jadi travelling." jawab Bayu dengan sedikit lembut karena takut melihat tatapan sang kakak.
" Yang dikatakan Dafa benar ummi?" tanyanya dengan menatap sang ummi.
" Ya seharusnya sih begitu, awalnya ummi mau menghubungi untuk membatalkannya. Eh nggak tahunya rupanya malah pacaran sama Si Dafa, ya udah deh nggak jadi sama Bayu sama Dafa pun jadi." ucap ummi Anggun kemudian membawa lari Hana dari ruangan tersebut.
Bayu dan Dafa terdiam, keduanya saling menatap. kemudian mereka menggelengkan kepalanya, karena melihat tingkah umminya yang tampak seperti anak kecil.
" Makin ke sini ummi makin terlihat seperti anak kecil ya." ucap Bayu dengan menatap kepergian sang ummi.
" Ya begitulah Kak, mau bagaimanapun ummi tetaplah ummi kita." jawab Dafa dan mendapat anggukan dari Bayu.
" Yang kau katakan memang benar Dafa, dan Makasih ya. Kalau bukan karena kamu membawa Hana ke sini, dan memperkenalkannya sebagai pacarmu. Mungkin aku akan dijodohkan dengan Hana, dan aku nggak tahu nasib hubunganku dengan pacarku. Karena seperti yang kau tahu, kita akan sangat sulit menentang perkataan Abi dan juga ummi." ucap Bayu dan Dafa hanya mengangguk saja.
__ADS_1