Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 81


__ADS_3

" Yang kau katakan memang benar, kita nggak akan bisa merebut Wildan dari pacarnya." ucap mahasiswi itu.


" Yuk kita berangkat, nanti Anas nunggunya kelamaan." ucap Wildan.


" Kak Rio ikut?" tanya Intan.


" Iya dia ikut, lagian Rio uda tau dari awal. Bahkan yang menemani kami menyelidiki selama ini adalah Rio." jelas Wildan dan Intan pun kaget.


" Jadi kak Rio uda tau semuanya?" ucap Intan dengan menutup mulutnya karena suaranya sedikit keras.


" Ya begitulah, sudahlah ayo kita pergi." ucap Rio yang sudah malas menjadi obat nyamuk.


Intan pun segera naik ke atas motor Wildan, mereka pun segera meluncur ke tempat yang sudah mereka sepakati. Kini mereka sudah sampai di tempat tersebut, tampaklah Anas Tengah duduk sendirian. Mereka pun langsung menghampiri Anas, dan Anas langsung memeluk adik kecilnya itu.


" Apa kabarmu Intan?" tanya Anas dengan tersenyum.


" Alhamdulillah aku baik-baik saja kak." jawabnya dengan tersenyum.


" Cie udah pacaran beneran, awalnya niatnya mau pacaran bohongan. Nggak tahunya sekarang malah pacaran beneran." ucap Anas dengan menggoda adiknya tersebut.


" Karena jangan ngomong gitu ah, kan aku jadi malu." jawab Intan kemudian menundukkan wajahnya.


" Apa tadi, malu. Aku nggak salah dengar kan, seorang Intan merasa malu." goda Anas.


" Sudah Anas, kau jangan menggoda pacarku terus." ucap Wildan.


" Ya udah deh, aku nggak akan goda pacarmu lagi. Lagian kita kumpul di sini karena ada yang mau kita bicarakan bukan, apa info yang kalian bawa?" tanya Anas yang penasaran.


" Apa udah saatnya ya kita bongkar semuanya." ucap Wildan dan membuat Anas kaget.

__ADS_1


" Kenapa kau berpikir seperti itu, bukannya kau yang merencanakan untuk membongkar disaat yang tepat ya. Dan aku rasa saat ini waktunya belum tepat, dan lagian bukti yang kita kumpulkan masih sedikit." jelasnya.


" Aku kasihan sama adikku, si Gina selalu saja berbuat semena-mena padanya. Padahal dia bukan siapa-siapa di keluarga kami, tapi dia selalu sok berkuasa." jelas Wildan yang tiba-tiba saja terbayang wajah adiknya.


" Aku tahu kau sangat menyayangi adikmu, tapi sepertinya kita tidak bisa membuka nya sekarang. Situasi saat ini sangat tidak tepat, apalagi mereka belum ada membuat siasat yang bisa kita tebak. Takutnya mereka sudah menyiapkan senjata, dan nantinya justru kita yang masuk ke dalam jebakan mereka." jelas Anas yang mengantisipasi.


" Lalu kita harus melakukan apa, aku sangat tidak tega melihat adikku." jelasnya.


" Kita akan kumpulkan bukti dalam satu bulan ini, agar kita bisa memperkuat apa yang akan kita tuntut. Dan agar mereka tidak bisa berkutik, dan dapat mengakui apa yang telah mereka perbuat." jelas Anas yang sudah terbakar api emosi.


" Tetapi aku mengkhawatirkan adikku." ucapnya.


" Kalau begitu, kita suruh orang untuk mengikuti adikmu. Dengan begitu kau bisa tenang." ucapnya memberi usul.


" Kalau untuk soal itu sih sudah ada yang menjaganya, ternyata ayahku selama ini mengirim bodyguard secara diam-diam untuk menjaga Hana. Tetapi perasaanku masih Tidak enak saja, jujur saja aku tidak ingin kehilangan adik satu-satunya." jelasnya.


" Kalau begitu kau bisa tenang, om Yuda sudah mengantisipasi semuanya. Aku yakin saat ini Om Yuda pasti juga sedang mengumpulkan bukti, tahanlah untuk sebulan ini. Aku yakin kita pasti bisa menemukan bukti yang kuat, agar si Tami dan anaknya Gina bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucapnya yang tiba-tiba emosi dan mengepalkan tangannya.


" Aku ikut membantu kalian ya." ucap Intan dan keduanya pun menggelengkan kepala.


" Kenapa kalian menggeleng?" tanyanya yang tidak mengerti.


" Misi ini sangat berbahaya, dan aku tidak ingin kau terluka." ucap Wildan dan Anas pun mengangguk.


" Yang dikatakan oleh Wildan benar, lebih baik kamu duduk manis aja ya. Kamu tidak usah ikut campur dalam misi ini, kamu hanya perlu duduk manis dan memantau keadaan Gina. Biar kami yang mencari bukti-bukti tentang kejahatan mereka, dan akan menjelaskan mereka ke dalam penjara." jelas Anas.


" Tetapi aku ingin membantu kakak, lagian tujuan awal aku juga ingin membalaskan dendam kepada mereka." jelasnya.


" Kakak tahu tujuanmu dek, tetapi Kakak tidak ingin dirimu dalam bahaya. Kau cukup duduk diam dan menyaksikan saja, perlahan-lahan kehidupan mereka pasti akan hancur. Apalagi mereka juga menyinggung banyak orang, dan pastinya kakak yakin tidak hanya kita saja yang ingin balas dendam pada mereka. Tetapi masih banyak orang di luar sana yang ingin membalaskan dendam pada mereka, dan kita tidak perlu terburu-buru." jelas Anas.

__ADS_1


" Iya yang kakak katakan memang benar, bahkan tanpa kita perlu bertindak sudah banyak orang yang bertindak untuk mencelakai mereka." jelas Intan yang sering menyaksikan kejadian tersebut.


" Nah itu kamu sudah tahu dek, karena itu kita tidak perlu bekerja dengan terlalu keras. Kita cukup bekerja dengan perlahan, dan aku yakin semuanya pasti akan terkuat." ucapnya yang memang sudah sangat menantikannya.


" Kalau begitu Apa rencana kita untuk Hana?" tanya Rio yang tiba-tiba saja angkat suara.


" Aku akan bilang pada bawahanku, agar mereka menjaga hanya dari kejauhan. Dengan begitu Hana tidak akan menyadarinya, dan kita semua juga bisa memikirkan rencana berikutnya." jelasnya dan semuanya pun mengangguk.


" Kalau begitu aku tenang." ucap Wildan.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan tentang rencana berikutnya, Intan yang sudah bosan tanpa sadar ia pun tertidur. Wildan dan juga Anas terus menatap Intan.


" Aku titip Intan ya, aku yakin kau bisa menjaganya." ucapnya dengan tersenyum.


" Aku akan menjaganya sebisa mungkin, dan aku tidak akan membiarkan ada yang menyakitinya." ucapnya dengan antusias.


" Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya. Kebetulan aku masih harus menyelesaikan kegiatanku agar bisa magang." jelasnya yang kini memang sedang sibuk.


" Kalau begitu kau hati-hati ya, kita akan bahas rencana berikutnya di pertemuan berikutnya." ucap Wildan dan mereka pun mengangguk.


Anas pun segera keluar dari cafe tersebut, kini Wildan pun mencoba untuk membangunkan Intan. Perlahan-lahan Intan pun membuka matanya, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat tidak ada Anas di sana.


" Kak Anas mana?" tanyanya yang tidak menemukan Anas.


" Si Anas baru aja pulang." ucapnya dan membuat Intan kaget.


" Apa." teriaknya dan membuat mereka menjadi pusat perhatian.


" Kecilkan suaramu sayang, kakakmu sudah pulang." ucap Wildan dan Intan pun menutup mulutnya.

__ADS_1


" Maaf ya, aku tadi hanya kaget saja. Dan lagi kenapa Kak Anas gak izin sama aku, kan dia cukup nyebelin." ucapnya dengan nada manja dan Rio pun merasa seperti obat nyamuk.


__ADS_2