
" Yang kau katakan boleh di coba dek, tapi kita nggak bisa biarkan bunda lama-lama di sana." ucap Wildan.
" Lalu bagaimana kak?" tanya Hana.
" Untuk saat ini kakak juga nggak ada pilihan lain, tapi kita harus menjelaskan terlebih dahulu tentang Angel pada umminya Dafa." jelas Wildan.
" Sepertinya memang harus begitu kak, dari pada bunda berbahaya di sini." jawab Hana.
Mereka pun segera pergi kerumah Dafa, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Hana dan keluarganya datang malam-malam.
" Ada apa?" tanya Gayatri dengan langsung menggenggam tangan Mawar.
" Maaf ummi, apakah untuk sementara kami boleh menginap di sini?" tanya Wildan.
" Tentu saja boleh, tapi kalau boleh tau ada masalah apa ya?" tanya Gayatri yang penasaran.
" Tadi Angel datang kerumah." ucap Wildan dan membuat Cahaya dan Dafa pun kaget.
" Bagaimana bisa dia datang?" tanya Cahaya dengan nada tinggi.
" Aku juga nggak tau, tadi ketika aku pulang. Aku sudah melihatnya di dalam rumah." jelas Wildan.
" Yauda, kalau begitu bunda di sini aja. Akan sangat berbahaya ketika bunda sendiri di rumah." ucap Cahya dan kini kedua orangtuanya kebingungan.
" Memangnya Angel itu siapa?" tanya Gayatri.
" Gimana ya jelasinnya…." ucap Wildan yang sedang kebingungan.
" Biar Cahaya aja yang ngejelasin siapa itu Angel." ucapnya dan Wildan pun mengangguk.
" Memang Angel itu berbahaya?" tanya Gayatri yang penasaran.
" Angel itu adalah anak dari salah satu dosen, dia itu menyukai Wildan. Tetapi Wildan tidak menyukainya sama sekali, dan ia adalah orang yang nekat. Bahkan aku masih ingat, waktu itu ia pernah membully Hana karena ia kira Hana adalah orang yang mendekati Wildan." jelasnya dan membuat semuanya yang mendengar tersentak.
" Kalau begitu, ia adalah orang yang nekat dan sangat berbahaya." ucap Gayatri.
" Ya begitulah ummi, jadi untuk sekarang lebih baik bunda di sini dulu." ucap Cahaya.
" Kalau perlu sampai ia dipastikan benar-benar menghilang pun gpp Mawar di sini, ya kan abi." ucap Gayatri dengan meminta persetujuan dari suaminya.
Sang suami tidak menjawab, ia hanya mengangguk saja pertanda setuju dengan apa yang disampaikan oleh isterinya.
" Makasih ya." ucap Mawar dengan tersenyum.
__ADS_1
" Yauda ayo kita masuk." ucap Gayatri kemudian langsung menghantar Mawar menuju kamar tamu.
" Ini kamar mu Mawar, Hana biar sama Cahaya aja dan Wildan sama Bayu putra sulungku." ucap Gayatri.
" Tidak tante, saya hanya akan menitipkan bunda dan Hana. Saya tidak ingin nantinya Angel mengetahui posisi bunda dan juga Hana, karena hal itu bisa sangat membahayakan tante sekeluarga." ucap Wildan.
" Yang dikatakan Wildan benar mi, kalau begitu lebih baik kita rahasiakan saja keberadaan bunda dan juga Hana di sini." ucap Cahaya yang memperkuat argumen Wildan.
" Ya sudah kalau itu yang terbaik, nak Wildan harus jaga diri baik-baik ya. Umi yakin dia pasti sedang mencari kalian, umi takut dia berbuat sesuatu yang sangat nekat seperti yang kalian katakan tadi." jelas umi yang memang khawatir pada Wildan.
" Umi tenang aja ya, Wildan nggak akan kenapa-kenapa. Wildan titip bunda dan juga Hana ya umi, Wildan takut terjadi sesuatu bila meninggalkan bunda dan Hana di rumah." ucapnya yang memang ketakutan dan tidak ingin kehilangan.
" Kau tenang saja nak Wildan, umi akan menjaga bunda dan adik kamu." ucap Gayatri dengan tersenyum.
" Kamu hati-hati ya nak." ucap Mawar dengan mengelus kepala putranya.
" Iya bunda." jawabnya dengan mencium tangan bundanya, kemudian ia segera pergi dari rumah Daffa.
...----------------...
kini di rumah Intan sedang ramai, Bara sejak tadi menggoda adiknya. Hingga membuat keributan di rumah tersebut, Intan yang merasa kesal akhirnya ia pergi ke kamarnya. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintunya, dan ia pun mempersilahkannya masuk.
Tok
Tok
Tok
Masuk aja, pintunya nggak dikunci." ucapnya dari dalam.
Pintu pun terbuka, dan ternyata mamanya yang datang.
" Eh mama, sini ma." ucapnya dengan tersenyum.
" Kau sedang kesal ya?" tanya Dania mama dari Intan.
" Nggak kok ma." jawabnya.
" Kau nggak usa bohong sayang, mama tau kau bagiamana." ucapnya dengan mengelus rambut putrinya.
" Iya deh Intan jujur, Intan sedang kesal dengan kak Bara ma. Dari tadi kak Bara terus-menerus gangguin intan." ucapnya dengan memajukan bibirnya.
" Kau tau kakak mu kan sayang, dia mah cuma di mulut aja ngomong begitu." jelas Dania.
__ADS_1
" Iya ma, aku ngerti. Cuma aku uda terlanjur kesal sama kak Bara." jawabnya.
" Jangan gitu dong sayang, kalian itu anak mama. Masa kalian mau bertengkar, kalian apa uda nggak sayang lagi sama mama?" ucapnya dengan ekspresi sedih.
" Tentu aja aku sayang mama." ucapnya kemudian langsung memeluk mamanya.
" Kalau begitu kalian jangan bertengkar ya, demi mama." ucapnya dengan tersenyum.
" Oke, tapi ini demi mama." ucapnya dengan tersenyum.
" Yauda gpp, yang terpenting kalian harus akur. Lagian nggak enak dilihat, masa kakak adik bertengkar. Coba kau tanya sama pacarmu, dia pernah bertengkar tidak dengan adiknya!" ucap Dania.
" Pastinya pernah lha ma." jawabnya langsung.
" Kau yakin sayang?" tanya Dania.
" Hehehe, nggak yakin si ma." jawabnya dengan tertawa.
" Kalau begitu, mending kau tanya langsung aja ke dia." ucap Dania dan Intan pun mengangguk.
" Coba perkataan mama di renungkan dulu." tambahnya kemudian langsung pergi meninggalkan anak bungsunya tersebut.
Kini Intan sedang kepikiran dengan perkataan mamanya, ia pun akhirnya menelpon sang kekasih yaitu Wildan. Dengan sigap Wildan pun langsung mengangkat telepon tersebut, walaupun saat ini ia sedang berada di tengah perjalanan.
" Ada apa sayang?" tanya Wildan untuk mengawali telepon.
" Kamu sedang sibuk sayang?" tanyanya untuk memastikan tidak mengganggu.
" Aku nggak sibuk kok, memangnya ada apa?" tanya Wildan yang penasaran.
" Aku mau cerita, tapi aku takut ganggu kamu." ucapnya dengan pelan karena takut Wildan tersinggung.
" Kalau mau cerita, ya tinggal cerita aja sayang. Sesibuk apapun aku, aku pasti akan meluangkan waktu untukmu." ucap Wildan dan membuat Intan tersipu malu.
" Kamu bisa aja sih." jawabnya yang memang sudah tersipu.
" Aku ngomong beneran sayang, bahkan aku menepikan motorku di pinggir jalan loh untuk mengangkat telepon darimu." jawab Wildan yang jujur.
" Sayang belum sampai rumah, ya udah ceritanya nanti aja. Sayang pulang dulu, nanti kalau udah sampai kabarin aku." ucapnya yang kaget karena Wildan masih di tengah jalan.
" Nggak apa-apa lho sayang, lama nanti kalau nunggu aku sampai rumah." ucapnya dengan jujur, karena ia memang belum berniat untuk kembali ke rumah.
" Nggak bisa gitu, lama pun nggak masalah. yang terpenting sayang sampai rumah dulu, bahaya tahu ngangkat telepon malam-malam di tengah jalan." jelasnya yang khawatir.
__ADS_1