Derai Yang Terbendung

Derai Yang Terbendung
Hana 24


__ADS_3

" Uda Dafa, kami juga gpp. Mungkin dia cuma salah paham aja." jelas Hana untuk menenangkan Dafa.


" Tapi dia itu loh, mulutnya nggak bisa di jaga." ucapnya kesal.


" Udalah Dafa, yang dibilang sama Hana ada benarnya. Jadi sekarang kau tenangkan diri, soal mereka kita urus nanti ya. Coba kau lihat sekeliling, kita sedang jadi pusat perhatian." jelas Gina.


Dafa pun langsung melihat sekelilingnya, dan benar saja mereka menjadi pusat perhatian. Dafa yang merasa tidak nyaman, akhirnya ia pun menarik tangan Hana dan Gina. Mereka kini berpindah tempat ke lorong kampus, dan belum lama mereka berada di sana. Tiba-tiba saja pak Gilang datang, ia masih menatap Hana dan Gina dengan serius. Akan tetapi ia hanya melewatinya saja, dan pergi bersama dengan seorangpun dosen perempuan.


Mereka bertiga tidak mengatakan apapun, mereka hanya memperhatikan pak Gilang. Hingga sosok pak Gilang menghilang dari pandangan mereka, dan mereka menjadi penasaran dengan sosok dosen perempuan yang cantik. Yang tadi pergi bersama dengan pak Gilang, hal itu terus berputar di dalam pikiran mereka.


Mereka terus memikirkan hal itu, hingga tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Dan tiba-tiba terdengar bel pertanda masuk jam berikutnya, dan mereka yang mendengar pun langsung berlari menuju kelas. Dan kini mereka juga dikagetkan dengan kecekatan dosennya, karena di dalam ruangan belum ada siapapun. Tetapi dosen tersebut sudah ada di dalam ruangan kelas.


" Silakan masuk." ucap dosen cantik itu.


Mereka tidak menjawab perkataan dosen itu, tetapi mereka hanya mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya menuju kursi yang tersedia. Perlahan-lahan ruangan tersebut terisi, dosen itu pun memperkenalkan diri sebelum memulai pembelajaran.


" Baik karena semua sudah masuk, perkenalkan nama Ibu Laura Sinta, kalian bisa panggil saya Bu Laura." ucapnya dengan senyuman.


" Baik Bu." jawab mereka serentak.


" Ok kalau begitu ibu mau kita perkenalkan dulu, di mulai dari ujung sebelah sana!" ucapnya.


Mereka pun mulai memperkenalkan diri, hingga tidak terasa kini sudah sampai giliran Hana. Semua tampak antusias, mereka sudah tidak sabar untuk mendengar nama Hana. Bahkan dosen itu juga, karena sejak tadi kecantikan Hana sudah mencuri perhatian semuanya.


" Perkenalkan nama saya Luhana Handra, biasanya dipanggil Hana. Saya lulusan dari SMA Tadawi, yang letaknya tidak jauh dari sini." jelas Hana.


" Oh kau lulusan SMA Tadawi, pantas saja seperti tidak asing. Oh iya tadi kau bilang namamu Luhana ya, kalau gitu kau siswi yang berhasil mengharumkan nama sekolah di olimpiade fisika ya?" tanya Bu Laura, dan semuanya tampak sangat penasaran.


" Iya." jawabnya dengan singkat, dan semuanya tersenyum.


Mereka pun mulai berbisik di belakang, mereka semua sangat kagum dan bahagia. Karena mereka bisa satu kelas dengan orang yang meraka kagumi. Dan bahkan kabar yang mereka dengar tentang kecantikan Hana juga memang benar adanya.

__ADS_1


" Saya kira kabar yang mengatakan kalau Hana si cantik SMA Tadawi kuliah di kampus ini bohongan." ucapnya.


Semuanya tersenyum, termasuk wanita yang sempat menghina Hana tadi. Kelas pun berjalan dengan lancar, hingga tidak terasa jam pelajaran pun habis. Satu demi satu mereka pun keluar, kini ketiga memutuskan untuk langsung pulang. Hana langsung menuju ke gerbang untuk menunggu ojek langganannya, tiba-tiba saja datanglah Wildan dan Rio.


" Hai Hana." ucapnya yang tiba-tiba dan mengagetkan Hana.


" Eh kak Wildan dan kak Rio." ucapnya setenang mungkin, padahal dia sedang kaget.


" Lagi nunggu jemputan ya, gimana kalau kita antar aja." ucap Rio.


" Nggak usa kak, Hana nggak enak ngerepotin." ucapnya yang sungkan.


" Udalah Hana, sekalian kami juga mau lihat Tina. Sebenarnya kami nggak tau mau bawak apa, jadi aja kau. Hehehe." ucap Rio sambil tertawa, dan membuat Hana dan Wildan juga ikut tertawa.


" Memangnya kak Tina kenapa?" tanyanya yang penasaran.


" Tadi pagi dia jatuh di kamar mandi." jawab Wildan, dan Hana pun terkejut.


" Tadi pagi si kata ayahnya hanya terkilir, tapi belum tau juga sih. Makannya ini mau lihat ke sana." jawab Wildan.


" Hana ikut ya, plis." ucapnya Rio dengan memohon.


" Yauda aku ikut." jawabnya


" Yauda kau di bonceng sama Wildan." ucapnya sambil melajukan kendaraannya.


" Eh Rio." teriak Wildan, Hana hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.


" Yuada Hana ayo, nanti kita di tinggal sama Rio." ucapnya.


Hana pun langsung naik ke kendaraan Wildan, setelah itu mereka langsung berangkat menuju toko buah. Mereka sibuk memilih-milih buah, sedangkan Rio hanya duduk di kendaraannya saja. Rio terus memainkan hp, ia memotret Hana dan Wildan kemudian ia mengirimnya ke Tina.

__ADS_1


Hubungan keduanya yang sempat canggung itu, kini menjadi akrab karena Hana dan juga Wildan. Mereka mulai membahas rencana untuk menyatukan keduanya, mereka terus saling chat hingga tidak terasa Hana dan Wildan pun telah selesai memilih buah. Kemudian mereka langsung pergi ke rumah Tina.


...----------------...


" Apa yang kau lihat sambil senyum-senyum." ucap seorang pemuda yang baru saja datang ke kamar Tina, dan sontak saja Tina kaget mendengarnya.


" Zico, kau ngapain disini?" tanyanya.


" Ya melihat mu la, kata om dan tante kau sedang sakit." jawabnya.


" Ala, alasan kan kau. Apa tujuanmu sebenarnya?" tanyanya yang tidak percaya.


" Iya, aku memang ada tujuan. Dan tujuan ku adalah kembali pada mu." ucapnya dengan tersenyum.


Tiba-tiba saja Hana, Wildan, dan Rio pun tiba. Dan mereka sempat mendengar kata-kata yang membuat salah sangka, mereka langsung masuk. Tetapi wajah Rio tampak tidak senang, apalagi ia juga tau siapa pemuda itu. Ya pemuda itu adalah mantan pacar dari Tina, yang sempat ketahuan selingkuh oleh mereka. Dan ia juga di hajar habis-habisan sama Wildan dan Rio.


Hana yang tidak mengetahui siapa Zico, ia terus tersenyum. Dan ia mengira kalau Zico adalah pacar dari Tina. Ia mencoba menyapa, dan meminta maaf karena menurutnya ia sedang mengganggu kebersamaan keduanya.


" Kakak pacarnya kak Tina ya, maaf ya mengganggu." ucapnya.


" Iya benar, sepertinya aku tidak pernah melihat mu. Kau siapa ya?" tanyanya Zico.


" Aku Ha..." ucapnya yang tiba-tiba terhenti karena di potong oleh Wildan.


" Nggak penting dia siapa, kau nggak perlu tau Zico. Dan kau, ngapain kau disini." Bentak Wildan.


" Ngapain aku disini, ya aku mau lihat pacarku la." jawabnya santai.


" Pacarmu, we aku nggak salah denger. Si tukang selingkuh ini, tadi bilang kalau dia pacar Tina. Bukannya mereka uda putus karena dia ketahuan selingkuh ya?" tanyanya Wildan dengan nada kesal.


" Iya maaf, aku tau aku salah. Karena itu aku mau minta maaf." ucapnya dengan lembut dan memohon.

__ADS_1


__ADS_2