
" Kau memang yang paling tahu tentang ayah. Yauda mandi sana, kau sudah sangat bau." ucapnya dengan tersenyum dan mencubit lengan putranya.
Wildan pun langsung berlari menuju kamarnya, Sesampainya di kamar bukannya ia langsung mandi. Ia langsung menelpon Rio dan juga Tina, untuk memberitahukan kabar bahagianya tersebut. Baginya Rio dan Tina bukanlah orang lain, karena mereka sudah berteman sangat lama.
" Halo guys." ucapnya pada saat video call dengan kedua sahabatnya itu.
" Tumben nih bahagia banget, kira-kira ada kabar bahagia apa nih?" tanya Rio yang penasaran.
" Kalian ingat nggak aku pernah bilang kalau aku sangat merindukan Bunda dan adikku." ucap Wildan mulai percakapan.
" Iya ingat, Terus apa hubungannya?" tanyanya kembali.
" Tentu ada hubungannya dong, karena besok aku akan bertemu dengan Bunda di situ adikku." aku jawabnya dengan tersenyum dan membuat kedua temannya itu terkaget.
" Apa yang benar, pantas saja kau sangat bahagia. Jadi kapan kau akan bertemu dengannya?" ucapkan yang ikut bahagia.
" Besok jam 3 sore, ayah akan mempertemukan aku dengan Bunda dan juga adikku." ucapnya dengan tersenyum sangat lebar, Rio dan Tina yang memdengar juga ikut bahagia.
" Ya udah kalau besok kita temenin gimana?" hanya Rio mengajukan diri.
" Boleh aku juga senang kalau kalian mau ikut." ucapnya dengan tersenyum.
Tidak lama setelah itu, handphone Wildan pun mati karena kehabisan baterai. Ia pun langsung mencharger teleponnya tersebut, dan kemudian pergi untuk mandi. Tetapi sebelum itu ia mengechat temannya Tina dan juga Rio untuk memberitahukan kalau baterai handphone yang habis.
...----------------...
__ADS_1
Tidak terasa matahari pagi pun terbit, cahayanya yang masuk dari salah-salah membangunkan Hana. Hana kini bangun dengan suasana hati yang sangat gembira, tanpa butuh waktu lama Ia pun melakukan rutinitas paginya seperti biasa. Kemudian ia bersiap untuk pergi ke kampus.
Sesampainya di kampus ia langsung menemui Dafa dan juga Gina, akhirnya ia pun menceritakan kisah kehidupannya kepada kedua sahabatnya itu. Dafa dan Gina yang mendengar cerita itu, mereka pun menangis terharu. Mereka sangat tidak menyangka kalau hanya ternyata menyimpan pilu yang sangat menyakitkan, dan itu juga yang membuatnya enggan untuk bercerita kepada mereka. Tetapi kini pilu itu telah terobati, karena akhirnya ia akan bertemu dengan ayahnya dan juga kakaknya.
Cahaya yang tanpa sengaja mendengar berita itu, ia pun langsung menyampaikannya kepada Wildan. Sontak saja Wildan pun merasa kaget, dan juga merasakan heran. Karena apa yang dikatakan oleh Cahaya mengenai Hana, sangat sama dengan apa yang dia rasakan. Kini pikirannya mulai melayang-layang, dan dia mulai menduga-duga kalau Hana adalah adiknya.
Wildan pun mulai menyiapkan hatinya, bila kemungkinan yang terjadi adalah benar kalau Hana adalah adiknya. Maka ia harus melupakan khayalannya tentang menjalin hubungan dengan Hana, dan harus menerima kalau Hana adalah adiknya.
Akhirnya tiba waktunya untuk bertemu dengan bunda dan adiknya, Wildan pun segera pergi menuju tempat yang telah di kirimkan oleh sang ayah. Ketika ia sampai, disana hanya ada ayahnya dan bundanya. Wildan langsung memeluk sang bunda.
" Bunda, Wildan rindu sama bunda." ucapnya dengan meneteskan airmata.
" Bunda juga sayang, bagaimana keadaan mu?" tanyanya dengan menatap Wildan.
" Aku baik, kalau bunda gimana?" tanya Wildan.
Tiba-tiba saja Hana pun tiba, ia pun merasa heran karena sang bunda memeluk orang yang ia kenal. Ia terdiam sejenak, dan pikirannya ntah kemana.
" Hana, kau sudah tiba." ucap sang bunda dengan berjalan menghampiri Hana.
Pak Yuda dan juga Wildan pun menghadap ke arah sosok yang disebut Hana oleh bundanya. Wildan pun sempat kaget, tetapi ia sudah menduga sebelum. Jadi ia tidak terlalu terkejut, kalau Hana ternyata adalah adiknya.
" Kau Hana." ucap Pak Yuda yang langsung memeluk Hana, walaupun belum mendapatkan jawaban.
Hana masih diam mematung, ia masih belum bisa mencerna situasi yang terjadi saat ini. Sosok yang ia rindukan kini telah berada di hadapannya, tetapi ia belum bisa menerimanya. Apalagi ia sempat mendengar cerita dari Wildan, tentang ayah mereka.
__ADS_1
" Lepaskan." ucapnya kemudian berlari pergi meninggalkan tempat itu.
Bunda Mawar ingin mengejar Hana, tetapi di hentikan oleh Wildan. Dan kini Wildan lah yang mengejar adiknya itu, ia yakin kalau adiknya itu pasti masih belum menerima semuanya. Apalagi tentang kedekatan mereka beberapa hari ini, yang menciptakan rasa yang sulit dimengerti. Dan sekarang semua harus berubah menjadi status kakak dan adik.
Bunda Mawar dan ayah Yuda sangat kebingungan, karena mereka tidak mengetahui situasi yang sedang di alami oleh Hana. Mereka terus menunggu di tempat itu, tetapi mereka masih belum mendapatkan kabar dari putranya. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk mencari keduanya.
" Hana, kakak tau ini berat bagi mu dek. Tapi inilah kebenarannya, jadi kau harus menerimanya." ucap Wildan dengan berteriak.
" Kakak bilang ini berat, kakak tau itu. Tapi kakak seperti biasa saja, hanya aku yang merasakannya." ucapnya dengan meneteskan airmata.
" Dek kakak tau, sebenarnya tadi pagi kakak sudah seperti yang kau lakukan saat ini bahkan lebih, tapi kakak mencoba untuk meyakinkan diri. Kalau itu bukan kau, tapi ternyata memang adalah kau. Dan kakak sudah sempat kaget tadi, tapi aku berusaha untuk biasa saja. Karena bilang ayah dan Bunda mengetahui, pastinya mereka akan kecewa sama kita dek." jelas Wildan.
" Lalu bagaimana dengan kita kak, dan hubungan kita selama beberapa hari ini. Nggak nyangka sekarang harus berubah menjadi adik dan kakak." ucap Hana.
" Ya mau bagaimana lagi, ini sudah takdir kita dek. Tapi setidaknya kita harus bersyukur karena kita dipertemukan." jelas Wildan.
" Yauda Hana akan mencoba untuk melupakan semua, dan menganggap kakak sebagai kakak Hana. Tapi mungkin Hana masih perlu waktu kak." jawabnya.
" Iya kakak ngerti, kita akan mencoba dari awal dan melupakan semuanya." ucapnya kemudian mereka berpelukan.
Bunda Mawar dan ayah Yuda, tanpa sengaja melihat keduanya yang berpelukan dan menangis. Mereka tidak mengetahui apa-apa mengira kalau Hana telah menerima Wildan sebagai kakaknya. Dan mereka pun tersenyum bahagia. Mereka pun menghampiri keduanya, kemudian menyapanya. Dan ikut bergabung dalam pelukan itu.
" Syukurlah kalau kalian sudah bisa menerimanya." ucapnya.
Keduanya hanya mengangguk saja, dan tidak menjawab. Kemudian mereka kembali ke cafe tempat mereka tadi janjian, walaupun semuanya tidak berjalan dengan rencana mereka, tetapi mereka tetap merasa bahagia karena keluarga kecilnya dapat berkumpul.
__ADS_1
Mereka mulai memesan makanan, dan bercerita tentang makanan apa saja yang tidak bisa dimakan oleh Hana. Karena pada mereka berpisah dulu Hana masih sangat kecil dan bahkan belum bisa memakan makanan, jadi mereka banyak membahas tentang Hana.